BROKEN HOME DAN PERKEMBANGAN ANAK

Sri Mulyani Nasution

Angka perceraian setiap tahunnya terus bertambah tiga kali lipat sejak tahun 1960 (Harvey & Pauwels, 1999). Sepertiga perkawinan pertama dalam sepuluh tahun terakhir berujung pada perceraian (Bramlet & Mosher, 2001). Konsekuensi dari tingginya angka perceraian tersebut adalah ditemukannya lebih dari satu juta anak terlibat dalam situasi perceraian setiap tahunnya (Papalia, Olds, Feldman, 2004).

Perceraian tentunya memiliki dampak tertentu, terutama bagi anak-anak korban perceraian. Di antara dampak Perceraian antara lain:
1. Tergantung pada usia, kematangan, gender, temperamen, kondisi psikologis, dan penyesuaian sosial sebelum perceraian.
2. Anak-anak yang lebih muda biasanya lebih cemas tentang perceraian, tetapi mereka akan lebih cepat beradaptasi dibandingkan anak-anak yang lebih tua yang lebih memahami apa yang sedang terjadi. Anak laki2 lebih sulit menyesuaikan diri dibanding anak perempuan.
3. Masalah emosional dan masalah perilaku bisa jadi berakar dari konflik di antara orang tua (parental), baik sebelum maupun setelah perceraian.
4. Bila orangtua dapat mengontrol kemarahan, bekerjasama dalam melakukan tugas sebagai orangtua, menghindarkan diri dari bertengkar di hadapan anak-anak maka anak-anak tidak akan mengalami banyak masalah.

Namun demikian, kondisi yang seringkali tejadi adalah ketegangan akibat perceraian menjadikan sulitnya orangtua (terutama bila berperan tunggal) menjadi orangtua yang efektif.

Pada generasi sebelumnya – dimana angka perceraian tidak sebesar saat ini – ada semacam keyakinan bahwa pasangan yang bermasalah harus tetap mempertahankan perkawinan demi kepentingan anak-anak. Namun kenyataan yang terjadi percekcokan orangtua justru seringkali melukai perasaan anak (Marital Strife Harms Children).

Perceraian kemudian dianggap sebagai solusi yang tepat apabila pernikahan tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi kesejahteraan pasangan dan anak akibat percekcokan yang terus menerus.
Contoh Kasus (Jacobs, L.R. 2011):

1. Kasus 1

“Saya adalah orangtua tunggal. Seperti yang lainnya saya punya alasan sendiri mengapa harus bercerai. Bagi saya perceraian merupakan jalan keluar dari masalah, seperti kekerasan dan penyalahgunaan obat. Jadi perceraian bukan masalah, tapi bisa jadi sebuah solusi.”

2. Kasus 2

“Pada awal perjalanan saya sebagai orang tua tunggal saya benar-benar berada dalam situasi broken home dengan seorang orangtua yang sangat hancur: SAYA. Saya benar-benar sangat hancur sampai-sampai anak-anak saya seolah tidak memiliki seorang ibu di dalam rumah. Mereka hanya memiliki seorang dewasa frustrasi yang tinggal dengan mereka. Dengan berjalannya waktu, saya kemudian tersadar dan mulai bangkit.
Anak-anak saya tumbuh dengan baik saat ini, mereka menjadi anak-anak yang mampu berkontribusi dalam masyarakat. Mereka tidak tumbuh dalam keluarga broken home, tetapi dalam keluarga dengan orang tua tunggal.”

QS. Al Insyirah/94: 6-8
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh–‐ sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb–‐ mu lah hendaknya kamu berharap.”

Sebuah hasil penelitian jangka panjang (Hetherington & Stanley Hagan dalam Papalia, Olds & Feldman, 2004) menunjukkan bahwa:
1. Hanya 30% dari perceraian yang dipenuhi percekcokan yang berdampak baik bagi anak.
2. 70% perceraian, termasuk yang hanya memiliki sedikit konflik akan berdampak lebih baik bagi anak bila perkawinan dipertahankan, setidaknya sampai mereka tumbuh besar.
3. Apabila konflik terus berlanjut setelah perceraian, anak lebih baik berada dalam perkawinan yang dipenuhi percekcokan, daripada berada dalam perceraian yang terus berkonflik.
4. Apabila konflik berkurang setelah perceraian, maka anak lebih baik berada dalam kondisi perceraian daripada sebelumnya.

Pada dasarnya manusia menerjemahkan berbagai pengalaman hidup secara berbeda (Thinking Style/Gaya Berpikir). Bagaimana seseorang menganalisa dan menginterpretasi kejadian-kejadian dalam hidupnya, cara seseorang merespon suatu situasi akan menentukan respon emosionalnya terhadap kejadian yang ia alami dan sekaligus akan menentukan bagaimana perilakunya dalam menghadapi peristiwa tersebut. Misalnya saja, seseorang mungkin menganggap perceraian sebagai penderitaan, namun bagi individu lainnya hanya dianggap sebagai kondisi yang dibutuhkan untuk menghindarkan diri dari kehancuran. Thinking style kemudian akan menentukan level resiliensi seseorang, yaitu kemampuan untuk bangkit dari situasi penuh resiko atau penderitaan yang tergolong parah, misalnya kondisi perceraian.

Agar dapat menghindari dampak perceraian yang merusak, seorang ibu harus memiliki kemampuan resiliensi agar ia tidak melupakan fungsi penting dan peran yang harus ia jalankan sebagai ibu.

Fungsi Penting Ibu dalam Perkawinan
1. Memberikan cinta dan kasih sayang kepada suami dan anak-anak.
2. Menyediakan rasa aman dan rasa diterima agar hidup terasa berarti dan berharga.
3. Menunjang pencapaian kebutuhan-kebutuhan untuk seluruh keluarga.
4. Memberikan kepuasan fisik dan psikis termasuk kepuasan seksual.
5. Menyediakan status sosial dan kesempatan sosialisasi.

Peran Ibu dalam keluarga:
1. Selalu siap membantu
2. Menjaga perasaan anggota keluarga
3. Berempati
4. Memiliki rasa toleransi yang tinggi
5. Mampu mengendalikan diri

Dengan kata lain, seorang ibu harus selalu siap membantu permasalahan anak. Ibu harus mampu menjadi duta dalam keluarga yang mampu bernegosiasi menengahi berbagai pihak dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di antara anggota keluarga. Kemampuan seorang ibu untuk tetap menjalankan fungsinya secara baik akan menghasilkan bentuk keluarga dengan orang tua tunggal yang tetap harmonis (harmonious single-parent).

Broken home bukan Disfungsi

Kenyataaan di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak-anak dari keluarga broken home tidak mengalami disfungsi.
Contoh Kasus:
“Keluarga saya tidak broken, bahkan tidak pernah mengalami disfungsi (terganggu atau tidak berfungsi secara normal). Saya bercerai setelah tujuh tahun perkawinan dan setelah perceraian tersebut menurut saya keluarga saya tetap berfungsi secara baik.” (“Broken Home …, 2001)

Kesimpulan

Tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Keluarga Bahagia menjadi dambaan setiap anak dan setiap pasangan. Namun, bila perceraian sulit dihindarkan, upayakan agar anak tumbuh dalam lingkungan orang tua (baik tunggal ataupun kedua pasangan berbagi peran) yang tetap dijaga keharmonisannya.

DAFTAR PUSTAKA

Bramlet, M.D. & Mosher, W.D. 2001. First Marriage Dissolution, divorced and Remarriage: United States. Hyattsville, MD.: National Centre for Health Statistic.

“Broken Home is Not a Functional Term”. 10 Oktober 2001. Epinions.com. diakses 12 Oktober 2011.

Harvey, J.H. & Pauwels, B.G. 1999. Recents Developments in Close-Relationships Theory. Current Directions in Psychological Science.

Jacobs, L.R. 2011. Your Home Is Not Broken. Parents World. Sunday, July 10, 2011 04:01 AM. Diakses 12 Juli 2011.

Papalia, DE., Olds, SW., Feldman, RD. 2004. Human Development. New York-USA: McGraw-Hill.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 133 other followers