AFDHAL VERSUS AMAN

Tahun ini, terulang lg tragedi Mina. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…..
Saya teringat tragedi yg mirip di tahun 2004. Meski di tempat yg berbeda, namun dgn tujuan yg sama:  Lempar jumrah.

Saya berada di Mina ketika tragedi 2004 terjadi. Di penginapan terjadi beberapa perdebatan antara Jamaah dengan penyelenggara (pihak swasta), antara jamaah dengan pembimbing, dan antara penyelenggara dengan pembimbing. Di lokasi jumrah, bahkan terjadi perdebatan antar sesama jamaah.

Ketika itu, pembimbing haji menyarankan untuk menunda waktu pelaksanaan lempar jumrah karena situasi yg tdk memungkinkan (mengancam keselamatan). Sayangnya beberapa jamaah tdk setuju krn menganggap waktu yg disarankan bukan waktu yang afdhal untuk melontar jumrah. Tiadanya kata sepakat dalam perdebatan ini berujung perpecahan antara pihak penyelenggara dan pembimbing haji, karena dasar pertimbangan yg berbeda. Penyelenggara memutuskan membawa jamaah yg ingin melontar di waktu afdhal, sedangkan pembimbing membawa jamaah yg ingin melontar di waktu yg aman. Saya berada di rombongan kedua.

Saat itulah terjadi tragedi yg menewaskan sekitar 250 jemaah. Alhamdulillah di antara jamaah yg wafat tidak ada yg berasal dari rombongan kami. Saya dan rombongan pembimbing haji berangkat ke lokasi setelah peristiwa maut itu terjadi. Masih terlihat tumpukan sepatu dan sandal yg menggunung dari para korban. Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Di lokasi, masih juga terjadi perdebatan ketika pembimbing mengatur sirkulasi rombongan yg akan melontar, terutama ketika pihak pembimbing jamaah melarang para ibu untuk melontar dengan pertimbangan keselamatan. Beberapa jamaah sangat ngotot untuk tetap melakukannya sendiri meski nyawanya terancam. Padahal lempar jumrah ini bisa diwakilkan. Untunglah tidak beberapa lama situasi mulai memungkinkan, meski tetap harus memakai strategi.

Persoalan keselamatan, yg juga berkontribusi bagi keselamatan orang lain mestinya menjadi pertimbangan kita dalam bertindak. Dalam hal ini, saya tdk memandang situasi ini sbgi upaya untuk menyelamatkan diri sendiri saja, tp jg menyelamatkan banyak nyawa. Yang paling penting adalah niat. Upaya maksimal untuk menghindari musibah yg tidak diinginkan adalah keharusan. Selebihnya marilah berserah diri pada Allah semata.

11 Zulhijjah 1436 Hijriyah