Plastik Berbayar

Heboh plastik berbayar bikin saya senyum2 sendiri. Masyarakat kita memang msh banyak yg jauh dari info2 terkini. Saya jadi teringat banyaknya kejadian yg saya alami berkaitan dgn masalah seperti ini.

Waktu masih ngajar, saya menolak makalah yg dijilid. Saya selalu mencantumkan di kontrak perkuliahan dan aturan ini saya sampaikan di pertemuan pertama. Biasanya saya mencoba memancing mahasiswa tentang alasan memberlakukan peraturan ini. Kebanyakan mahasiswa akan menjawab bahwa tanpa menjilid akan lebih hemat. Hanya sedikit mahasiswa yang mengetahui alasan sebenarnya. Ironisnya, ketika makalah dikumpulkan, 1/3 mahasiswa masih saja menjilid tugas mereka dengan cover plastik dan kertas buffalo. Alasannya simple: takut dianggap gak sopan, atau mengaku tidak mengetahui peraturannya.

Pengalaman belanja lebih menggelikan lagi. Tidak sedikit kasir yang tidak paham konsep ‘go green’. Saat saya minta untuk memakai tas yg saya bawa sendiri, mereka akan menolaknya dengan mengatakan, gak apa2 bu, pake ini saja; seolah khawatir diajak berhemat. Pengalaman terlucu ketika belanja di toko obat *entur* di kawasan Tebet Timur. Kasirnya berusaha sangat keras memaksa agar belanjaan saya tetap memakai kantong plastik mereka. Pada kesempatan berikutnya, si Kasir pura2 tidak mendengar permintaan saya, dan menaruh belanjaan sy di kantong plastik secara sembunyi2 dan cepat2 menguncinya dengan struk belanja dan staples, dan menyodorkannya pada saya $×#@^&¥¥€=$/^

Ada saatnya masyarakat kita memang harus dipaksa untuk sesuatu yg bermanfaat bagi kebaikannya sendiri. Laiknya memperlakukan balita tantrum, abaikan saja mereka yg berteriak dan menolak aturan plastik berbayar.

Jakarta, 25 Februari 2016