PASSION

Kemarin sore sy dapat kesempatan mewawancara seorang deputy director sebuah perusahaan nasional (sebut saja Y) yg sedang berkembang. Kalaupun saya sebut nama perusahaannya, kemungkinan besar Anda tidak mengenal perusahaan tersebut; kecuali yg memang pernah memiliki keterkaitan dengan perusahaan ini. Kalau saya menyebut Unilever atau Pertamina, saya pastikan Anda semua tau. Klu gak tau, ya kebangetan. Selama ini kemana aja?

Sebagai lulusan ITB dengan IP tinggi (didukung kepribadian dan sikap kerja yg baik), Bapak X (Deputy Director yg saya ceritakan di atas), tentu sangat mudah mendapatkan pekerjaan yg diimpikan banyak orang. Setelah lulus, beliau langsung diterima di Unilever, namun hanya bertahan 4 bulan. Tak berselang lama, beliau diterima di Pertamina, tapi hanya bertahan 2 bulan!! Mungkin Anda akan dengan mudah memberi penilaian, bahwa Bapak X tidak memiliki komitmen yg tinggi atas pilihannya, atau bukan org yg gigih, atau apapun label negatif yg secara spontan bermunculan di benak Anda dan dengan tdk sabar ingin Anda ungkapkan

Saya coba menjadi pendengar yg baik, sebelum menjatuhkan penilaian saya. Bapak X yg Sarjana Teknik Kimia ini ternyata sangat mengutamakan chemistry dalam memilih pekerjaan. Ia memiliki passion yg besar di bidang kimia, dan ingin bekerja sesuai passionnya. Itu alasannya keluar dari Unilever dan Pertamina; krn tidak ditempatkan pd tugas yg sesuai passionnya. Beliau memilih bekerja di perusahaan (yang ketika itu masih) kecil, namun memberi keleluasaan baginya untuk berkreasi di bidang yg ia suka.

Bagi Bapak X, targetnya dalam bekerja, bukan semata2 uang. Enjoy dan terkoneksi menjadi syarat untuk memiliki passion terhadap pekerjaan sehingga akan mampu memberi kontribusi lebih. Secara kebetulan, pagi ini saya menemukan pernyataan yg sejalan dari Penulis buku sekaligus Career Coach, Rene Suhardono. Menurutnya, passion sama dengan tujuan hidup. Semakin jelas apa yang ingin dilakukan, semakin jelas dan tegas pula cara mewujudkannya. Jika sudah menemukan passion, tentu dapat melakukan pekerjaan lebih maksimal.

Dengan passion, Bapak X mampu bertahan di perusahaan Y sampai saat ini (16 tahun), dan dengan bahagia melihat pertumbuhan perusahaan, layaknya ia melihat pertumbuhan anak2nya (ini analogi yg beliau berikan).

Kamis, 3 September 2015

Tulisan yg awalnya sy tulis di status fesbuk. Semoga memberi manfaat yg lbh luas.