HOMESCHOOLING DAN PENDIDIKAN ISLAM

Sri Mulyani  Nasution

A.    Pendahuluan

 Sulitnya mencari sekolah ideal bagi anak-anak menjadi isu yang sering diperbincangkan belakangan ini di kalangan orangtua yang memiliki anak usia sekolah. Tak dapat dipungkiri bahwa standar sekolah ideal yang diinginkan para orangtua maupun pemerhati pendidikan menjadi semakin sulit untuk ditemukan. Kerapkali sekolah formal tidak mampu mengembangkan inteligensi anak, sebab sistem sekolah formal justru seringkali memasung inteligensi anak. Ketidakpedulian para praktisi pendidikan terhadap kondisi psikologis anak seringkali dianggap sebagai penyebab situasi ini. Di sisi lain, bergesernya motif pendidikan dari ranah sosial ke ranah bisnis juga menjadi satu faktor yang paling menentukan. Belum lagi faktor sumberdaya manusia (dalam hal ini para guru) yang sudah sangat jauh dari idealisme pendidik. Kondisi ini bertambah lengkap ketika pemerintah tidak memberikan perhatian serius dalam menuntaskan masalah-masalah pendidikan, terutama untuk memberikan subsidi yang ‘berarti’ bagi dunia pendidikan. Padahal, pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kemajuan suatu bangsa.

Adalah hal yang wajar bila setiap orang tua menghendaki anak-anaknya mendapat pendidikan bermutu, nilai-nilai iman dan moral yang tertanam baik, dan suasana belajar yang menyenangkan. Kerapkali hal-hal tersebut tidak ditemukan di sekolah umum. Banyaknya keluhan tentang kondisi sekolah yang jauh dari harapan orangtua memunculkan isu yang relatif baru bagi alternatif pendidikan formal yang selama ini kita kenal, yaitu sekolah-rumah (homeschooling). Muncullah ide dari para orangtua untuk “menyekolahkan” anak-anaknya di rumah dalam sebuah lembaga sekolah yang disebut homeschooling atau dikenal juga dengan istilah sekolah mandiri, atau home education atau home based learning.[1]

Belakangan, setelah dipopulerkan oleh beberapa pakar, sebagian orangtua mulai menganggap homeschooling sebagai solusi bagi ketidakpuasan atas kondisi sekolah pada umumnya, di antaranya akibat kurikulum yang demikian berat dan dianggap sangat membebani anak. Baik di mancanegara maupun di Indonesia, kegagalan sekolah formal dalam menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik menjadi pemicu untuk menyelenggarakan homeschooling. Sekolah rumah ini dinilai dapat menghasilkan didikan bermutu karena mempertimbangkan profil inteligensi ganda (multiple Intelligence) yang dimiliki setiap anak, dan ini tidak bisa ditemukan di sekolah formal.

Sebagai konsekuensinya, homeschooling (Sekolah Rumah) saat ini mulai menjadi salah satu model pilihan orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya dalam bidang pendidikan. Pilihan ini muncul karena adanya pandangan para orang tua tentang pentingnya kesesuaian minat anak-anaknya. Homeschooling ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri.”[2]

B.     Definisi

 Homeschooling atau homeschool (juga disebut home education atau home learning) adalah pendidikan anak-anak yang diselenggarakan di rumah, secara umum dilakukan oleh orangtua namun kadangkala oleh tutor (guru pemandu). Pelaksanaannya di luar setting formal sekolah publik atau privat. Walaupun, secara umum pendidikan anak yang berlangsung dalam keluarga atau komunitas berlandaskan pada hukum wajib belajar (compulsory school), homeschooling dalam pemahaman modern merupakan alternatif pendidikan formal. di negara berkembang. Homeschooling merupakan sebuah sekolah dengan alternatif pendekatan dan metodologi pengajaran “link & mach yang cenderung praktis dan katanya lebih efektif mengelaborasi esensi pendidikan dengan aplikasi skill peserta didik.

Homeschooling menjadi alternatif pendidikan yang legal –di banyak tempat– bagi para orangtua yang ingin memenuhi kebutuhan anaknya akan lingkungan belajar yang lebih baik. Merupakan alternatif pilihan disamping sekolah-sekolah publik yang telah disediakan pemerintah. Orangtua memiliki beragam motivasi kenapa memilih homeschooling, di antaranya adalah hasil tes akademis siswa homeschooling yang lebih baik; miskinnya lingkungan sekolah publik; mengembangkan karakter atau moralitas; serta kurangnya penerimaan terhadap apa yang diajarkan di sekolah umum lokal. Bisa jadi hal ini merupakan salah satu faktor dalam gaya pengasuhan orang tua. Bisa jadi juga merupakan salah satu alternatif pilihan bagi keluarga yang tinggal di daerah pinggiran yang terisolasi atau mungkin tinggal sementara di luar kota.

Homeschooling bisa jadi juga berupa instruksi/modul-modul yang diberikan di rumah namun tetap di bawah supervisi sekolah korespondensi/mitra (correspondence schools) sekolah yang menaungi (umbrella schools). Di beberapa tempat, anak-anak yang akan mengikuti homeschooling dituntut untuk mengikuti kurikulum yang disetujui secara legal.Filosofi homeschooling yang curriculum-free bisa jadi dianggap sebagai unschooling, suatu terma yang diciptakan pada tahun 1977 oleh tokoh pendidikan John Holt dalam majalahnya Growing Without Schooling.[3]

C.    Sejarah Homeschooling

Menurut sejarah di berbagai budaya, guru-guru profesional hanya tersedia bagi lingkungan elit, baik sebagai tutor maupun dalam lingkungan akademis formal. Sampai saat ini, sebagian besar orang dididik oleh orangtuanya (terutama pendidikan masa kanak-kanak, di lapangan atau dalam mempelajari tata cara berdagang).

Filosofi berdirinya sekolah rumah adalah “manusia pada dasarnya makhluk belajar dan senang belajar sehingga tidak perlu ditunjukkan bagaimana cara belajar. Yang membunuh kesenangan belajar adalah orang-orang yang berusaha menyelak, mengatur, atau mengontrolnya” (John Cadlwell Holt dalam bukunya How Children Fail, 1964). Dipicu oleh filosofi tersebut, pada tahun 1960-an terjadilah perbincangan dan perdebatan luas mengenai pendidikan sekolah dan sistem sekolah. Sebagai guru dan pengamat anak dan pendidikan, Holt mengatakan bahwa kegagalan akademis pada siswa tidak ditentukan oleh kurangnya usaha pada sistem sekolah, tetapi disebabkan oleh sistem sekolah itu sendiri.[4]

Pada waktu yang hampir bersamaan, akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, Ray dan Dorothy Moor melakukan penelitian mengenai kecenderungan orang tua menyekolahkan anak lebih awal (early childhood education). Penelitian mereka menunjukkan bahwa memasukkan anak-anak pada sekolah formal sebelum usia 8-12 tahun bukan hanya tak efektif, tetapi sesungguhnya juga berakibat buruk bagi anak-anak, khususnya anak-anak laki-laki karena keterlambatan kedewasaan mereka.[5]

Setelah pemikirannya tentang kegagalan sistem sekolah mendapat tanggapan luas, Holt sendiri kemudian menerbitkan karyanya yang lain Instead of Education; Ways to Help People Do Things Better, (1976). Buku ini pun mendapat sambutan hangat dari para orangtua homeschooling di berbagai penjuru Amerika Serikat. Pada tahun 1977, Holt menerbitkan majalah untuk pendidikan di rumah yang diberi nama: Growing Without Schooling.[6]Serupa dengan Holt, Ray dan Dorothy Moore kemudian menjadi pendukung dan konsultan penting homeschooling. Setelah itu, homeschooling terus berkembang dengan berbagai alasan. Selain karena alasan keyakinan (beliefs), pertumbuhan homeschooling juga banyak dipicu oleh ketidakpuasan atas sistem pendidikan di sekolah formal.

Pada saat bersamaan, para penulis menerbitkan buku yang mempertanyakan tentang wajib belajar, termasuk ide Deschooling Society by Ivan Illich, 1970 dan No More Public School by Harold Bennet di tahun 1972. Konsep Deschooling Society yang dilontarkan Illich (disamping Paulo Freiri dan Everett Reimer) tersebut tak urung memberikan inspirasi pada Prof Azyumardi Azra –seorang cendekiawan Muslim Indonesia— dengan konsepnya tentang Universitas Rakyat. Di Universitas Rakyat, kurikulum dan materi yang dikembangkan tidak terikat. Bidang ilmu dan keahlian apa saja bisa dipelajari dan dikembangkan di sini. Sedangkan metode pengajaran yang digunakan tidak pula ditentukan secara ketat dan formal, ia bebas dan bisa berubah terus sesuai dengan konsensus ”guru” dan ”murid”. Metode pengajaran tidak dipersoalkan, karena yang penting pelajaran dan keahlian dapat dikuasai.[7]

Pada tahun 1976, Holt menerbitkan buku Instead of Education; Ways to Help People Do Things Better. Ia terpanggil menulis “Children’s Underground Railroad” untuk membantu anak-anak terbebas dari wajib belajar. Sebagai responnya,  Holt dihubungi para keluarga dari seluruh USA untuk menyatakan kepadanya bahwa mereka mendidik anak mereka di rumah. Setelah berhubungan dengan beberapa keluarga, Holt mulai memproduksi majalah yang ia dedikasikan bagi pendidikan rumah.: Growing Without Schooling.[8]

Pada tahun 1980, Holt mengatakan, “Saya ingin menjelaskan bahwa saya tidak melihat homeschooling sebagai jawaban bagi keburukan sekolah. Saya rasa rumah memang menjadi dasar untuk mengeksplorasi dunia yang kita namakan sebagai belajar atau pendidikan. Rumah menjadi tempat terbaik, sebaik apapun sekolah yang ada. Holt kemudian menulis buku tentang homeschooling, “Teach Your Own”,  pada tahun 1981.[9]

Satu tema umum yang terdapat pada filosofi Holt dan Moores adalah bahwa pendidikan rumah seharusnya bukan merupakan usaha membawa konstruk sekolah ke rumah, atau memandang pendidikan sebagai pengantar akademis dalam kehidupan. Mereka memandangnya sebagai sesuatu yang alami, aspek pengalaman hidup yang muncul ketika anggota keluarga terlibat satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari.

 D.    Model Homeschooling dalam Sistem Pendidikan Islam

Sejarah lembaga dan organisasi pendidikan Islam menggambarkan betapa lembaga dan kurikulum yang baku bukanlah suatu yang utama dalam pendidikan, tetapi, guru, materi yang diminati dan tempat belajar yang didukung sarana dan prasarana belajar yang memadai menjadi hal utama yang sangat berperan dalam perolehan ilmu para ilmuan Muslim masa klasik. Berikut gambaran organisasi pendidikan Muslim klasik.

Maktab atau Kuttab

(sekolah menulis)

1)     Masjid

 

1)  Bait-al-Hikma
2)     Halaqah

 

2)  Bookshops sebagai pusat penelitian
3)       Madrasah, di luar masjid, menawarkan disiplin sekolah lanjutan dan perguruan tinggi. 3) Literary salons (perpustakaan?) sebagai tempat bertukar pikiran dan  memperdebatkan berbagai isu.
Usia 5/6 sampai 14 tahun

Elementary (Sekolah Dasar)

Sampai usia 18 atasnya

Secondary (sekolah lanjutan) sampai perguruan tinggi

Transisi dari sekolah lanjutan ke perguruan tinggi sangat fleksibel dan didasarkan kepada inisiatif individu.

Pendidikan universitas dan pendidikan pasca sarjana

4)   Dilakukan di perpustakaan umum, semi umum dan perpustakaan pribadi di rumah-rumah para mahasiswa, sebagai pusat penelitian dan pusat belajar bagi para akademisi.

Pendidikan tinggi juga juga dilakukan di masjid-masjid secara ekslusif, misalnya di al-Azhar.

Gambar 1: Organisasi Pendidikan Muslim, 750 – 1350.[10]

Di Kairo pada abad 14-15 didominasi oleh madrasah, Masjid dan tempat suci para sufi yang didesain dan dibangun sebagai tempat bernaung dan penginapan bagi para pelajar dan guru-guru dan menjadi forum bagi kelas-kelas mereka. Persebaran institusi-institusi tersebut tidak terjadi karena upaya formalisasi proses pendidikan. Hukum Islam tidak memberikan pada mereka identitas organisasi; tidak dibangun metode yang menjamin strata institusi. Semua sistem tetap sebagaimana adanya. Sepenuhnya non sistematik.[11]

Menurut Prof. Syaiful Akhyar Lubis,[12] dalam dunia pendidikan Islam dikenal adanya dua sistem pendidikan, yakni yang tradisional dan modern. Pendidikan tradisional menghendaki perkembangan individu yang utuh atas dasar kemampuan dan minat masing-masing. Setiap orang bebas memilih muatan pendidikan yang sesuai dengan kondisinya. Layanan individual dalam sistem ini mendapat porsi yang wajar. Aspek kesadaran dan motivasi intrinsik lebih menonjol daripada paksaan dan motivasi ekstrinsik.

Dalam sistem pendidikan Islam modern, ditemukan kenyataan bahwa tidak sepenuhnya diterapkan prinsip yang sesungguhnya dikehendaki pendidikan modern. Dalam sistem sekolah, semua peserta didik diperlakukan sama, perbedaan individual dirasakan kurang mendapat perhatian. Peserta didik dipaksa dengan muatan pendidikan yang seragam karena pertimbangan sistem.[13] Homeschooling tampaknya memiliki dasar pandangan yang sejalan dengan sistem pendidikan Islam tradisional.

E.     Tokoh Dunia yang Mengikuti Homeschooling

 Dalam sejarah pendidikan Islam, model homeschooling sebenarnya sudah lama dipraktekkan. Pada umumnya ilmuan muslim memperoleh pendidikan bukan dari model sekolah formal seperti yang ada saat ini, tapi dari model sekolah yang lebih bebas memilih, tidak terkotak-kotak dan tidak terikat pada kurikulum.

Walaupun tidak mengistilahkan dengan homeschooling, bagaimana para ahli memilih bidang kajian yang ingin ditekuninya, atau bagaimana orangtua mereka memilihkan sumber ilmu bagi mereka, pada dasarnya mirip dengan praktek homeschooling dewasa ini. Simak saja bagaimana al-Tusi memperoleh pengetahuannya di luar jalur formal:

“Di masa-masa awal, al-Thusi mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya sendiri, Muhammad Ibn al-Hasan yang juga seorang ahli fikih. Dalam lingkungan ini al-Thusi mematangkan pengetahuan keagamaannya. Di samping dari ayahnya, al-Thusi juga dibimbing oleh seorang pamannya yang memberikan dasar-dasar pemahaman yang sangat mempengaruhinya di masa-masa berikutnya. Dari pamannya ini al-Thusi memperoleh pengetahuan dasar tentang logika, fisika dan metafisika.”[14]

Simak juga sejarah intelektual ilmuan Muslim Murtadha Muthahharî:

”Pendidikan pertama diperolehnya dari ayahnya sendiri, yaitu Syekh Muhammad Husain Muthahharî, seorang ulama yang disegani di Iran, terutama di propinsi Khurasan. Pendidikan itu mengantarkannya ke lingkungan santri di pusat pengkajian agama (lazim disebut Hauzah ‘Ilmiyah) di kota Masyhad, tempat makam imam Ali al-Rida –imam kedelapan dalam keyakinan Syi’ah Dua Belas  (Twelver Shī‘ah Islamic belief)— yang terletak di Timur laut Iran, ketika ia baru berumur dua belas tahun. [15]

Demikian pula Riwayat pendidikan Ibn. Qayyim al-Jawziyya sebagaimana dikutip di bawah ini:

Ibn al-Qayyim’s teachers included his father……. He attained great proficiency in many branches of knowledge; particularly knowledge of tafsir, hadith, and usool. When Shaykh Taqiyyud-Deen Ibn Taymiyyah returned from Egypt in the year 712H (c. 1312), he stayed with the Shaykh until he died; learning a great deal of knowledge from him, along with the knowledge that he had already occupied himself in attaining. So he became a single Scholar in many branches of knowledge.” [16]

Dari luar Islam dikenal pula beberapa nama, antara lain[17]:

  1. Abraham Lincoln (1809–1865) President Amerika Serikat ke-16, hanya mengikuti sedikit kegiatan sekolah formal. Dia adalah seorang kutu buku dan belajar membaca, menulis dan berhitung secara otodidak.
  2. Andrew Wyeth (1917), pelukis realis Amerika, keluar dari sekolah pada usia yang sangat muda karena sakit. Ia kemudian menerima pendidikan seni dan subjek lain dari orangtuanya.
  3. Bode Miller (1977), pemin ski dari Amerika. Menerima pendikan homeschooling dari orangtuanya sampai ia berusia 10 tahun.
  4. Che Guevara (1928), pemimpin gerilya Kuba, Afrika, dan Bolivia. Ia juga komandan penjara dan presiden Bank Nasional Kuba. Beliau dididik di rumah, terutama oleh ibunya sampai ia berusia 13 tahun.
  5. Ernst Mach, Dokter dari Austria, Mengikuti homeschooling dari orangtuanya sampai SMA.
  6. Erwin Schrödinger, seorang dokter pemenang hadiah Nobel. Mengikuti homeschooling sampai usia 10 tahun.
  7. Elizabeth II (1926), ratu Inggris, menerima pendidikan awalnya di rumah. Received. Sesudahnya ia belajar di Eton College.
  8. George Washington, President Amerika yang pertama.
  9. Thomas Edison (1847–1931). Seorang penemu dan pebisnis. Beliau belajar membaca, menulis dan aritmatik dari ibunya. Sebelumnya ia mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Sebagian besar pendidikannya ia terima dari membaca buku.

F.     Homeschooling dan Perkembangan Anak

 Bila memperbincangkan tentang bagaimana sebuah sekolah masa kini dapat meningkatkan perkembangan anak, maka bahasan tidak dapat terlepas dari berbagai perubahan dalam filosofi pendidikan yang terjadi sepanjang sejarah yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam teori dan praktek pendidikan. Dari pendidikan yang mengandalkan “three R’s” (reading, ‘riting, dan ‘rithmetic) ke metode “berpusat pada anak” yang berfokus pada minat anak.[18]

Saat ini banyak pendidikan yang merekomendasikan pengajaran anak pada tingkat awal dengan mengintegrasikan bidang yang berkaitan dengan subjek dan mendasarkan kepada minat dan bakat alamiah anak. Misalnya belajar membaca dan matematika dalam konteks proyek studi sosial, atau mengajarkan konsep matematika melalui studi musik. Mereka mendukung proyek kooperatif, menawarkan partisipasi aktif pemecahan masalah dan kooperasi rapat orang tua-guru.[19]

Banyak pendidik kontemporer yang juga menekankan ”R” keempat, yaitu reasoning (penalaran). Anak-anak yang diajari keterampilan berpikir dalam konteks subjek akademis terbukti lebih baik dalam tes kecerdasan dan prestasi sekolah. Stenberg mengungkapkan bahwa siswa akan belajar lebih baik ketika diajari dengan berbagai macam cara, menekankan keterampilan kreatif dan praktis sekaligus mengingat dan berpikir kritis.[20]

Berbagai perubahan dalam teori dan praktek pendidikan yang disebutkan di atas tampaknya akan sulit dicapai pada model praktek pendidikan yang biasa kita temukan pada sekolah-sekolah formal di Indonesia. Para orangtua yang memiliki perhatian pada pendidikan anak-anaknya pada umumnya menganggap bahwa model pendidikan yang tepat hanya mungkin diperoleh dari homeschooling, dimana mereka dapat mengatur sendiri kurikulum dan metode belajar yang mendekati ideal.

Disamping sumbangan positifnya terhadap perkembangan anak, ternyata kritik terbesar yang banyak diterima praktek homeschooling juga berkenaan dengan perkembangan anak, yaitu dalam hal kemampuan sosialisasi. Prof. Dr. Arif Rahman, M.Pd. mengatakan bahwa  hal yang harus menjadi titik perhatian penting dari homeschooling adalah strategi untuk menghindari kekhawatiran bahwa siswa yang mengikuti metode pendidikan ini akan teralienasi dari lingkungan sosialnya sehingga potensi kecerdasan sosialnya tidak muncul.[21] Kecemasan itu wajar mengingat lingkungan rumah yang sangat terbatas sehingga anak tidak terbiasa dengan perbedaan dan cenderung memahami sesuatu daari sudut pandangnya sendiri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyaknya siswa yang berasal dari Asia Timur yang berprestasi bagus di Amerika Serikat adalah karena pengaruh budaya dan praktik pendidikan di negara asal mereka. Hari dan tahun bersekolah yang lebih tinggi dibanding sekolah AS, kurikulum yang diatur secara sentral, kelas lebih besar (sekitar 40 – 50 murid), dan para guru menghabiskan lebih banyak waktu mengajari seluruh kelas, sedangkan anak AS lebih banyak waktu bekerja sendiri atau dalam kelompok kecil dan karena itu menerima perhatian yang lebih besar tetapi lebih sedikit instruksi total.[22]

Di sisi lain, hasil penelitian Taylor[23] menunjukkan bahwa sangat sedikit siswa homeschooling yang mengalami masalah dalam berhubungan sosial. Menurutnya, berbagai kritik yang dilontarkan mengenai homeschooling berkenaan dengan kemampuan sosialisasi anak justru menghasilkan hal yang sebaliknya. Konsep diri yang positif yang diperoleh anak-anak dari pendidikan homeschooling ternyata mampu mendorong kemampuan sosialisasi yang baik.

G.    Motivasi Mengikuti Homeschooling

 Sampai awal ke pertengahan tahun 1970-an, sosiologi pendidikan didominasi oleh isu tentang pengaruh keluarga dan faktor kelas sosial terhadap prestasi anak di sekolah. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada kemungkinan justru sekolah menjadi faktor yang berkontribusi terhadap siswa-siswa yang under-achievement.[24]

Di beberapa wilayah di Amerika Serikat, homeschooling merupakan pilihan resmi bagi orang tua yang ingin memberikan lingkungan belajar yang berbeda bagi anak-anak mereka dari sekolah-sekolah yang ada di wilayah tempat tinggalnya. Homeschooling juga dibutuhkan oleh anak-anak yang tidak bisa mengakses sekolah; yang rumahnya jauh dari sekolah; atau yang harus membantu orangtuanya bekerja. Motivasi orang tua untuk memberikan homeschooling bagi anak-anak mereka bervariasi mulai dari ketidakpuasan dengan sekolah yang ada di wilayah tempat tinggalnya, sampai pada keinginan untuk mendapatkan hasil ujian yang baik. Bisa juga merupakan alternatif bagi keluarga yang tinggal di lokasi terpencil ataupun untuk alasan praktis maupun pribadi karena tidak menginginkan anak-anak mereka untuk berada di lingkungan sekolah umum. Homeschooling juga dapat diartikan sebagai instruksi yang diberikan di rumah dibawah supervisi dari sekolah korespondennya. Di beberapa tempat, ada kurikulum tertentu yang disyaratkan apabila anak-anak mengikuti homeschooling.

Solusi homeschooling atas ketidakpuasan terhadap kondisi pendidikan seperti yang umum terjadi di Indonesia mendapat tanggapan yang sangat beragam dari masyarakat. Ada yang menganggap bahwa homeschooling merupakan solusi bagi anak yang memiliki kesibukan luar biasa. Misalnya bagi anak-anak yang terjun ke dunia entertainment, terutama yang terlibat dalam sinetron stripping. Menurut beberapa kalangan, upaya yang dapat dilakukan untuk kasus seperti ini (agar anak tidak ketinggalan pelajaran) adalah: homeschooling.

Bagi selebriti sekelas Michel Jackson, homeschooling menjadi suatu keharusan. Ketenaran yang dimilikinya telah memberikan dampak yang demikian besar pada orang-orang terdekatnya, terutama anak-anaknya. Dampak yang paling tidak menyenangkan adalah berkurangnya privasi. Di antaranya, mereka selalu menjadi bulan-bulanan paparazzi, yang bahkan sampai memburu anak-anak ini ke sekolah. Di samping itu, sang King of Pop ini juga mengkhawatirkan bila anaknya sampai diperlakukan berbeda di sekolah. “just because you’re michael jackson’s children doesn’t mean i’m gonna treat you differently…” Beberapa alasan tersebut melatarbelakangi pemilihan homeschooling oleh Michael Jackson bagi pendidikan anak-anaknya.

Menurut survey sensus  Amerika Serikat tahun 2003[25], ada beberapa alasan kenapa orangtua di Amerika memilihkan homeschooling bagi anak-anaknya:

ALASAN MENGIKUTI

JUMLAH SISWA

%

Mampu memberikan pendidikan yang lebih baik di rumah

415.000

48,9

Alasan Agama

327.000

38,4

Lingkungan belajar yang kurang memadai di sekolah

218.000

25,6

Alasan Keluarga

143.000

16,8

Mengembangkan karakter/moralitas

128.000

15,1

Keberatan dengan materi yang diajarkan di sekolah

103.000

12,1

Sekolah kurang memberi tantangan

98.000

11,6

Permasalahan lainnya dengan sekolah yang tersedia

76.000

9,0

Anak-anak memiliki kebutuhan khusus/keterbatasan

69.000

8,2

Kesulitan transportasi

23.000

2,7

Anak terlalu muda untuk masuk sekolah

15.000

1,8

Karir Orang tua

12.000

1,5

Tidak dapat masuk di sekolah yang diinginkan

12.000

1,5

Alasan lainnya

189.000

22,2

Gambar 2: Alasan orangtua memilih homeschooling menurut survey di Amerika tahun 2003.

H. Metodologi Homeschooling

 Homeschooling menggunakan berbagai variasi metode dan material. Ada paradigma atau filsafat pendidikan yang berbeda yang berusaha diadopsi keluarga yang menyelenggarakan homeschooling antara lain: unit studies, classical education (termasuk Trivium, Quadrivium), Charlotte Mason education, metode Montessori, teori multiple intelligences, Unschooling, Radical Unschooling, Waldorf education, School-at-home, A Thomas Jefferson Education, dan banyak lainnya. Beberapa pendekatan ini khususnya unit studies, Montessori, dan Waldorf, juga digunakan di lingkungan sekolah swasta atau sekolah umum.[26]

Bukan suatu yang tidak biasa bagi para siswa untuk menerapkan lebih dari satu pendekatan bila keluarga menganggap hal itu yang terbaik bagi mereka. Banyak keluarga yang memilih pendekatan eklektik (campuran).

Untuk sumber kurikulum dan buku-buku, dapat diperoleh dari Perpustakaan umum; katalog homeschooling, penerbitan dari seorang spesialis. Ada pula yang mengandalkan  toko-toko buku penyalur. Umumnya menggunakan kurikulum maupun buku-buku dari organisasi homeschooling. Lainnya berasal dari institusi-institusi religius. Sebagian lainnya mendapatkan dari sekolah umum atau distrik.

 

Belajar jarak jauh dilakukan melalui televisi, video atau radio; sebagian melalui internet, e-mail, atau web; dan sisanya melakukan melalui korespondensi lewat surat.

Tahun 2001, menurut “The Canadian based Fraser Institute, Muslim Amerika merupakan kelompok yang paling cepat pertumbuhannya dalam melaksanakan homeschooling, bahkan diprediksi akan menjadi dua kali lipat jumlahnya setiap tahun dalam delapan tahun ke depannya.

I.  Prasyarat bagi Peserta Homeschooling

Bagi kalangan yang pro dengan homeschooling, jangan dulu cepat-cepat memutuskan untuk menerapkan tipe pendidikan ini pada anak-anaknya, karena ternyata ada banyak persyaratan untuk dapat memberikan homeschooling bagi anak-anak.

  1. Homeschooling dapat diberikan bila seorang anak bisa mandiri dan memiliki displin yang tinggi.
  2. Membutuhkan komitmen dan tanggung jawab tinggi dari orang tua. Di antaranya, orangtua harus memiliki waktu untuk mengontrol bagaimana disiplin anak, dan memantau bagaimana anak menjalankan homeschooling.
  3. Homeschooling harus dievaluasi oleh pekerja sosial, dan semua yang berwenang tentang sekolah. Hal-hal yang dipertimbangkan antara lain adalah apakah orangtua bisa menjadi tutor bagi anak-anaknya (atau dapat mencarikan tutor yang memenuhi syarat); memiliki waktu untuk mengajar, memiliki berbagai fasilitas belajar-mengajar yang memadai; serta berbagai persyaratan lainnya.
  4. Berbagai fasilitas yang dibutuhkan antara lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), fasilitas bisnis (pusat perbelanjaan, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan fasilitas teknologi dan informasi (internet dan audivisual).
  5. Peran dan komitmen total orangtua sangat dituntut. Sebaiknya orang tua juga mengerti kurikulum dan berbagai isu pendidikan. Selain pemilihan materi dan standar pendidikan sekolah rumah, mereka juga harus melaksanakan ujian bagi anak-anaknya untuk mendapatkan sertifikat, dengan tujuan agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutny

 J.      Kontroversi dan Kritik

Penentangan terhadap homeschooling datang dari berbagai sumber, termasuk beberapa organisasi guru dan sekolah umum. Beberapa hal yang yang dikritik mencakup[27]:

  1. Standar kualitas akademis tidak terpenuhi dan tidak komprehensif.;
  2. Mengurangi sumbangan dana yang diperoleh sekolah umum;
  3. Rendahnya sosialisasi dengan teman sebaya dari latar belakang agama dan etnik yang berbeda.;
  4. Berpotensi mengembangkan ekstrimitas agama dan sosial.
  5. Anak-anak dipisahkan dari lingkungan masyarakat sekitarnya atau tidak diberi hak berupa kesempatan melaksanakan perkembangan sosialnya;
  6. Berpotensi mengembangkan masyarakat paralel yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan standar warganegara dan komunitasnya.

K.    Homeschooling di Indonesia

Sebetulnya sudah lama bangsa kita mengenal konsep homeschooling ini. Bahkan jauh sebelum sistem pendidikan barat datang. Tengok saja di pesantren-pesantren misalnya, para kyai, buya, dan tuan guru secara khusus mendidik anak-anaknya sendiri. Saat ini sistem persekolahan di rumah juga bisa dikembangkan untuk mendukung program pendidikan kesetaraan.[28]

Bagaimana sikap pemerintah? Secara prinsip tidak ada masalah. Sebagaimana tercantum dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) dalam pasal 27 ayat (1) dikatakan bahwa, ”Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri”. Lalu pada ayat (2) dikatakan bahwa, “Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan”. Jadi secara hukum kegiatan homeschooling dilindungi oleh undang-undang.[29]

Di Indonesia, perkembangan homeschooling dipengaruhi juga oleh akses terhadap informasi yang semakin terbuka dan membuat para orang tua punya banyak pilihan untuk pendidikan anak-anaknya. Diperkuat dengan aspek legalitas 5 Istilah homeschooling ini sudah cukup populer belakangan ini. Sayangnya, upaya pemasyarakatan homeschooling tidak cukup diikuti dengan informasi yang berkenaan dengan persyaratan yang seharusnya dimiliki dalam menerapkannya. Akibatnya, praktek homeschooling di negara kita menjadi berbeda, alias salah kaprah. Pemasyarakatan homeschooling tidak dengan dasar pikiran yang tepat dan kuat. Masyarakat – seperti biasanya – sangat cepat memberikan respon positif; bila yang berbicara adalah orang-orang yang dianggap ahli. Sebagain kalangan mengatakan bahwa homeschooling di Indonesia tak ubahnya semacam private school yang eksklusif. Orang tua yang memiliki anak-anak yang bermasalah dengan lingkungan sosialnya malah dipindahkan ke sekolah jenis ini. Adapula lembaga-lembaga pendidikan yang membuka peluang ini bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Orangtua yang masih berpandangan tradisional umumnya masih menganggap ijazah adalah segala-galanya bagi masa depan anak-anaknya. Anak-anak spesial yang –tentu saja – tidak memungkinkan bersekolah di sekolah umum diarahkan untuk mengikuti homeschooling hanya agar dapat menyelesaikan pendidikannya dan…: mendapatkan ijazah!

Kalaulah sekolah rumah ini sudah merupakan kebutuhan utama bagi segelintir masyarakat kita, sebaiknya harus dipertimbangkan lagi berbagai kondisi dan dampak yang dihasilkannya. Misalnya saja, harus disadari bahwa homeschooling memiliki kompleksitas yang lebih tinggi karena orangtua harus bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan anak. Harus diantisipasi berbagai kelemahan yang dikhawatirkan banyak orang berkenaan dengan ketrampilan sosial anak karena sekolah ini berpotensi menghasilkan keterampilan sosial yang relatif rendah, terutama dengan teman sebaya. Bisa jadi akan menimblkan resiko berkurangnya kemampuan bekerja dalam kelompok, kemampuan berorganisasi dan kemampuan memimpin. Proteksi berlebihan dari orang tua juga akan menyebabkan anak mengalami kesulitan untuk menyelesaikan situasi dan masalah sosial yang kompleks dan tidak terprediksi.

L.     Penutup

 Homeschooling yang juga disebut pendidikan di rumah merupakan pendidikan bagi anak-anak yang dilaksanakan di rumah dan secara khusus diberikan oleh guru atau seorang tutor profesional. Jadi, pendidikan tidak diberikan di sekolah umum ataupun swasta. Homeschooling dalam pengertian modern, merupakan alternatif pendidikan formal di negara-negara maju. Dengan kata lain, praktek homeschooling memindahkan sekolah dari area umum ke area yang lebih privat, yakni ke rumah. Perlu digarisbawahi disini, bahwa homeschooling tampaknya lebih direkomendasikan bagi negara yang sudah maju. Bisa jadi ini menyangkut sarana belajar-mengajar yang harus benar-benar memadai demi suksesnya program ini.

Pro-kontra tentu saja banyak bermunculan berkenaan dengan isu ini. Masyarakat yang tidak setuju dengan homeschooling mengatakan bahwa homeschooling menghambat anak untuk bersosialisasi. Homeschooling hanya akan mengasah kecerdasan intelektual sementara kebutuhan seorang anak tidak terbatas kepada kecerdasan intelektual saja, akan tetapi juga meliputi kecerdasan emosi & kecerdasan spiritual. Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan emosi. Berangkat dari pertimbangan itu, kalangan yang tidak mendukung menganggap homeschooling belum dibutuhkan untuk keadaan saat ini. Di sekolah umum anak-anak bisa bertemu masyarakat luas sehingga dapat melihat dan memahami berbagai strata sosial (bila anak tidak bersekolah di sekolah yang eksklusif bagi kalangan elit). Anak-anak bisa memiliki teman lebih banyak sehingga dapat mengenal beraneka manusia dengan watak dan taraf kecerdasan yang bervariasi sehingga memberi pelajaran yang berharga bagi kehidupan. Bagi yang memiliki romantisme, dunia sekolah dapat memberikan banyak kenangan manis dan berharga yang akan menjadi nostalgia dan bagian dari masa lalu.

 DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi. Esei-esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.

Berkey, Jonathan. The Transmission of Knowledge in Medieval Cairo. A Social History of  Islamic Education, Princeton, NJ: Princeton University Press,  1992.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT.Ichtiar Baru van Hoeve, 2003.

Dweehan. Homeschooling: Model Pengembangan Sistem Pendidikan
http://www.pnfi.depdiknas.go.id/artikel/20090915092455/Homeschooling–Model-Pengembangan-Sistem-Pendidikan.html1diakses 5/09/2009 – 09:24:55

Lubis, Syaiful Akhyar. Pendidikan Islam dalam Era Perubahan Sosial, Hadharah, Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Berbasis Islam. Medan: Universitas al-Washliyah, 2009.

Nakosteen, Mehdi. History of Islamic Origins of Western Education  A.D. 800 – 1350 With an Introduction to Medieval Muslim Education, Boulder: University of Colorado Press, 1964.

Papalia, DE., Old, SW., Feldman, RD. Human Development. New York-USA: McGraw-Hill, 2004.

 

Rajawat, Mamta. Education in the New Millenium, New Delhi: Anmol Publication PVT. LTD, 2003.

Simbolon, Pormadi. Homeschooling: Sebuah Pendidikan Alternatif. http://www.google.com/artikel/homeschooling: sebuah pendidikan alternatif  Ditulis pada Nopember 12, 2007.

Trinanda,  Andi. Pendidikan Homeschooling. Sudah Adaptifkah dengan Pendidikan di Indonesia? http://www.garutkab.go.id/download_files/article/PENDIDIKAN_HOME_SCHOOLING.doc. 2010.

ath-Tusi Khawajah Nasiruddin. 2003. Menyucikan hati Menyempurnakan Jiwa. Terjemahan ‘Awsaf al-Ashraf. Atributes of the Noble’. Jakarta: Pustaka Zahra.

 

Verdiansyah, Chris (ed). Homeschooling. Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2007.

Wikipedia.org, Homeschooling, http://en.wikipedia.org/wiki/Homeschooling. 2010

Wikipedia, the free encyclopedia. Ibn Qayyim al-Jawziya, http://en.wikipedia.org/wiki/Ibnqayyim. 2009  (Redirected from Ibn Qayyim al-Jawziya).

——————————————————————————–

[1] Simbolon, Pormadi. Homeschooling: Sebuah Pendidikan Alternatif. http://www.google.com/artikel/homeschooling: sebuah pendidikan alternatif. Ditulis pada 12 Nopember, 2007. Diakses 21 Nopember 2009. h. 1.

[2] Dweehan. Homeschooling: Model Pengembangan Sistem Pendidikan
http://www.pnfi.depdiknas.go.id/artikel/20090915092455/Homeschooling–Model-Pengembangan-Sistem-Pendidikan.html1diakses 5/09/2009 – 09:24:55. 2009.

[3] Wikipedia.org, Homeschooling, http://en.wikipedia.org/wiki/Homeschooling. 2010, h. 1.

[4] Ibid, h. 2.

[6] Wikipedia.org, Homeschooling, h. 2.

[7] Azyumardi Azra. Esei-esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998), h. 113-116.

[8] Wikipedia.org, Homeschooling,, h. 2.

[9] Ibid, h.2.

[10] Mehdi Nakosteen. History of Islamic Origins of Western Education  A.D. 800 – 1350 With an Introduction to Medieval Muslim Education, Boulder: University of Colorado Press, 1964. h. 45

[11] Jonathan Berkey. The Transmission of Knowledge in Medieval Cairo. A Social History of  Islamic Education, (Princeton, NJ: Princeton University Press,  1992), h. 44.

[12]Syaiful Akhyar Lubis. Pendidikan Islam dalam Era Perubahan Sosial, Hadharah, Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Berbasis Islam. (Medan: Universitas al-Washliyah, 2009). H. 96.

[13] Ibid. h. 96.

[14] Khawajah Nasiruddin Al-Tusi, Menyucikan hati Menyempurnakan Jiwa. Hal. xiii.

[15] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT.Ichtiar Baru van Hoeve, 2003), h. 313-314.

[16] Wikipedia, the free encyclopedia. Ibn Qayyim al-Jawziya (Redirected from Ibn Qayyim al-Jawziya).

[17] Wikipedia.org, Homeschooling, h. 13-14.

[18] Papalia, DE., Old, SW., Feldman, RD. Human Development. (New York-USA: McGraw-Hill, 2004). h. 334-335.

[19] Ibid, h. 335

[20] Ibid hal. 335.

[21] Chris Verdiansyah (ed). Homeschooling. Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku,( Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2007), h. ix.

[22] Papalia, DE., Old, SW., Feldman, RD. Human Development. H. 337.

[23] Wikipedia.org, Homeschooling, h. 13.

[24] Mamta Rajawat. Education in the New Millenium, (New Delhi: Anmol Publication PVT. LTD, 2003), h. 47.

[26] Wikipedia.org, Homeschooling, h. 3.

[27] Wikipedia.org, Homeschooling, h. 14.

[28] Chris Verdiansyah (ed). Homeschooling. Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku, hal. 18 – 19.

[29] Ibid., hal.19.

2 thoughts on “HOMESCHOOLING DAN PENDIDIKAN ISLAM”

  1. Dear Ikhwah,

    Ulamaussalaf selalu mengedepankan anak2 mereka dalam hifdhulquraan.(menghapal Al-Quraan)

    Disisi lain banyak orang yg menginginkan anak2 mereka tdk saja mempelajari ilmu diin (ilmu agama) tetapi juga dunia.

    Yg terjadi dilapangan adalah justru anak2 kita tidak belajar لادين ولادنيا (ga belajar ilmu agama juga sedikit yg ia dapet dari ilmu dunia),

    Contohnya: PPKN/PMP, Kesenian, Penjas masa anak2 kita disuruh belajar yang kaya ginian trus terang “it’s a waste of time”, ana ga mengatakan bahwa semua mata pelajaran disekolahan ga berguna, tetapi mengapa kita tidak mempelajari yg penting2 saja, masa anak2 kita disuru belajar semua mata pelajaran yang ada disekolahan sedangkan kita melupakan pendidikan agama (yg selalu dianaktirikan disekolah2) pun kalo ada atau bahkan ditekankan pendidikan agamanya disekolah2 tertentu adakah atsar dari anak2 tsb, jawabannya hampir tidak ya akhi, jelas semua ini adalah konspirasi.

    Ana punya sohib ketika diYemen bernama Abu Danial, Warga Negara Inggris berprofesi sebagai Pengusaha yang sempat tinggal beberapa tahun Yemen sebagai penuntut ilmu طالب علم ., anak2nya mengikuti Homeschooling yang dipelajari hanyalah: Matematika & English. 2 mata pelajaran ini adalah yg wajib dipelajari anak2 warga negara inggris.

    Inilah mengapa mereka bisa “MAESTRO” disuatu bidang, bukan kaya kita semua dipelajari, Allah yu’inna bas (semoga Allah melindungi kita).

    Anak2 Abu Danial tsb masyaallah salahsatunya hafidhalquraan & itu sudah akhi englishnya jago, matematikanya hebat, anak2 kita bisa apa paling poll kasingnya doang Allahulmusta’an.
    Smg kita, kaluarga kita, anak2 kita menjadi orang2 yg bisa memanfaatkan waktu dengan benar.

    La ini ana punya ide yg insyaallah implementable ana tegaskan insyaallah “implementable banget” ttng pendidikan ide ana yaitu ” International Islamic Homeschooling”.

    Bagi yg suka tukar pikiran dlm masalah ini hayyakallah tafadhdhal hubungi ana:
    Muhammad Sungkar 0878-7557-1063

    Semoga kita dikumpulkan dijannatulfirdaus ala’la bersama para rosul, anbiya,sahabah, shuhada, salihin, serta yg mengikuti mereka.

    • Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh

      Dear mas Sungkar,

      Terimakasih commentnya.

      Saya sependapat dengan apa yang mas Sungkar sampaikan; kondisi pendidikan di Indonesia saat ini memang memprihatinkan. Ide tentang International Islamic Homeschooling menurut saya bagus dan patut didukung, tapi perlu dipikirkan sumber pendanaan dan ketersediaan SDM yang memenuhi syarat. Sepanjang pengamatan saya, salah satu kelemahan dalam dunia pendidikan di Indonesia saat ini adalah persoalan tingginya biaya pendidikan dan minimnya tenaga pengajar yang qualified. Untuk homeschooling, mungkin yang perlu dicari adalah siswa yang mampu membayar mahal, tapi apakah pihak penyelenggara dapat menjamin akan memberikan pendidikan yang baik dan setara dengan biaya yang telah dikeluarkan? Materi yang baik belum tentu tersampaikan dengan baik apabila tenaga pengajarnya tidak memiliki kompetensi di bidangnya. Pengamatan saya tentang banyak sekolah yang diberi embel-embel bilingual, ataupun international tidak mampu menjalankan fungsinya secara utuh. Kondisi ini tidak lain karena sulitnya mencari tenaga pengajar yang mampu berbahasa Inggris secara baik, apalagi yang menguasai dua bahasa (Inggris dan Arab) sekaligus. Belum lagi penguasaan terhadap bidang studi yang akan diajarkan.

      Semoga ketersediaan tenaga pengajar ini menjadi prioritas dalam mewujudkan ide mas Sungkar tentang International Islamic Homeschooling; dan yang terutama; semoga impiannya terwujud.

      Wassalam,

      Riri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s