PIKIR NEGATIF, SIKAP NEGATIF LAKU NEGATIF

Masih tentang go-jek.

Moda transportasi ini mulai jadi langganan saya, meski tidak rutin. Saat ini, bagi saya masih cukup menarik untuk mencari tau jati diri para pengendara beserta seluk-beluk go-jeknya. Wawancara sepanjang perjalanan menjadi media yg saya gunakan (Yes! Interview is my life :D).

Minggu2 terakhir ini, memesan gojek terasa agak sulit. Aplikasinya lemot, sehingga perlu waktu dan  kesabaran untuk mendapatkan driver. Meski pada akhirnya berhasil mendapatkan driver, namun para pengendara ini masih berada pada radius yg jarak tempuhnya di atas 20 menit. Kalau tdk bersedia menunggu, pastinya harus membatalkan.

Sabtu sore yang lalu, karena tidak mungkin menunggu, saya putuskan naik ojek biasa. Baru saja duduk manis di boncengan, rasa ingin tau saya mulai terasa menggelitik. Apa sebenarnya yg menjdi alasan para pengojek biasa ini tidak bergabung dengan go-jek? Mesku sebelumnya saya sdh mendapatkan informasi dari para pengendara go-jek (di antara alasannya adalah persyaratan yg kurang lengkap, seperti ijazah, surat2 motor, identitas diri, dll.); namun info dari
bersangkutan tentunya akan lbh akurat.

Apa kata mereka?

“Gak ah bu. Aplikasinya sering lemot. Teman saya dalam sehari cuma dapat1 pelanggan. Kan rugi….”. Trus aneh jg ya bu, itu perusahaannya dapat penghasilan darimana? Si Bapak mulai bernada2 gosip. Untung punya dikit pengetahuan ttg ini, dan sy jelaskan. Responnya? Nah, itu dia bu… keenakan perusahaannya. Mereka untung banyak dari situ, sementara kami cuma dikasih dikit. Berarti kami cuma dijadikan kuda sama mereka.

Gubrak!! Terserah bapak aja deh.

Pengen maju atau tidak memang sangat tergantung pada pola pikir seseorang.

Senin, 14 September 2015

#latepost #go-jek