KHAWAJAH NASIRUDDIN AL-TUSI (NAṣĪR AL-DĪN AL-ṬŪSĪ)

Dra. Sri Mulyani Nasution, M. Psi.

Nama: Naṣīr al-Dīn al-Ṭūsī
Lahir: 16 Februari, 1201 (11 Jamadi al-Ula, 597)
Wafat: 25th Juni, 1272/4 (18 Dhu’l-Hijjah 672)
Suku bangsa: Persian

Wilayah: Iran

Mahzhab: Avicennisme (Twelver Shī‘ah school tradition)

Minat Utama: TeologI Islam, Filsafat Islam, Astronomi, Matematika, Kimia, Biologi dan Kedokteran, Fisika, Pengetahuan Alam

Temuan Terkenal: Konservasi massa, Evolusi, trigonometri Speris, Tusi-couple

Karya: Rawḍa-yi Taslīm, Tajrid al-‘Aqaid,
Akhlaq-i-Nasri, Zij-i ilkhani,
al-Risalah al-Asturlabiyah,
Al-Tadhkirah fi’ilm al-hay’ah
Dipengaruhi: Ibn Sina (Avicenna), Fakhr al-Din al-Razi, Mo’ayyeduddin Urdi

Mempengaruhi: Ibn Khaldun, Qutb al-Din al-Shirazi, Ibn al-Shatir, Copernicus

A. Biografi
Tokoh ini kurang begitu populer di banding tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam seperti Ibn Sina, al-Ghazali al-Razi, dan lainnya. Sebab itu, kemunculan namanya sebagai tokoh penting dalam khazanah perkembangan peradaban Islam juga menjadi sesuatu yang sulit ditemui, padahal memperbincangkan sejarah Filsafat Islam, kita tak bisa meninggalkan tokoh yang memberikan sumbangan yang begitu besar bagi perkembangan filsafat Islam – khususnya mazhab paripatetik ini.
Nashiruddin ath-Tusi adalah seorang pemikir Islam yang tidak hanya dikenal sebagai seorang filsuf, tetapi juga sebagai ahli astronomi, matematikawan dan saintis/ilmuan yang beberapa pemikirannya masih digunakan sampai saat ini. Dia adalah seorang penulis yang banyak karyanya dalam bidang matematika. Ia juga seorang biolog, ahli kimia, ahli pengobatan, ahli ilmu fisika, teolog dan Marja Taqleed. al-Tusi termasuk satu di antara sedikit astronom Islam yang mendapat perhatian dari ilmuwan modern. Seyyed Hussein Nasr mengkategorikan al-Tusi sebagai salah satu di antara tokoh universal sains Islam yang pernah lahir dalam peradaban Islam abad pertengahan.
Bernama lengkap Abu Ja’far Muḥammad ibn Muḥammad ibn al-Ḥasan al-Tūsī (محمد بن محمد بن الحسن الطوسی) Lahir pada 18 Februari 1201 M/597 H di Ṭūs, al-Kāżimiyyah dekat Baghdad sebuah tempat yang berada di atas sebuah bukit, di samping lembah sungai Kasyaf, dekat ke kota Masyad di Timur Laut Persia, yang menjadi kota pendidikan terkenal pada masa itu. Saat ini Ṭūs masuk dalam wilayah Khorasan di Iran. Ia lebih dikenal dengan nama Naṣīr al-Dīn al-Ṭūsī (di Barat dikenal dengan Tusi), Seorang Persia dari Ismailiyah yang di kemudian hari memiliki keyakinan Islam “Twelver Shī‘ah” (Twelver Shī‘ah Islamic belief).
Al-Tusi wafat pada 26 Juni 672 H/1272-4 M di Kazhmain dekat Baghdad, pada tahun yang sama dengan Thomas Aquinas. Ia dimakamkan sesuai dengan permintaan terakhirnya di samping makam Musa ibn Ja’far Imam ketujuh dari aliran Twelver Shī‘ah, di Kazimayn di luar Baghdad. Di antara muridnya yang mashur adalah filosof Qutb al-Din al-Shirazi (wafat 710 H./ 1310 M) dan Imam, hakim, dan teolog, ‘Allamah al-Hilli (wafat 726 H./ 1325 M.). al-Tusi tetap mempunyai pengaruh sampai akhir hayatnya. Bahkan Abaqa yang menggantikan Hulagu tetap mempercayainya serta membuat beberapa kebijakan atas saran al-Tusi. Dengan pengaruh yang dimilikinya, al-Tusi terus melanjutkan kegiatannya mengembangkan filsafat Islam dan sains sampai akhir hayatnya.
Al-Tusi merupakan figur intelektual yang memiliki pengaruh signifikan mulai dari masa tradisional intelektualitas Islam Timur sampai periode modern. Pengaruh dan prestisenya terekam melalui gelar, penghormatan dan nama kecil yang diberikan padanya, seperti : khadja (sarjana dan guru terkemuka), ustadh al-Bashar (guru umat), dan al-muallim al-thalith (guru ketiga).
Pada masa sekarang, pengaruh Tusi sangat besar terutama bagi kaum Shiah. Dalam bukunya ‘Insan Ilahiah”, Imam Khomeini menyebutkan bahwa nurâniyah satu orang seperti filsuf besar Islam Khawajah Nashiruddin ath-Tusi dan Allamah Hilli menerangi bangsa dan negara dan nurâniyah tersebut abadi.

B. Latar Belakang Intelektual
Di masa-masa awal, al-Thusi mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya sendiri, Muhammad Ibn al_Hasan yang juga seorang ahli fikih. Dalam lingkungan ini al-Thusi mematangkan pengetahuan keagamaannya. Di samping dari ayahnya, al-Thusi juga dibimbing oleh seorang pamannya yang memberikan dasar-dasar pemahaman yang sangat mempengaruhinya di masa-masa berikutnya. Dari pamannya ini al-Thusi memperoleh pengetahuan dasar tentang logika, fisika dan metafisika.
Di usia yang sangat dini ia belajar Quran, hadis, ilmu hukum Shi’a, logika, filsafat, matematika, kedokteran dan astronomi. Karena sudah kehilangan ayahnya sejak masih berusia muda, Muhammad sangat ingin memenuhi harapan ayahnya. Ia mempelajari ilmu pengetahuan dengan sangat serius dan pergi mengembara sejauh mungkin untuk menghadiri perkuliahan pada sarjana-sarjana terkenal dan memperoleh pengetahuan yang membimbing manusia kepada kebahagiaan masa depan.
Pada usianya yang masih muda, ia pindah ke Nishapur untuk belajar filsafat kepada Farid al-Din Damad dan matematika pada Muhammad Hasib. Ia juga bertemu dengan Farid al-Din al-‘Attar, seorang master Sufi yang legendaris yang pada masa selanjutnya dibunuh oleh bangsa Mongol. Ia juga menghadiri kuliah Qutb al-Din al-Misri. Disamping filsafat, ia, dari mahdar Farid al-Din Damad ia juga mempelajari fikih, ushul dan kalam, terutama buku isyaratnya Ibn Sina. Ia kemudian pergi ke Baghdad untuk mempelajari ilmu pengobatan dan filsafat kepada Qutb al-Din, memperdalam matrematika pada Kamal al-Din ibn Yunus dan belajar fikih serta ushul pada Salim ibn Badran.
Di Mawsil ia belajar matematika dan astronomi kepada Kamal al-Din Yunus (wafat 639H/1242M). Kemudian ia berkorespondensi dengan al-Qaysari, menantu dari Ibn al-‘Arabi, dan kelihatannya ajaran mistis yang disebarkan oleh para master sufi di masanya tidak dapat diterima akalnya dan dalam suatu kesempatan yang tepat, ia menyusun manual sendiri tentang filsafat sufisme dalam bentuk booklet (buku kecil) berjudul “Awsaf al-Ashraf: The Attributes of the Illustrious/Noble”.
Perkembangan intelektual Tusi tidak dapat dipisahkan dari drama perjalanan hidupnya dan dari bencana invasi Mongol ke wilayah Timur Islam. Ayahnya seorang hakim yang memiliki wawasan luas sangat mendorongnya dalam mendalami pendidikan filsafat dan sains., dan memperkenalkan kepadanya doktrin dan sekte-sekte lain. Untuk mempelajari filsafat, ia pergi ke dekat Nishapur dimana ia belajar pada seorang sarjana yang mengajarkan pandangan Ibnu Sina.

C. Lingkup Intelektual
Sepanjang kehidupannya, al-Tusi merupakan penulis yang produktif dalam bidang matematika dan ilmu alam. Ia membawa kemajuan di bidang matematika trigonometri dan astronomi. Hasil dari upaya kerasnya di bidang intelektual ini menunjukkan hasil dengan didirikannya observatorium di Maraghah. Hasil dari observasi dan perhitungan astronomis menghasilkan tabel yang terkenal yang dinamakan Zij-e Ilkhani (Dalam bahasa Persia, tapi juga diterjemahkan dalam bahasa Arab).
Sebelum Maraghah, ilmu rasional telah diperoleh segelintir orang dengan atau tanpa perlindungan pribadi, sekolah-sekolah Islam mencurahkan hampir seluruh perhatiannya kepada hukum dan melepaskan diri dari aktivitas filsafat. Lingkungan obsevatorium dan pelembagaan ilmu rasional menciptakan kebutuhan akan materi pengajaran, dan al-Tusi sendiri menjadi penulis dari resensi (tahrir) teks ilmiah seperti halnya ringkasan dari teks teologi, logika dan filsafat, jelas dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pengajaran. Pengaruh al-Tusi yang terus bertahan dapat dilihat dari aktivitasnya yang berkelanjutan dalam ilmu rasional Islam Timur, seperti halnya dalam penyerapan yang terjadi secara bertahap ke dalam pendidikan religius, yang mana pada gilirannya mempengaruhi perkembangan teologi, secara khusus di antara para sarjana Shi’ah.

a. Filsafat
Di dalam filsafat Islam, al-Tusi seringkali dianggap sebagai seorang revivalis (orang yang sekadar membangkitkan kembali). Namun sebagian orang mengakui Al-Tusi memiliki peran yang besar dalam perkembangan filsafat Islam, khususnya mazhab paripatetik. Paripatetik disebut dengan istilah masysya’iyyah dalam tradisi falsafah Islam,. Istilah paripatetik muncul sebagai sebutan bagi pengikut Aristoteles.
Dalam bukunya ‘Syarah al-Isyarat wa al-Tanbihat’ yang merupakan penjelasan terhadap karya filosorfis Ibn Sina berjudul ‘al-Isyarat aw al-Tanbihat’, al-Tusi mengatakan bahwa,: Dua sifat manusia, yakni kegembiraan dan memandang makhluk secara sama (tidak melakukan diskriminasi) adalah dua akibat dari sebuah akhlak yang disebut ridha.” Di antara para pensyarah karya ini, Al-Tusi adalah yang paling masyhur. Kritikan Fakhrudin al-Razi terhadap teks al-Isyarat bahkan ia jawab dalam kitab tersendiri ‘Hal Musykilat al -Isyarat’.
Berkenaan dengan ridha, dalam ‘Awsaf al-Ashraf’ al-Tusi menyebutkan bahwa ketika semua yang bertentangan menjadi keadaan yang sama saja pengaruhnya di dalam diri seseorang, maka hal itu akan sejalan dengan kehendaknya yang hakiki. Karena itu dikatakan “Setiap orang akan mendapatkan apa yang berhak ia dapatkan dan ia berhak mendapatkan apa yang didapatkannya”. Bagi mereka yang telah menemukan Kebenaran, keridhaan Allah kepada hamba-Nya akan mewujud ketika hamba telah ridha kepada Allah.

119. Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya . Itulah keberuntungan yang paling besar”.

b. Logika
Sumbangan utama Al-Tusi terhadap ilmu logika dapat ditemukan dalam Asas al-iqtibas (The Ground for the Acquisition of Knowledge) yang ditulis dalam bahasa Persia. Karya ini ditulis selama periode Ismailiyah. Dibagi menjadi sepuluh bagian sebagaimana kebiasaan dalam dunia Islam, dan diskusi mengenai substansinya cukup mengundang perhatian. Karya tersebut juga menjadi kesaksian atas kemampuan al-Tusi dalam menulis tentang persoalan ke-teknik-an dalam bahasa Persia., dengan memasukkan terminologi bahasa Arab menjadi gaya yang fasih dan anggun. Manual Arab tentang logika Tajrid al-mantiq (Abstract of Logic), talah dikomentari pula oleh muridnya ‘Allamah al-Hilli.

b. Etika
Ada dua karya utama al-Tusi dalam bidang etika, Akhlaq-i Muhtashami (Muhtashamean Ethics) dan Akhlaq-i Nasiri (The Nasirean Ethics), keduanya ditulis dalam bahasa Persia. Yang pertama diangkat dari aturan Isma’ili (muhtasham) dari Quhistan. Nasir al-Din ‘Abd al-Rahman yang mempersiapkan garis besar dan menyetujui isi tetapi meminta al-Tusi mengerjakan pekerjaan utamanya karena tuntutan pekerjaannya di bidang politik. (baca lebih lanjut pada point E. Pemikiran Utama : Akhlaq-i Nashiri).
Disamping itu, kitab ‘Adab al-Muta’allimin juga merupakan salah satu karyanya di bidang etika. Menurut al-Tusi, karya ini sangat perlu karena banyak orang mendapat kesulitan dalam menuntut ilmu disebabkan kurang paham etika dan metode yang benar. Padahal baginya etika adalah prasyarat keberhasilan belajar.
Sebagai tambahan bagi kedua karya di bidang etika yang terkenal di atas, sedikitnya ada empat risalah utama yang ditulis al-Tusi sebagai karya di bidang etika. Dan kesemuanya menggambarkankarakter Ismailiyah.

c. Teologi dan Metafisika
al-Tusi memberi banyak sumbangan dalam bidang teologi metafisika. Upaya pertama adalah tentang teologi kebangkitan dalam Rawdat al-taslim (The Garden of Submission), namun yang paling berpengaruh adalah Tajrid al-kalam (Abstract of Theology). Karya ini telah mendapatkan beragam komentar sampai abad terkini, yang paling penting adalah komentar ‘Allamah al-Hilli’s dalam Kashf al-murad (Disclosing the Intention). Setelah karyanya Tajrid, praktis seluruh karya teologisnya diekspressikan dalam terminologi metafisis.
Salah satu argumen sederhana berkaitan dengan masalah ini adalah argumen yang bersandar pada keniscayaan wujud Tuhan (wajib al-wujud-nya Tuhan). Pembahasan sebelumnya telah jelas bahwa Tuhan adalah Wajib al-Wujud dimana keberadaan bagi-Nya adalah niscaya dan ketiadaan bagi dzat-Nya adalah mustahil, oleh karena itu, kemestian wujud dzat Ilahi mengharuskan kemustahilan ketiadaan wujud-Nya dalam segala bentuk asumsi. Hal ini bermakna bahwa dzat Tuhan tidak didahului dengan ketiadaan dan ketiadaan tidak pula menyentuh-Nya, dan ini tidak lain adalah keazalian dan keabadian Tuhan itu sendiri. Khawajah Nashiruddin Thusi menyiratkan argumentasi ini dengan ungkapan yang pendek, “Dan Wajib al-Wujud menunjukkan akan keabadian-Nya.” (Kasyf al Murâd, hal. 315).

d. Astronomi

Selama tinggal di Nishapur, Tusi memperoleh reputasi sebagai mahasiswa yang sangat luar biasa/sangat berbakat. Tusi meyakinkan Hulagu Khan untuk membangun sebuah observatorium agar dapat disusun tabel astronomi yang mampu memberikan prediksi yang lebih tepat. Sejak 1259 M, observatorium Rasad Khaneh telah dibangun di sebelah barat Maraghah, ibukota dari kekaisaran Ilkhanate. Observatorium Maraghah ini merupakan sumbangan monumental al-Tusi yang sangat besar di bidang astronomi. Pembangunannya dibantu ahli-ahli astrnomi Cina dan mulai digunakan tahun 1262 M. Qutb al-Din Syirazi, penemu teori tentang terjadinya pelangi, termasuk ilmuan yang pernah meneliti dan megembangkan karirnya di observatorium Maraghah.
Observatorium ini memiliki peralatan observatori paling canggih yang dikenal saat itu. Perpustakaan yang menjadi bagian dari observatorium ini mempunyai 400.000 jilid buku di semua bidang ilmu pengetahuan. Halaqah-halaqah juga tumbuh subur di Maraghah dimana para ilmuan mengajar mahasiswanya, mewariskan karya-karya ilmiah yang dikenal saati itu dan bekerjasama dengan mereka dalam penelitian-penelitian lebih lanjut.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di observatorium, Tusi berhasil membuat tabel pergeseran planet seperti yang digambarkan dalam bukunya Zij-i ilkhani (Ilkhanic Tables). Buku ini berisikan tabel astronomi untuk mengkalkulasi posisi planet dan nama-nama bintang. Model yang dihasilkannya untuk sistem planetary diyakini sebagai suatu yang sangat maju pada jamannya, dan telah digunakan secara ekstensif sampai berkembangnya model heliocentris pada masa Nicolaus Copernicus. Di antara masa Ptolemy dan Copernicus, ia diakui banyak orang sebagai astronom unggul di jamannya, dan hasil karya dan teorinya di bidang astronomi dapat dibandingkan dengan ilmuan Cina Shen Kuo (1031-1095 M).
Untuk model planetary, dia menciptakan teknik geometris yang dinamakan “Tusi-couple”, yang menghasilkan gerekan linier dari penjumlahan dua gerakan sirkuler. Ia menggunakan teknik ini untuk menggantikan “problematic equant” dari Ptolemy, yang dipakai dalam model geocentris Ibn al-Shatir’s dan model “heliocentris Copernican”-nya Nicolaus Copernicus. Ia juga menghitung nilai pergantian tahunan dari equinox (annual precession of the equinoxes) dan menyumbang bagi konstruksi dan penggunaan berbagai instrumen astronomi termasuk astrolab (suatu alat yang digunakan dalam astronomi untuk mengukur ketinggian suatu benda langit. Dalam bentuknya yang sederhana, alat ini merupakan sebuah piringan yang pinggirannya diberi tanda untuk menunjukkan derajat lingkaran serta dilengkapi dengan sebuah jarum penunjuk ).
Tusi juga merupakan orang pertama yang memperkenalkan bukti observasi empiris tentang rotasi bumi, dengan menggunakan lokasi komet yang relevan dengan bumi sebagai buktinya, temuan ini kemudian dikembangkan oleh Ali al-Qushji dengan observasi empiris lebih lanjut. Argumen Tusi sama dengan argumen yang digunakan Copernicus tahun 1543 M dalam menjelaskan rotasi bumi.
Nama Tusi diabadikan pada beberapa penemuannya seperti kawah bulan berdiameter 60-km yang terletak pada hemisfer bagian selatan bulan yang dinamakan “Nasireddin”. Planet minor “10269 Tusi” yang ditemukan oleh astronom Soviet Nikolai Stepanovich Chernykh pada tahun 1979 dan K. N. Toosi University of Technology di Iran juga dinamai dengan namanya.
Disamping karya monumental di bidang astronomi, di bidang ilmu alam, Tusi juga berhasil memperkenalkan betapa kayanya kosa kata Arab dalam mengekspresikan konsep-konsep yang berbeda serta ide-ide yang berkenaan dengan ilmu kosmologi. Misalnya untuk kata alam/nature yang bila di kaitkan dengan bahasa latin natura dan bahasa Yunani physis, kata bahasa Arab ‘tabi’ah dari akar kata tb’ dapat digunakan namun dengan arti yang agak berbeda dengan bahasa klasik. Penulis Muslim pada abad selanjutnya biasanya membedakan antara tiba’ sebagai atribut yang memiliki dirinya sendiri dan tabi’ah yang memberikan gerakan tanpa harus memilikinya sendiri.

e. Biologi
Tusi menulis secara ekstensif dalam ilmu biologi dan merupakan satu di antara perintis terdahulu di bidang evolusi biologis dalam pemikiran ilmiah. Dia memulai teori evolusinya dengan mengatakan bahwa jagat raya pernah mengandung elemen yang sama dan sebanding, dimana mereka berisikan partikel elementer. Menurut Tusi, kontradiksi internal mulai muncul dan sebagai hasilnya, beberapa substansi mulai berkembang lebih cepat dan berbeda dari substansi lainnya.
Ia kemudian menjelaskan bagaimana elemen berkembang menjadi mineral, kemudian tumbuhan, kemudian hewan, dan kemudian manusia. Tusi juga menjelaskan bagaimana variabilitas herediter merupakan faktor penting bagi evolusi biologis makhluk hidup. Organisma yang dapat memperoleh fitur baru lebih cepat akan lebih bervariasi. Sebagai hasilnya, mereka memperoleh manfaat dari makhluk lainnya. Tubuh berubah sebagai hasil dari interaksi internal dan eksternal.

f. Kimia dan Fisika
Di bidang kimia dan fisika, Tusi menetapkan versi terdahulu tentang hukum konservasi massa. Dia menulis bahwa bangun suatu benda dapat berubah, namun ia tidak dapat menghilang.
” A body of matter cannot disappear completely. It only changes its form, condition, composition, color and other properties and turns into a different complex or elementary matter.”

g. Matematika
Tusi mungkin saja yang pertama memperkenalkan trigonometri sebagai disiplin ilmu matematika secara terpisah, dan dalam “Treatise on the Quadrilateral”, ia memberikan eksposisi pertama yang ekstensif tentang trigonometrI speris, yang ia kembangkan menjadi bentuk yang dipakai saat ini, ia juga yang pertama membuat daftar enam kasus berbeda dari segitiga kanan dalam trigonometri speris.
Dalam bukunya “On the Sector Figure”, ia memformulasikan hukum sinus yang terkenal bagi segitiga (plane triangles), yang merupakan satu di antara sumbangan utamanya dalam matematika. Dia juga memperkenalkan hukum sinus bagi segitiga speris, menemukan hukum tangen bagi segitiga speris, dan menyediakan bukti bagi hukum-hukum ini.
Masalah garis paralel yang ditunjukkan oleh postulat paralel dari Euclids sangat menarik perhatian matematikawan Islam. Al-Tusi mungkin merupakan ahli yang paling matang dalam menangani hal ini. Dalam Risala ash Shafiya, al-Tusi menunjukkan bukti hipotesis Saccheri yang sama dengan postulat Euclid.
Pada tahun 1265 M, Tusi menulis sebuah manuskrip mengenai kalkulasi akar 9 dari integral. Lebih jauh lagi, ia menguak koefisien dari ekspansi binomial dan hubungan segitiga Pascal antar koefisien binomial. Dia juga menulis karya terkenal tentang teori warna yang didasarkan pada perpaduan hitam dan putih, serta menulis di bidang permata dan parfum.

D. Kondisi Sosial Politik
Menelusuri sejarah peradaban kaum Muslim sama artinya dengan membuka kembali lembaran-lembaran sejarah yang menggambarkan kemajuan yang pernah diperoleh oleh generasi kaum Muslim terdahulu. Zaman keemasan kaum Muslim saat itu dikenal dengan sebutan The Golden Age. Pada saat itu, kaum Muslim berhasil mencapai puncak kejayaan sains dan ilmu pengetahuan yang memberikan kemaslahatan yang amat besar bagi peradaban umat manusia pada umumnya. Penting dicatat The Golden Age terjadi ketika umat Islam masih memiliki Khilafah Islamiyah, negara tempat mereka bernaung. Pada masa itu, berbagai cabang sains dan teknologi lahir.
Al-Tusi dilahirkan pada abad ke-13 ketika tentara Mongol hampir menguasai seluruh wilayah Islam yang terbentang dari timur dekat Cina sampai ke bagian Barat benua Eropa. Pada saat pasukan Genghis Khan menyerang kampung halamannya, ia lari dan bergabung dengan kaum Ismailiyah. Ia pada akhirnya bergabung dengan barisan Hulagu Khan, setelah invasi terhadap benteng Alamut oleh pasukan bersenjata Mongol.
Serangan Mongolia menyebabkan berakhirnya pemerintahan Bani Abbasiyah. Upaya orang-orang Mongolia menguasai negeri-negeri Asia Tengah, Khurasan dan Persia merupakan awal dan permulaan dari penghancuran Baghdad dan Khilafah Islam. Mereka berhasil menaklukkan negeri Khawarizm dan menguasai Asia Kecil, dengan demikian Irak telah terbuka di depan mata mereka.
Hulagu dan pasukannnya menyerang Baghdad dengan pasukan yang sangat besar. Mereka langsung memenangkan peperangan sejak langkah pertama. Sementara itu Khalifah al-Mu’tashim langsung menyerah dan berangkat ke base pasukan Mongolia. Setelah itu para pemimpin dan fukaha juga keluar sehingga Baghdad kosong dari orang-orang yang mempertahankan kota. Maka, Hulagu membunuh khalifah dan orang-orang yang datang bersamanya.
Serangan tentara Hulagu ke daerah-daerah Islam tidak hanya menyebabkan kemunduran Islam secara politik yang ditandai dengan jatuhnya Baghdad sebagai Pusat kekhalifahan Abbasiyah, tetapi juga telah menyebabkan mundurnya kegiatan intelektual di kalangan pemikir-pemikir Muslim. Entah disebabkan oleh tekanan penguasa Tar-tar atau bukan, setidaknya dalam perkembangan pemikiran Islam, masa ini merupakan masa stagnan.
Ketika bangsa Tar-tar menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh kekhalifahan Abbasiyah, praktis tidak ada pemikir Islam yang muncul ke permukaan, khususnya di awal abad ke 13. akan tetapi, kepercayaan dan perlindungan khusus Hulagu kepada al-Tusi merupakan faktor penting yang menjadi cikal-bakal kebangkitan kembali pemikiran dan peradaban Islam yang sempat tenggelam beberapa saat. Inilah yang menjadi alasan penting mengapa pertumbuhan dan kebangkitan kembali filsafat dan sains Islam berpusat pada al-Tusi. Beliau bisa dianggap sebagai jembatan keberlanjutan tradisi intelektual Islam yang menghubungakan pemikir-pemikir Islam abad ke-12 dan generasi setelahnya.
Walaupun kondisi sosial politik sangat buruk saat itu, namun al-Tusi sebagai seorang sarjana tetap mempunyai semangat untuk mengembangkan ilmu astronomi. Ia membujuk Hulagu Khan untuk mendirikan observatorium (Rasad Khaneh) d Maraghah, Azarbaijan pada tahun 1259 M, yang dilengkapi dengan alat-alat mutakhir di masanya. Di sinilah ia menyusun tabel astronomisnya yang disebut “Zij al-Ilkhani” yang terkenal sampai ke Cina.

E. Khasanah Intelektual dan Karya-karyanya

“A Treatise on Astrolabe”, Isfahan 1505 M

Beberapa karya tulis yang disebutkan dalam wikipedia antara lain:
1. Tajrid-al-‘Aqaid – Karya utama dalam ilmu Kalam (Filsafat Islam skolastik).
2. Al-Tadhkirah fi’ilm al-hay’ah – Sebuah memoar di bidang Ilmu Astronomi. Banyak komentar yang ditulis tentang karya ini dalam “Sharh al-Tadhkirah” (Komentar terhadap al-Tadhkirah) – Komentar ditulis oleh Abd al-Ali ibn Muhammad ibn al-Husayn al-Birjandi dan oleh Nazzam Nishapuri.
3. Akhlaq-i-Nasiri – Karya di bidang etika.
4. al-Risalah al-Asturlabiyah – Risalah tentang astrolabe.
5. Zij-i ilkhani (Ilkhanic Tables) – Risalah astronomi yang utama, disempurnakan pada 1272 M.
6. Sharh al-isharat (Komentar terhadap “Isharat” karya Avicenna)

John Cooper mendata beberapa karya al-Tusi sebagai berikut:
1. (1235, 1265) Akhlaq-i Nasiri (The Nasirean Ethics), diterjemahkan G.M. Wickens, London: George Allen & Unwin, 1964. (merupakan terjemahan yang sangat cermat dengan pengantar dan catatan singkat)
2. (1242) Rawdat al-taslim (The Garden of Submission), dierjemahkan oleh C. Jambet, La convocation d’Alamût: somme de philosophie ismaélienne (Radat al-taslîm: Le jardin de vraie foi), Lagrasse and Paris: Éditions Verdier and Éditions UNESCO, 1996. (suatu karya teologi Isma’li.)
3. (1244-5) Asas al-iqtibas (The Ground for the Acquisition of Knowledge), ed. M. Radawi, Tehran: Tehran University Press, 1947. (teks logika yang utama dari Al-Tusi’s dalam bahasa Persia)
4. (kemungkinan setelah tahun 1246 M.) Sayr wa suluk (Contemplation and Action), editor dan terjemahan oleh S.J.H. Badakhchani, London: Institute for Ismaili Studies, 1997. (merupakan otobiografi yang ditulis al-Tusi selama ia menetap dengan kaum Isma’ili, dan tidak diwarnai dengan celaan seperti yang ia buat dalam periode kehidupan sesudahnya)
5. (sebelum 1258) Sharh al-Isharat (Commentary on the Isharat), ed. S. Dunya in Ibn Sina, al-Isharat wa-‘l-tanbihat, Cairo: Dar al-Ma’arif. 1957-60, 4 parts, 3 vols in 2; also in Ibn Sina, al-Isharat wa-‘l-tanbihat, Tehran: Matba’at al-Haydari, 1957-9, 3 vols. (Kedua edisi ini berisi komentar al-Tusi sebagai bagian dari komentar Fakhr al-Din al-Razi, kepada siapa al-Tusi merespon. Edisi Teheran juga berisikan komentar Qutb al-Din al-Razi, yang disusun untuk menengahi antara al-Tusi and al-Razi.)
6. (kemungkinan sebelum 1270-1) Tajrid al-kalam (Abstract of Theology). Pekerjaan teologis utama al-Tusi (juga dikenal sebagai Tajrid al-‘aqa’id dan Tajrid al-i’tiqad), dapat ditemukan dalam komentar yang ditulis muridnya Hasan ibn Yusuf ibn al-Mutahhar al-Hilli, Kashf al-murad fi sharh tajrid al-i’tiqad, Qum: Jama’at al-Mudarrisin, tidak ditemukan tanggalnya)

Beberapa karyanya yang dicantumkan dalam Sayr wa Suluk antara lain adalah :
1. Agahz wa Anjam
2. Tawalla wa Tabarra
3. Matlub al Mu’minin
4. Rawda-yi Taslim
5. Risala-yi Jabr wa Qadar
6. Al-Dustur wa Da’wat al-Mu’minin li al-Hudur
7. Mujarat i-Tusi
8. Jawab bi Kiya Shah Amir
9. Risala dar Ni’mat-ha, khushi-ha wa ladhdhat-ha

Sementara dalam First Encyclopaedia of Islam 1913 – 1936 , karya-karya penting dari al-Tusi disebutkan antara lain:
1. Kitab Tahdhīb al-Ahkam, merupakan karya hadis menurut mahzab Shiah. Terdiri dari dua volume dan diterbitkan di Iran.
2. Kitab al-Istibsar fi-ma khtulifa fihi min al Akhbar dan buku lainnya tentang Hadis. Karya yang pertama bersifat komprehensif dan berisi berbagai macam hadis, sedangkan yang kedua hanya berkenaan dengan tradisi yang tampaknya kurang bersesuaian. Yang pertama terbit di Lucknow tahun 1307 dan yang kedua di Teheran 1322.
3. Kitab al-Mabsut, intisari hukum Muhammad menurut mazhab Shiah. Diterbitkan di Teheran tahun 1271.
4. al-Nihaya fi’l-Fikh, ringkasan hukum-hukum Muhammad berdasarkan mazhab Shiah. Dicetak dalam bentuk risalah dengan subjek yang sama dengan judul al-Djawami al-Fikhiya. Diterbitkan tahun 1276.
5. dan lain-lain.

E. Pemikiran Utama : Akhlaq-i Nashiri
Risalah etika yang pertama ditulis oleh al-Tusi dan yang sangat terkenal adalah Akhlaq-i Nasiri. Risalah yang ditulis pada 1232 ini merupakan penjelasan Al-Tusi tentang filsafat etika menurut hukama atau filsuf dan didedikasikan khusus bagi Nasir al-Din ‘Abd al-Rahim, disusun sebagai karya etika filosofis. Karya ini dibagi ke dalam tiga bagian yaitu etika (akhlaq), ekonomi domestik (tadbir-e manzil), politik (siyasat-e mudun) – sehingga tersusun pola selanjutnya dalam filsafat praktis dalam tradisi Islam. Karya tusi ini merupakan terjemahan dari karya Ibn Miskawaih Tahzib al-Akhlaq.
Setelah al-Tusi bergabung dengan Hülagü, ia merubah pendahuluan dan kesimpulan dari karyanya tersebut, mengatasnamakan pujiannya atas kepemimpinan Isma’ili sebagai keadaan darurat. Lebih daripada itu, ia menambahkan bahwa karya tersebut secara tegas merupakan karya filosof yang lebih penting dari sekedar perbedaan-perbedaan yang picik dan karya ini bermanfaat bagi semua orang. Karya tersebut dapat diperuntukkan bagi pembaca Persia dalam tradisi etika Islam yang diambil dari filsafat Yunani namun telah disesuaikan dengan materi dari al-Quran berdampingan dengan opini Plato dan Aristoteles. Keadilan secara eksplisit ditampilkan di bagian depan sebagai kebaikan tertinggi melintasi ketiga bagian buku, secara implisit dihubungkan dengan teologi Shi’ah dan prioritas yang terakhir diberikan bagi keadilan di antara sifat-sifat ketuhanan; dan etika filsafatis dan hukum keagamaan ditetapkan untuk diperhatikan sesuai dengan kondisinya, sekaligus mengukuhkan kapasitas intelektual dalam cara yang hanya dapat diterima pada masa dalam lingkungan Shi’ah.

F. Pengaruh Pemikiran dalam dunia Pendidikan dan Moral
Jalan untuk sampai kepada Allah adalah al-maqamat al-qalbiyyah (maqam-maqam hati), seperti taubat, introspeksi diri, takut, harapan dan, pengawasan dari Allah… serta al-shifat al-quluqiyah seperti jujur, iklas sabar…. yang merupakan sifat-sifat Salik dalam perjalanannya untuk mengetahui Allah secara dzauqiyah (hanya dirasakan), dan untuk sampai (al-wushul) pada maqam Ihsan yang tingkatan-tingkatannya tak terbatas. Sebagai seorang sufi, Al-Tusi juga memiliki pemikiran tentang hal ini yang dituangkannya dalam sebuah buku kecil berjudul Awsaf al-Asyraf. Atributes of the Noble. Dalam buku ini ia membahas maqam-maqam ini secara sederhana sehingga mudah dipahami.
Sikap istimewa kaum Sufi adalah dalam memberikan makna terhadap ajaran-ajaran Islam yang mereka pandang dari dua aspek, yaitu aspek lahiriyah-seremonial dan aspek bathiniah-spiritual. Bagi mereka, ada pengertian yang lebih mendalam dan lebih menembus dalam kata-kata yang tertulis dalam al-Quran dan Hadis. Pikiran seperti itu tidaklah tumbuh dari keinginan untuk menghindarkan diri dari kata dan dogma yang keras, akan tetapi didasarkan atas suatu penilaian yang luas dan mendalam. Bahwa susunan kata itu mengandung arti yang lebih daripada itu. Penilaian ini dikombinasikan dengan perasaan yang halus tentang kekuatan transendentalitas dari zat Tuhan.
Sebagai seorang sufi, al-Tusi juga terkenal dalam menelurkan pemikiran-pemikiran yang diperoleh dari hubugan langsungnya dengan Tuhan. Menurut al-Tusi yang baik datang dari Tuhan sedang yang buruk muncul sebagai kebetulan (‘ard) dalam perjalanan yang baik itu. Dalam dunia manusia, keburukan kadang terjadi lantaran kesalahan penilaian atau penyelahgunaan karunia Tuhan yang berupa kehendak bebas. Tuhan sendiri menghendaki kebaikan yang menyeluruh, tapi selubung indera, imajinasi, kesenangan, dan pikiran menutupi pandangan kita danmengaburkan pandangan memperkirakan akibat-akibat dari tindakan yang mengakibatkan adanya kesalahpilihan, yang pada gilirannya menimbulkan keburukan.
Mengenai mengapa suatu dosa yang terbatas dikenai hukuman yang tak terbatas dari Tuhan, Tusi menjawab bahwa merupakan suatu kesalahan untuk menisbahkan pahala atau hukuman kepada Tuhan. Sebagaimana yang baik, pada dasarnya dan mesti pantas menerima karunia dan kebahagiaan abadi, maka yang tidak baik juga, pada dasarnya dan mesti, pantas menerima hukuman dan kesedihan abadi pula.

G. Penutup
Nashiruddin ath-Tusi atau Nasir al-Din al-Tusi dikenal sebagai ilmuwan yang memiliki pengetahuan yang luas dan lintas bidang. Pemikirannya sangat dipengaruhi lingkungan masa kecilnya dari keluarga Shiah yang sangat mementingkan ilmu pengetahuan dan dasar-dasar agama Islam mazhab Shiah. Pada masa selanjutnya ketika bermukim di Quhistan, ia juga terpengaruh oleh pola Ismailiyah.
Walaupun memiliki banyak karya, al-Tusi seringkali kurang diakui karena dianggap hanya meneruskan karya-karya besar pendahulunya dan tidak memiliki karya orisinal. Karya monumentalnya yang dianggap paling banyak berjasa adalah saat berhasil membujuk Hulagu Khan untuk mendirikan observatorium (Rasad Khaneh) d Maraghah, Azarbaijan pada tahun 1259 M

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, Abdul Fatah Idris, Abdul Rahman. Filsafat Islam. Semarang: Toha Putra.

Bearman, P.J., Bianquis, TH., Bosworth, C.E., van Donzel, E. dan Heinrichs, W.P. 2000. The Encyclopaedia of Islam. Vol X. Leiden, Netherlands: Koninklijke Brill.

Dallal, Ahmad; Blair, Sheila S. & Bloom, Jonathan M.; Fakhry, Majid; Esposito, John L. (eds.). 2004. Sains-sains Islam. Depok: Inisiasi Press.

Drajat, Amroeni. 2005. Suhrawardi. Kritik Falsafah Paripatetik. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.

Hasan Asari. 2007. Menyingkap Zaman Keemasan Islam. Bandung: CitaPustaka Media.

Hasan Asari. 2008. Etika Akademis dalam Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Houtsma, M. TH, Wensick, A.J., Gibb, H.A.R., Heffening, W. dan Provencal, E. Levi. 1987. E.J. Brill’s First Encyclopaedia of Islam 1913 – 1936 vol. VIII Leiden, Netherlands: E.J. Brill’s.

Hossein Nasr, Seyyed. 1993. An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines. Albany: State University of New York Press.

Khomeini, Imam. 2004. Insan Ilahiah. Jakarta: Pustaka Zahra.

Lewis, Bernard et. al. 1976. The World of Islam. London: Thames and Hudson.

Said, Usman, dkk.. 1983. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam.

Nasr, Seyyed Hosein. 1997. Sains dan Peradaban di dalam Islam. Bandung: Pustaka. h. 23-41

Syarif, MM. 1996. Para Filosof Muslim. Bandung: Penerbit Mizan.

Syeikh Abdul Qadir Isa. 2007. Cetak Biru Tasawuf. Spiritualitas Ideal dalam Islam. Jakarta: Ciputat Press.

ath-Tusi Khawajah Nasiruddin. 2003. Menyucikan hati Menyempurnakan Jiwa. Terjemahan ‘Awsaf al-Ashraf. Atributes of the Noble’. Jakarta: Pustaka Zahra.

Tusi, Nasir al-Din. 1999. Contemplation and Action. A Spiritual Autobiography of a Muslim Schoolar. New York: Islamic Publication Ltd.

al-‘Usairy, Ahmad. 2003. Sejarah Islam. Terjemahan. Jakarta: Akbar Media Sarana.

Sumber-sumber dari Internet:

alasyjaaripb. 1 April, 2008. Kemajuan Sains dan Teknologi Pada Masa Kekhilafahan Islam. Website: Http/www/google.co.id. Diakses 14 Oktober 2008.

Cooper, John. al-Tusi, Khwajah Nasir (1201-74). 1998. Routledge. Website: Http/www/google.co.id. Diakses 14 Oktober 2008.

Pustaka al-Mubin. 2008. Seri Mengenal Sifat-Sifat Tuhan. Website: Http/www/google.co.id. Diakses 14 Oktober 2008.

Wikipedia. 2008. Website: Http/www/google.co.id. Diakses 14 Oktober 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s