PENERJEMAHAN: PERMASALAHAN DAN METODE

Penulis: Peter Hobson (Ismā’īl Abdu’l-Bāqī)

Disarikan dari buku
“Phylosophy, Literature and Fine Arts (1982)” Bab Enam
Editor: Seyyed Hossein Nasr
Hodder and Stoughton-King Abdulaziz University, Jeddah

Oleh :
Sri Mulyani Nasution

Pendahuluan
Menerjemahkan merupakan suatu seni. Namun demikian, ada garis-garis besar pertimbangan tertentu dan prinsip-prinsip tertentu mengenai bidang ini. Karena bahan utama dalam ketrampilan ini adalah bahasa, maka harus dimulai dengan mengkaji secara singkat mengenai sifat dari ucapan, kata-kata, serta sifat dari bahasa itu sendiri (h. 71).

Sifat Bahasa
1. Bahasa adalah karunia Allah kepada Manusia yang diperoleh ketika ia sedang dalam keadaan terpuruk (saat Adam berada dalam keadaannya yang sudah terpuruk) (QS. II:37) (h.71. a.3):
“ Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.
Saat itu manusia dalam keadaan terpuruk setelah Adam diusir dari Surga, menjadi wakil Allah di muka bumi (khalīfatu’llāh) dan memberikan bukan hanya karunia berupa kemampuan berbicara tetapi juga berupa Wahyu melalui perantara Ucapan Ilahi (QS. II:38).
” Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

2. Ada dua kutub utama bahasa bila merujuk kepada dua ayat al-Quran yang berurutan di atas (QS. II:37, QS. II:38) :
a. Ucapan Wahyu Ilahi yang, dalam ungkapan bahasa manusia disebut sebagai gaung sang Absolut dalam bentuk relatif untuk kepentingan keselamatan Manusia;
b. Bahasa manusia yang bersifat relatif dan tidak sempurna, seperti segala sesuatu yang diciptakannya – karena hanya Allah yang sempurna – tetapi merupakan karunia unik Allah kepada Manusia dimana Manusia dibedakan dan ditinggikan di atas seluruh mahkluk lainnya. Fungsi tertinggi bahasa manusia adalah doa; dengan demikian, bahasa merupakan penghargaan bagi kemuliaan Manusia yang bersifat bawaan (fiţrah) (h.72, a. 1-2).

3. Dalam kondisi primordial Manusia Kemampuan berbicara sebagai fiţrah manusia tidak tergantung kepada organ bicara tubuh dan getaran udara, tetapi merupakan operasi langsung kemampuan Akali/Kecerdasan (al-‘aql) atau Ruh (al-rūh), yang menggemakan Ucapan Ilahi yang dilambangkan oleh Firman sang Pencipta ‘jadilah!’ (kūn). Menamai sesuatu dengan Namanya yang sebenarnya berarti mengakui/memahami secara langsung sebagaimana ia eksis dalam Realitas (h.72, a.3); dalam kondisi tersebut, Nama adalah Nama dan gemanya – atau menurut sebagian orang merupakan radiasi – bukanlah di udara, secara metafisik berada pada eter . Dalam situasi ini, kemampuan berbicara dan pengetahuan Adam
Apabila, setelah kejatuhannya Manusia masuk ke dalam keadaan badaniah, bahasanya menjadi tergantung pada organ-organ bicara tubuh dan getaran udara, namun tetap mempertahankan kualitas kemurnian dan kesatuan surgawi, karena Manusia diciptakan dari jiwa yang tunggal (h.72, a.4).
4. Adanya kelompok-kelompok etnis menghasilkan bentuk-bentuk ucapan yang ditentukan dan dibatasi oleh pola-pola pikir.
Mengacu pada masa jauh ke depan dalam sejarah Manusia — kisah Menara Babel, dalam Wahyu Monotheisme kita temukan tentang berpencarnya manusia dan beranekaragamnya bahasa. Dari titik ini kita bisa mempersepsikan pembagian manusia ke dalam kelompok-kelompok etnis, masing-masing dengan bahasa yang tepat untuk keadaannya, lingkungannya, kondisi psikologisnya dan bentuk peribadatannya – proses elaborasi yang berkesinambungan, dan terjadinya fragmentasi (perpecahan/pengelompokan), di mana pola-pola pikir menghasilkan bentuk-bentuk ucapan, dan ucapan ditentukan dan dibatasi oleh pola-pola pikir. Terjadinya pengurangan dan penambahan dalam bahasa manusia menjauhkannya dari kemurniannya. Kondisi ini bersamaan pula dengan kerusakan fonetik yang tampak jelas, hilangnya bahasa tertentu secara mutlak dan pemiskinan makna menyusul kata saat digunakan secara terus menerus pada konteks keduniaan. (h.72, a.5). Kondisi ini seolah menjauhkan diri dari Pusat Ketuhanan atau dari bentuk dasar kemampuan bicara yang bersifat Ketuhanan.
5. Telah terjadi perluasan yang progresif yang merupakan kemunduran, atau kemerosotan dalam perkembangan bahasa manusia. Terbaginya bahasa pada masa sekarang ini ke dalam rumpun-rumpun bahasa besar – Yahudi, Arya, Hamitik, Bantu, Sinic, Turki dan lain sebagainya – masing-masing dengan ramifikasinya/percabangan yang tak terkira ke dalam subrumpun-subrumpun menyebabkan bahasa-bahasa dan logat-logat menjadi terpisah. Penurunan dalam ucapan/bahasa berupa penurunan dari kedudukannya di Hati ke pikiran, ke otak dan organ-organ suara; dari kesatuan ke kemajemukan; dari ketunggalan dan kemurnian ke kejamakan dan penurunan relatif; dari bahasa mulia Wahyu ke ucapan sehari-hari; dari persepsi langsung sang Intelek ke alasan spekulatif (catat dalam konteks ini, hubungan antara ‘logos dan logika’ dan antara ‘nutq’ dan ‘mantiq’); dari kekekalan ke kesementaraan (catat penekanan relatip dalam bahasa modern pada definisi yang tepat dari tenses kata kerja dibandingkan dengan bahasa kuno); dari pertimbangan kualitatip ke pertimbangan kuantitatip (ada baiknya dicatat, misalnya, bahwa dalam bahasa Timur Jauh tertentu, di mana semua kata benda sebelumnya diperlakukan sebagai bersifat kolektif, sekarang menjadi bersifat kebiasaan untuk menggunakan bentuk-bentuk yang berbeda untuk tunggal dan jamak, dan menarik untuk dicatat bagaimana, dalam bahasa modern tertentu, kata kerja tertentu yang berarti ‘menceritakan, menghubungkan, berbicara’ dikembangkan dari kata kerja yang pada awalnya berarti ‘menghitung’, misalnya, ‘to tell’ atau ‘to recount’ dalam bahasa Inggris, ‘raconter’ dalam bahasa Perancis, ‘bilang’ dalam bahasa Melayu modern, dan lain sebagainya); dari yang bersifat psikologik secara subtil ke yang kenyataan secara empiris. (h.73, a.1).
6. Tak satupun bahasa manusia sekarang ini yang bentuk akar katanya tetap bertahan seperti sebelumnya; yang tampak jelas hanyalah bentuk awal dari mana kata tersebut berasal. Oleh karena itu dalam teori dimungkinkan mengembangkan sebagian besar kata dalam bahasa Sansekerta dari 800 akar kata kerja, di mana tak satupun di antaranya yang masih digunakan saat ini. Sama halnya, dengan bahasa Arab, dalam bahasa Arab akar kata trikonsonan memancar melalui kata-kata yang berasal darinya – seperti kata-kata baru RAHIMAH, RAHMAN, RAHIM, RAHMAH, MARHAMAH, RAHIM, ARHAM atau ARHAM semuanya memancar dengan akar R = H = M – tetapi akar kata itu sendiri hanya dapat dikonsepsikan sebagai sejenis abstraksi, seperti pancaran matahari terbenam ketika matahari terbenam di cakrawala. Sekalipun bahasa Arab merupakan bahasa yang paling mulia dan paling purba di antara bahasa-bahasa yang masih tetap mampu bertahan, yang merupakan suatu keajaiban yang dilestarikan Allah untuk Wahyu Terakhir-Nya, yang dalam sejarahnya dari segi fonologi dan morfologinya jauh melampaui sebagian besar bentuk kuno bahasa Yahudi (h.74, a.1-2)
Mungkinkah tidak signifikan bahwa kata ‘lughah’ pasti menjadi kata yang biasa digunakan dalam bahasa Arab modern untuk kata ‘bahasa’? Kata ini tidak muncul dalam al-Quran sama sekali – dalam al-Quran al-Karim yang digunakan adalah kata ‘lisan’ – dan kata ini berasal dari akar kata L – GH – W yang memiliki sifat merendahkan dan terlalu bernada duniawi seperti misalnya yang tercantum dalam al-Quran al-Karim: ” Mereka tidak mendengar di dalamnya Perkataan yang sia-sia dan tidak pula Perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar Ucapan salam.
Allah berfirman: “dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Saat ini, hal tersebut harus diaplikasikan pada manusia dalam semua aspek dalam diri mereka, terutama kepada aspek yang yang membedakan mereka dengan makhluk lain, dalam hal ini : kemampuan berbicara. Ini berarti bahwa semua kemampuan berbicara manusia, semua bahasa manusia yang diberikan Allah memiliki tingkatan. Lidah tertentu secara instrinsik lebih terhormat, dalam bahasa tunggal, bentuk tertentu lebih terhormat dari bentuk lainnya. Sekaligus hal tersebut menimbulkan rasa percaya diri kaum Muslim bahwa bahasa Arab memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan bahasa Inggris.
Ada dua alasan mengapa masalah di atas perlu didiskusikan.
a. Saya tidak yakin bahwa setiap penerjemah sangat memperhatikan penerjemahan secara serius, terutama kata yang diucapkan Allah atau Orang-orang suci Allah, atau sesungguhnya setiap subjek agama, dapat menganggap dirinya berkualifikasi untuk tugasnya kecuali ia mempertimbangkan fakta-fakta ini;
b. karena pertimbangan mereka secara efektif menghancurkan dua gagasan Barat modern yang telah diterima secara luas – dengan senang hati atau hanya setengah disadari – oleh sebagian besar orang di zaman kita ini; yaitu gagasan tentang kesamaan dan kemajuan.

Lebih tepatnya adalah gagasan bahwa,
a. setiap bahasa bisa diterjemahkan ke dalam setiap bahasa lainnya dengan proses teknis dan hampir mekanis dan bahwa, bila sumberdaya satu bahasa tampaknya tidak layak, itu hanya soal memikirkan kata-kata baru atau meminjamnya dari bahasa lain;
b. bahwa bahasa modern dengan sebagian besar perlengkapan kata-kata baru untuk ide-ide baru, presisi ‘ilmiahnya’ dan kekayaan retorikanya entah kenapa lebih unggul dari bahasa kuno, dan bahwa ide-ide tradisional seperti yang diekspresikan dalam bahasa-bahasa kuno sangatlah tepat dibuang seluruhnya atau sebagian, atau dilestarikan dengan baik dengan menampilkannya kembali dalam idiom modern, yang tidak selamanya berlaku, dan jelas tidak demikian halnya pada sebagian besar kasus. Kedua gagasan pada dasarnya salah.
Permasalahan dalam Penerjemahan
1. Menerjemahkan pada dasarnya berarti membentuk ulang, atau bahkan menciptakan kembali, teks asli dalam bahasa lain; dalam proses ini sebagian dari aslinya – termasuk bunyinya – harus hilang dan sesuatu yang baru – sesuatu yang tidak ada dalam aslinya – ditambahkan sebagai kompensasinya; masalahnya adalah menentukan apa yang bisa dianggap benar untuk dihilangkan dan untuk ditambahkan (h.75, a.3).
Solusi :
Solusi penerjemah untuk masalah ini jelas harus tergantung pada sifat intrinsik teks (misalnya Teks Suci atau lainnya), pada sifat dan penggolongan bahasa asli dan pada potensialitas ekspresif dan kedudukan bahasa yang akan dipakai untuk menerjemahkan. Bahkan ada kasus dimana diambil kesimpulan bahwa penerjemahan tidak boleh diupayakan sama sekali (h.75, a.4).
Contoh kasus ekstrim adalah upaya penerjemahan teks Wahyu Ilahi dari bahasa yang dipilih untuknya oleh Allah Swt. ke dalam idiom modern suatu bahasa. Penerjemahan semacam itu sangat mustahil dilakukan, karena apa yang hilang dalam proses tidak dapat digantikan kembali dan apa yang ditambahkan merupakan suatu kelancangan. Oleh karena itu, al-Quran al-Karim, pada prinsipnya tidak bisa diterjemahkan (h.75 – 77).
2. Masalah leksikografik (penyusunan kamus) tidak dapat dipisahkan dari masalah pertama. Tidak seperti pada bahasa-bahasa utama Eropa, dimana tersedia kamus-kamus yang sangat bagus dan komprehensif, kamus umum dan kamus khusus; tidak demikian halnya pada semua bahasa etnis Islam yang sangat beraneka ragam. Walaupun ditemukan kamus umum yang sangat baik, namun kurang dapat dipastikan apakah sudah cukup memadai (h.78, a.2).
Aspek lain dari masalah ini adalah bahwa standardisasi terminologi untuk menjamin agar satu dan istilah yang sama tidak boleh diterjemahkan dengan padanan yang sangat berbeda di tangan penerjemah yang berbeda (h.78-79).
Solusi :
Jawaban untuk masalah leksikografik tampaknya ada dua: pertama, apakah perlu, menterjemahkan melalui bahasa ketiga – misalnya, menterjemahkan bahasa Arab ke dalam bahasa Thailand, jika ini memang suatu keharusan, melalui bahasa Inggris; dan yang kedua, menyusun topik-topik dengan cara sedemikian rupa sehingga proses penterjemahan bisa dikombinasikan dengan proses leksikografi untuk menjamin standardisasi terminologi dan secara lambat laun memproduksi kamus baru bilamana itu dibutuhkan (h.79, a.2).

Metode Penerjemahan
Ada dua kategori penerjemahan :
1. Penerjemahan harfiah pada pokoknya dimaksudkan sebagai petunjuk untuk bahasa aslinya, dan tidak bertujuan sastra;
2. Penerjemahan sastra yang ditujukan bagi orang yang tidak berminat atau mempunyai akses linguistik kepada bahasa aslinya. Dimana hal ini dimaksudkan sebagai teks yang mudah dibaca dan elegan (h.79, a.3).

Dalam prakteknya, kedua kategori di atas kerapkali membingungkan dan kadangkala bisa dibenarkan. Hal demikian terjadi bila hubungan antar bahasa atau keahlian khusus yang dimiliki penerjemah memungkinkan untuk penerjemahan harfiah dan penerjemahan eksak sekaligus digabungkan dengan teks sastra yang elegan. Dalam kasus historis lainnya, pentingnya sisi budaya dari teks yang diterjemahkan secara harfiah ke dalam sejenis ‘hasil penerjemahan’ melahirkan genre/gaya sastra yang sama sekali baru di dalam bahasa terjemahan, terutama jika bahasa aslinya mempunyai prestise budaya yang sangat tinggi (h.79-80).

Dua metode Penerjemahan yang utama adalah:
1. Penerjemahan oleh komite, yang bisa sangat cocok untuk penerjemahan harfiah;
2. Penerjemahan oleh perorangan yang secara keseluruhan lebih kondusif untuk penerjemahan sastra dan penerjemahan yang elegan (h.80, a.1).

Akan tetapi, jika diputuskan untuk menghasilkan penerjemahan yang akan berdiri sendiri, yang bukan hanya dimaksudkan bagi siswa bahasa aslinya tetapi bagi khalayak umum – mungkin termasuk non-Muslim yang mau ditarik ke dalam Islam – maka, menurut saya, faktor-faktor berikut kiranya relevan (h.80, a.3):
1. Penerjemah harus menguasai bahasa ibunya sendiri, benar-benar mengetahui berbagai mode sastra, rincian tatabahasa dan kemungkinan-kemungkinan ekspresif dan menyadari kekuatan dan kelemahannya, dan kemudian ia hanya boleh menerjemahkan ke dalam bahasa ibunya.
2. Jika, karena alasan praktis, penerjemah diharuskan menerjemahkan ke dalam suatu bahasa yang bukan bahasa ibunya, sekalipun ini merupakan bahasa dimana ia menerima sebagian besar pendidikannya, maka ia harus siap sedia mengajukan hasil karyanya untuk mendapat kritikan dan koreksi dari pembicara bahasa asli yang diberitahu dan sensitif ke terhadap bahasa yang menjadi target terjemahan.
3. Dalam kasus manapun, dan apapun kualifikasinya dalam bahasa dari mana ia menerjemahkan dan ke dalam mana ia menerjemahkan, penerjemah idealnya haruslah orang yang baik dan rendah hati, sebab ia diharuskan tetap mempertahankan ketajaman linguistik dan sastranya di satu pihak dan, di lain pihak, mengorbankan egonya sampai titik paling tepat dalam penyampaikan ide dari satu medium ke medium lainnya tanpa memaksakan gagasan-gagasan atau warna mentalnya sendiri; dan ini tidak selalu mudah.
4. Penerjemah, idealnya, haruslah benar-benar mengetahui, dan lebih baik lagi condong ke arah, topik yang ia tangani.
5. Penerjemah, bila memungkinkan, memiliki kualifikasi di atas, pertama sekali haruslah mengakrabi tulisan secara keseluruhan yang diperkirakan ia terjemahkan; kemudian, dengan mempertimbangkan gaya, kualitas dan periode sejarah teks asli, ia harus memutuskan tentang bentuk bahasa yang tepat untuk penerjemahan dan mentaatinya secara konsisten.
6. Jika punya waktu, seorang penerjemah harus lebih dulu menghasilkan terjemahan dengan menunjukkan kesetiaan yang sebesar mungkin terhadap teks asli, dan tentu saja tidak perlu menerjemahkan se harfiah mungkin sebab kurang tepat sasaran bila menerjemahkan teks asli yang indah ke dalam reproduksi yang jelek dalam bahasa kedua karena mengatasnamakan ketepatan. Keseluruhannya kemudian harus diperiksa kembali baik oleh si penterjemah dan orang lain, sehingga menghasilkan versi akhir yang telah dipoles dari versi pertama. Jika waktu mengizinkan, selang beberapa waktu kemudian, bila telah mampu membebaskan pikiran dari idiom asli, tidak bisa tidak harus mulai memikirkan kesalahan dalam gaya terjemahan.
7. Puisi merupakan kasus khusus, sebab hanya penyair atau pujangga, atau orang dengan perasaan yang kuat terhadap puisi dengan bahasanya sendiri, yang diharapkan bisa melakukannya dengan pantas dan orang sedemikian tidak perlu memiliki kualifikasi secara linguistik untuk mengerti puisi dalam bahasa lain. Dalam kasus ini, lebih baik apabila si penerjemah dan si penyair bekerjasama, yang satu mengeksplorasi dan menggali arti dan yang lain membentuknya kembali sebagai syair dalam bahasa ibunya.
8. Terakhir, semua yang disebutkan dalam subparagraf sebelumnya dapat memenuhi syarat dengan mengatakan bahwa para penerjemah baik yang memiliki kualifikasi dalam bahasa asli maupun yang menguasai secara layak bahasanya sendiri tidak cukup banyak jumlahnya, sehingga jika program penerjemahan berskala besar hendak diupayakan, maka kerjasama antara orang yang menguasai bahasa aslinya dan yang menguasai bahasanya sendiri merupakan metode yang dapat dipertahankan, asalkan masing-masing bersedia untuk saling melengkapi (h.80 – 82).

Kesimpulan
Dalam tulisan di atas, hanya disinggung mengenai masalah umum dan persoalan prinsipil yang antara lain:
1. Masalah penerjemahan buku-buku teks baru lebih membebani penulisnya ketimbang penerjemahnya. Asalkan buku-buku mempunyai isi yang bagus dan ditulis dengan jelas, tidak ada masalah khusus; satu-satunya pertanyaan adalah apakah buku teks yang ditulis dalam bahasa lokal, dengan mencamkan persyaratan-persyaratan lokal, akan senantiasa berlaku sah untuk daerah lain.
2. Untuk mendirikan biro penerjemah permanen jelas merupakan ide yang baik jika tujuan utamanya adalah untuk menjamin kualitas terjemahan yang tinggi, standardisasi terminologi dan produksi kamus dan buku tatabahasa di mana itu semua dibutuhkan.
3. Pusat implementasi, dengan fungsi-fungsi yang disarankan dalam memorandum, merupakan ide yang sangat bagus, tetapi fungsi-fungsi ini juga bisa digolongkan menurut jenis akademi yang disebutkan di atas atau, sebagai alternatif, keduanya harus bekerjasama dengan kolaborasi paling erat yang mungkin dilakukan.
4. Penerjemahan al-Quran al-Karim menimbulkan banyak sekali pertanyaan subtil dan pelik. Sebagian dari masalah ini telah saya singgung dalam tulisan ini (h.82-83).

Agar mampu menahan efek korosif Westernisasi dan konsep-konsep kebarat-baratan pada kehidupan Islam, di bidang pendidikan sebagaimana juga di bidang lainnya, tidaklah cukup menerima begitu saja dasar pemikiran Barat dan modern tertentu dan kemudian berusaha entah dengan cara apa untuk ‘meng-Islamkannya’ atau dengan kata lain ‘memodernisasi’ Islam. Pada dasarnya yang diperlukan adalah menjamin pelestarian dan integritas cara hidup Islam yang terkandung di dalam al-Quran al-Karim dan tradisi-tradisi Nabi Saw. dalam kodifikasi bidang-bidang hukum dan dalam tulisan-tulisan para sufi (h.83, a.4).
Dalam hal ini, penterjemahan bisa – dan harus – memegang peranan penting di mana akses kepada bakat yang tak terkira karena Bimbingan Ilahi menjadi terkendala oleh kendala-kendala bahasa. Tetapi tujuan utamanya haruslah untuk menuntun orang – atau menuntun mereka kembali – ke aslinya, terutama dalam kasus al-Quran, dan ke prinsip-prinsip pertama (h.84).

DAFTAR PUSTAKA

Yayasan Penyelenggara Penerjemah al-Quran. al-Quran dan Terjemahnya (Jakarta: Departemen Agama RI, 1983).

Bram, Leon L. dan Dickey, Norma H., Funk & Wagnalls New Encyclopedia. Vol. 9 (USA: Funk & Wagnalls L.P., 1990)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s