PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM

Dra. Sri Mulyani Nasution, M.Psi.

Kajian tentang pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari filsafat. Namun demikian, ada satu kekhawatiran mengenai boleh atau tidaknya mengkaji filsafat dalam Islam. Isu mengenai hal ini memang sudah lama menjadi perdebatan, seperti yang di kemukakan Nasr bahwa pengajaran filsafat kepada mahasiswa Muslim bukan hanya harus dimulai dengan pemahaman Islam tentang arti filsafat, tetapi dengan kajian cermat tentang seluruh tradisi intelektual Islam. Sebelum mahasiswa terpapar pada Descartes dan Kant atau bahkan Plato dan Aristoteles seperti yang tampak melalui mata pelajaran filsafat Barat modern, ia harus menerima landasan yang cermat dalam filsafat Islam dan bidang keahlian lainnya yang memiliki impor filosofis. Akan tetapi, mengingat bahwa filsafat adalah suatu istilah polisemik – suatu kata dengan banyak arti – maka sudah pasti dapat dikatakan bahwa tidak mungkin mempunyai sistem pendidikan tanpa “filsafat” dalam arti “tertentu”, sekalipun mata pelajaran ini tidak disebutkan dengan nama demikian. Karena itu, harus diterima bahwa tidak mungkin menanamkan pengetahuan dan sistem pendidikan formal tanpa filsafat, baik sebagai pandangan-dunia maupun metode untuk mendisiplinkan pikiran. Karena itu, yang menjadi pertanyaan adalah apakah orang harus mengajarkan filsafat kepada mahasiswa Muslim; jenis atau jenis-jenis filsafat apa yang harus diajarkan; dan bagaimana materi ini harus didekati.
Dengan kata lain, kita tidak mungkin mengelak dari belajar filsafat karena mengkaji pengetahuan juga berarti berfilsafat. Namun demikian, kita harus selalu menjadikan Al Qur’an sebagai sumber rujukan utama. Sesuai dengan apa yang dicanangkan dalam “The First International Muslims Education” di Mekkah bahwa sumber utama dari semua pendidikan Islam yang otentik adalah Al Qur’an.
Bagi banyak Muslim tradisional yang belum tersentuh pendidikan modern, istilah filsafat masih mengimplikasikan ‘wisdom’, al-hikmah, yang diasosiasikan dengan para nabi dan juga orang-orang suci Muslim. Memang benar bahwa tradisi intelektual Islam terlalu kaya dan beraneka ragam untuk memberikan hanya satu arti untuk istilah al-Quran ini (al-hikmah), juga benar bahwa beberapa perspektif intelektual yang dipupuk di dalam Islam segala yang memenuhi doktrin ketunggalan (al-tawhid) dan bahwa orang bisa sampai pada pemahaman tentang arti dari istilah, filsafat, sebagai pengetahuan tentang sifat dari segala sesuatu yang menghasilkan dan yang didasarkan pada al-tawhid dan karenanya sangat Islami sekalipun pada awalnya bukan berasal dari sumber-sumber Islam. Pandangan para filsuf Islam tradisional bahwa ‘filsafat berasal dari lentera nubuat’ (the lamp of prophecy) berkembang langsung dari landasannya al-tawhid sebagai kriteria untuk ke-Islaman pengajaran tertentu. Dalam setiap kasus filsafat dapat didefinisikan ulang menurut standar Islam guna memberikan kekuatan intelektualnya tetapi dalam waktu yang bersamaan tetap melekat pada penyataannya dan doktrin utamanya yang tiada lain adalah ketunggalan. Sejak awalnya ide filsafat yang berlaku sekarang ini sebagai sikap skeptis dan keraguan, sebagai aktivitas individualistik manusia sebagai orang yang memberontak terhadap Allah, dan sebagai objektivisasi limitasi manusia tertentu yang disebut filsuf, haruslah dibuang jauh-jauh dari pemikiran mahasiswa. Itu haruslah diganti dengan ide hikmat, universalitas, kepastian dan sifat supra-individual dari bukan hanya Kebenaran tetapi juga rumusan-rumusan dan tradisional dan kristalisasinya sehingga filsafat menjadi identik dengan perspektif intelektual kekal seperti yang selalu tampak demikian di Timur dan bukan penafsiran individualistik atas realitas sebagaimana halnya dengan filsafat Barat sejak masa Descartes.

A. Cara Memperoleh Pengetahuan
Berbicara mengenai cara memperoleh pengetahuan berarti berbicara mengenai epistemologi. Epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji tentang asal usul pengetahuan. Terminologi ini pertama sekali dipakai oleh J.F. Feriere yang membagi dua cabang utama filsafat kepada ontologi dan epistemologi. Secara umum ontologi dapat disejajarkan dengan metafisika, namun pengertiannya dalam bahasa Latin adalah teori mengenai “Ada” (theory of being), sedangkan epistemologi sebagai teori pengetahuan (theory of knowledge). Hunnex memberikan definisi yang secara umum dapat diterima untuk menjelaskan fokus pembahasan epistemologi yaitu: dari mana kita memperoleh pengetahuan (sumber pengetahuan)? Bagaimana hubungan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui (struktur, situasi pengetahuan)? Apa kriteria pengetahuan yang disebut benar? Apakah yang menjadi batas (wilayah) ilmu pengetahuan? Jadi epistemologi adalah cabang filsafat yang secara sistematis membahas tentang sifat dasar, sumber, dan validitas pengetahuan. Epistemologi pada dasarnya merupakan satu upaya evaluatif dan kritis tentang pengetahuan (knowledge) manusia, sedangkan filsafat ilmu adalah refleksi kritis atas ilmu pengetahuan (science). Ilmu pengetahuan merupakan salah satu bentuk pengetahuan yang memiliki ciri-ciri dan metode khusus.
Menurut Holt, epistemologi merupakan studi tentang teori pengetahuan dan merupakan bidang yang sangat penting dalam filsafat.
“Epistemology, the study of the theory of knowledge, is among the most important areas of philosophy.”

Masalah yang pertama kali muncul dalam epistemologi adalah dalam hal mendefinisikan pengetahuan sedangkan isu penting yang kedua berminat pada sumber utama pengetahuan. Para ahli filsafat menggunakan the tripartite theory of knowledge yang menganalisa pengetahuan sebagai keyakinan akan kebenaran yang sah, sebagai model kerja sepanjang waktu. Sayangnya The Tripartite Theory tidak sepenuhnya diterima; Kasus Gettier menunjukkan bahwa beberapa keyakinan akan kebenaran yang pada awalnya sudah diterima ternyata tidak merujuk pada pengetahuan. Sumber pengetahuan adalah apa yang menjadi titik tolak atau apa yang merupakan objek pengetahuan itu sendiri. Sumber itu bisa bersifat dunia eksternal atau yang terkaitan dengan kemampuan subjek (dunia internal).
Menurut van Peursen, dalam sejarah filsafat ada dua macam bentuk pengetahuan yang dengan cepat menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan melalui pancaindera dan pengetahuan melalui akal budi. Pengetahuan yang berdasarkan pancaindera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan; sedangkan pengetahuan berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Pancaindera menyajikan pengalaman dan observasi. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif (akal budi dapat mengadakan abstraksi, melihat adanya hubungan ini dan itu) sedangkan pancaindera dianggap pasif, menerima saja kesan-kesan dari luar. Namun demikian, mengamati dan mencatat sesuatu dengan pancaindera pada dasarnya sudah menunjukkan adanya aktivitas.
Kedua sumber pengetahuan ini pada dasarnya telah tercantum dalam al-Qur’an seperti yang tersirat dalam surah an-Nahl 78:

78. dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Demikian pula pada dalam surah al-A’raf 179:
179. dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.
Prof. Dr. Quraish Shihab menafsirkan bahwa QS an-Nahl 78 menunjuk kepada alat-alat pokok yang digunakan guna meraih pengetahuan. Alat pokok pada objek yang bersifat material adalah mata dan telinga, sedangkan objek yang bersifat immaterial adalah akal dan hati. Dalam pandangan al-Qur’an, ada wujud yang tidak tampak betapapun tajamnya mata kepala atau pikiran. Banyak hal yang tidak dapat terjangkau oleh indera bahkan oleh akal manusia. Yang dapat menangkapnya hanyalah hati, melalui wahyu, ilham dan intuisi. Dari sini pula sehingga al-Qur’an, disamping menuntun dan mengarahkan pendengaran dan penglihatan, juga memerintahkan agar mengasah akal, yakni daya piker dan mengasuh pula daya kalbu.
Sementara Prof. Dr. Hamka menjelaskan bahwa pendengaran dan penglihatan (QS. An-Nahl 78) dituntun oleh perkembangan hati, yaitu perasaan dan pikiran. Manusia diberi pendengaran sehingga tidak tuli, diberi alat penglihatan sehingga tidak buta diberi pula hati buat mempertimbangkan apa yang didengar dan apa yang dilihat.
Pengetahuan lewat akal budi dan pengetahuan lewat pancaindera pada dasarnya memang tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Abstraksi-abstraksi yang menjauh dari dunia konkrit akan mengalami konflik dengan pengalaman sehari-hari. Oleh karena itu, pengertian konseptual selalu membutuhkan pengalaman inderawi, karena pengalaman itulah yang semula menjadi titik pangkalnya. Pengalaman yang semata-mata inderawi juga pada dasarnya tidak ada. Bila kita hidup dengan sadar, kita selalu sadar akan sesuatu.
George Edward Moore memperkenalkan sumber pengetahuan melalui akal sehat (common sense). Bradley berpendapat bahwa segala sesuatu yang diyakini akal sehat adalah sekedar permukaan (appearance), sedangkan kita menyelam ke titik ekstrim sebaliknya dan berpikir bahwa segala sesuatu yang dianggap real oleh akal sehat yang belum terpengaruhi oleh filsafat atau teologi adalah memang real. Russel yang pada awalnya sependapat dengan Moore belakangan menemukan alasan untuk meragukan akal sehat. Di antaranya Russel mengatakan bahwa tidak ada pemahaman akal sehat yanag membantu dengan baik pemahaman tentang dunia.
Vauger menyatakan bahwa titik tolak penyelidikan epistemologi adalah situasi kita, yaitu kejadian. Kita sadar bahwa kita mempunyai pengetahuan lalu kita berusaha untuk memahami, menghayati dan pada saatnya kita harus memberikan pengetahuan dengan menerangkan dan mempertanggung jawabkan apakah pengetahuan kita benar dalam arti mempunyai isi dan arti.
Bertumpu pada situasi kita sendiri itulah sedikitnya kita dapat memperhatikan perbuatan-perbuatan mengetahui yang menyebabkan pengetahuan itu. Berdasar pada penghayatan dan pemahaman kita dan situasi kita itulah, kita berusaha untuk mengungkapkan perbuatan-perbuatan mengenal sehingga terjadi pengetahuan.
Akal sehat dan cara mencoba-coba mempunyai peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagi gejala alam.
Walau demikian, menurut Zakaria, akal sehat dan cara mencoba-coba mempunyai peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam. Ilmu dan filsafat dimulai dengan akal sehat sebab tidak mempunyai landasan lain untuk berpijak. Tiap peradaban betapapun primitifnya mempunyai kumpulan pengetahuan yang berupa akal sehat. Randall dan Buchlar mendefinisikan akal sehat sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan. Sedangkan karakteristik akal sehat, menurut Titus adalah (1). Karena landasannya yang berakar pada adat dan tradisi maka akal sehat cenderung untuk bersifat kebiasaan dan pengulangan, (2). Karena landasannya yang berakar kurang kuat maka akal sehat cenderung untuk bersifat kabur dan samar, dan (3). Karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi yang tidak dikaji lebih lanjut maka akal sehat lebih merupakan pengetahuan yang tidak teruji.
Trial dan error dalam teori belajar merupakan cara belajar melalui pengalaman, dimana dalam memperoleh pengetahuan dan ketrampilan melalui serangkaian upaya coba-coba. Agar diperoleh pendekatan dan strategi yang efektif maka setiap keberhasilan dipertahankan dan kegagalan disingkirkan.
Sir Karl Popper memandang belajar bukan sebagai proses menerima informasi secara pasif, tetapi lebih sebagai hasil dari usaha aktif dalam memecahkan persoalan dengan belajar coba-coba (trial and error). Bagi Popper, persoalan yang penting adalah bagaimana seseorang pembelajar mengalami pengalaman tentang sesuatu yang bertentangan dengan harapan-harapannya. Gangguan atau ketidasesuaian dengan harapan ini merupakan sebuah awal yang baik dalam proses belajar trial and error. Trial (mencoba-coba) adalah usaha untuk mengoreksi harapan-harapan kita sehingga konsisten dengan peristiwa yang mengejutkan, mengagetkan atau mengherankan. Error (kesalahan) dalam berusaha adalah sebuah kegagalan dalam menerangkan peristiwa yang mengejutkan maupun pengalaman masa lalu kita yang lain. Revisi atas pandangan-pandangan kita yang diperoleh melalui trial and error juga dapat dilakukan bila ada pengalaman tambahan yang tidak sesuai dengan harapan.
Ada dua tradisi: empirisme yang meyakini bahwa sumber utama pengetahuan didasarkan pada pengalaman., dan rationalisme, yang berpegang pada prinsip bahwa pengetahuan didasarkan pada reason (akal). Walaupun pandangan ilmiah modern sangat memihak pada empirisme, namun pemakaian reason (akal) dalam berpikir yang merupakan sintesa dari kedua tradisi lebih dapat diterima daripada bila berdiri sendiri-sendiri. Rasionalisme dan empirisme dalam epistemologi Barat merupakan dua aliran yang paling banyak diterima dan paling dominan di antara sumber pengetahuan lainnya.
Aliran-aliran filsafat yang menitik beratkan pencerapan inderawi dinamakan aliran empirisme (Intelektualisme-sensualisme). Sementara filosof dari daratan Eropa yang hidup semasa Hume dan Locke biasanya mengikuti aliran yang berbeda sama sekali. Menurut pandangan mereka, pengetahuan kita berakar dari akal budi. Aliran ini dinamakan Rasionalisme (Inneisme). Ahli-ahli dalam aliran ini antara lain Descartes dan Leibniz.
Ahli filsafat dari aliran empirisme meyakini bahwa hanya empiri atau pengalaman yang dapat diterima sebagai sumber pengetahuan. Di antara golongan empiris ini, Lock dan Hume lah yang paling terkenal. Dalam pandangan mereka akal budi hanya mengkombinasikan pengalaman inderawi.
Di luar perbedaan tersebut, baik kaum rasionalis maupun empiris meyakini bahwa ada dua jenis pengetahuan :
1. Necessary knowledge (a priori knowledge) yakni pengetahuan yang diperoleh tanpa pengalaman disebut dengan a priori (a priori knowledge, necessary knowledge), yang cara kerjanya berdasarkan penalaran deduktif, logis, dan matematis.. Apriori berasal dari Latin: a = dari, dan prior = yang mendahului, yang berarti tidak tergantung atau yang mendahului pengalaman. Jadi pengetahuan apriori artinya pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui pengalaman umumnya. Penyangkalan terhadap dalil ini merupakan self contradictory.
2. Empirical knowledge (a posteriori knowledge) yakni pengetahuan yang diperoleh/tergantung dari pengalaman. Misalnya : “Desks are brown“ yang merupakan syntetic statement.

Lain halnya dengan Bertrand Russel membedakan dua macam pengetahuan yaitu :
1. Pengetahuan melalui pengalaman, (knowledge by acquaintance) yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui:
a. data indrawi (sense data);
b. benda-benda memori (objects of memory);
c. keadaan internal (internal states);
d. diri kita sendiri (ourselves).
2. Kategori pengetahuan kedua adalah pengetahuan melalui deskripsi (knowledge by description).. Yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui:
a. orang lain;
b. benda-benda fisik, namun bukan hasil pengamatan akan tetapi konstruksi.

Kaum rasionalis umumnya mengakui adanya kesejajaran antara rasionalitas dengan realitas (alam). Misalnya Pythagoras salah seorang rasionalis mengemukakan bahwa alam diciptakan oleh Tuhan dengan perhitungan matematis, jadi realitas disusun secara rasional, sehingga ada kesesuaian antara rasionalitas dengan realitas. Jadi begitu logika dikuasai maka alam semesta dapat dideduksi dari prinsip-prinsip atau hukum-hukumnya (pandangan ini berbeda dengan Empirisme, positivisme-logis, intuisionisme, Relasionisme). Hegel menyatakan, Semua raelitas itu rasional dan semua yang rasional itu real. Rasionalisme yang disebut sebelumnya tidak sama dengan rasionalisme kritis (critical rationalism) atau empirisme kritis yang muncul tahun 1960-an/70-an melalui pemikiran Karl R. Popper dan Paul Feyerabend sebagai kecenderungan filsafat ilmu pengetahuan di Eropa dan Amerika tahun 1960-an, awal berkembangnya pembahasan tentang postmodern.
Selain rasio dan empiri masih ada sumber-sumber pengetahuan lain yang secara umum kurang diakui dan kurang dikembangkan. Ted Honderich dalam, The Oxford Companion to Philosophy, mengemukakan sumber pengetahuan (sources of knowledge) berupa: perception (persepsi, pengamatan indrawi); memory ( ingatan); reason (rasio): deduction, induction, abduction, dialectic; introspection (introspeksi); dan sumber-sumber lain (other alleged sources) berupa :intuisi (intuition); telepati (telepathy); Clairvoyance; precognition. Rasionalisme dan empirisme juga masuk dalam sumber pengetahuan yang dikemukakan Honderich. Ia menggunakan istilah persepsi untuk empirisme dan rasio untuk rasionalisme. Sedangkan John R. Hospers mengemukakan sumber pengetahuan berasal dari: pengalaman indrawi (sense experience);akal-budi (reason); otoritas (authority); intuisi (intuition); wahyu (revelation); keyakinan (faith).

B. Pengertian dan Perbedaan antara Pengetahuan, Ilmu dan Filsafat
Pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui penggunaan akalnya untuk kemudian disusun menjadi suatu yang berpola disebut ilmu aqliah atau ilmu falsafiyyah, yaitu ilmu yang diperoleh melalui penggunaan akal dan kecendikiaan. Ilmu ini pulalah yang dinamakan sains dan disebut juga ilmu pengetahuan. Menurut Beerling, Kwee, Mooij, van Peursen Pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang mempunyai dasar pembenaran, bersifat sistematik dan bersifat intersubjektif. Ada saling hubungan antar ketiga macam ciri pengenal tersebut.
Sains atau ilmu pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu akan penjelasan mengapa suatu hal terjadi yang kemudian dikait-kaitkan dan digolong-golongkan sehingga hal yang tersendiri itu dapat dianggap sebagai mewakili suatu peristiwa yang berlaku lebih umum. Dengan demikian, sasaran sains adalah mengadakan penataan dan penggolongan pengetahuan atas dasar azas-azas yang dapat menerangkan terjadinya pengetahuan itu. Mohr mendefinisikan sains secara operasional sebagai suatu usaha akal manusia yang teratur dan taat-azas menuju penemuan keterangan tentang pengetahuan yang benar.
Metode induktif merupakan dasar dari semua ilmu pengetahuan eksperiensial, yang juga sah di bidang ilmu humaniora. Beerling, Kwee, Mooij, van Peursen menyatakan bahwa ciri-ciri pengenal yang dipunyai oleh pengetahuan ilmiah baru akan tampak jelas apabila dilatarbelakangi oleh pengalaman prailmiah. Sesungguhnya ilmu timbul berdasarkan atas hasil penyaringan, pengaturan, kuantifikasi, objektifikasi, singkatnya berdasarkan atas hasil pengolahan secara metodologi terhadap arus bahan-bahan pengalaman yang dapat dikumpulkan. Pengalaman prailmiah juga bukan semata-mata pengetahuan manusia yang terdapat sebelum adanya ilmu, melainkan juga pengetahuan manusia yang sampai kini masih tetap melandasi pengetahuan ilmiah, artinya pengetahuan yang telah disalurkan secara metodik, yang ada dewasa ini.
Proses kegiatan ilmiah, menurut Riychia Calder dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Secara ontologis ilmu membatasi masalah yang diamati dan dikaji hanya pada masalah yang terdapat dalam ruang lingkup jangkauan pengetahuan manusia. Jadi ilmu tidak mempermasalahkan tentang hal-hal di luar jangkauan manusia. Karena yang dihadapinya adalah nyata maka ilmu mencari jawabannya pada dunia yang nyata pula. Einstein menegaskan bahwa ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, apapun juga teori-teori yang menjembatani antara keduanya. Teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesusaian dengan obyek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun meyakinkannya, harus didukung oleh fakta empiris untuk dinyatakan benar. Di sinilah pendekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkah-langkah yang disebut metode ilmiah. Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak dalam.
Filsafat adalah ilmu khusus yang mempelajari dan menyelidiki semua bidang/aspek dalam kehidupan manusia yang juga dikaji oleh ilmu-ilmu khusus, dengan obyek dan pendekatan yang berbeda dengan ilmu-ilmu khusus. Karena itu selain filsafat ilmu pengetahuan yang umum, ada pula filsafat ilmu pengetahuan khusus, yaitu filsafat yang berefleksi tentang masalah ilmu yang khusus itu. Filsafat lebih berupa “scondary level science”, refleksi atas asumsi-asumsi dasar, teori, metode pada ilmu khusus itu. Budi Hardiman menyebutkan filsafat sebagai bentuk-bentuk pengetahuan yang berkaitan dengan bentuk-bentuk kehidupan.
Filsafat menurut Immanuel Kant adalah dasar semua pengetahuan yang mempersoalkan cara-cara kita mengetahui dan mengembangkan pemikiran, yang mencakup sampai batas apa kita dapat mengetahui sesuatu, bagaimana perilaku manusia, serta untuk apa kita dapat memanfaatkan pengetahuan yang kita ketahui. Filsafat terfokus pada permasalahan epistemologi.
Bila ilmu pengetahuan secara khusus menyelidiki salah satu bidang/aspek tertentu saja, maka filsafat menyelidiki berbagai hal tentang ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam bahasa Jerman ilmu pengetahuan sama dengan Wissenschaft, sedangkan filsafat sebagai ajaran tentang ilmu pengetahuan disebut Fichte (1762 M-1814 M.) dengan “Wissenschaftslehre” Dengan demikian ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang ilmu pengetahuan (wisseschaftslehre) Fichte itu sama dengan epistemologi. Penelitian di bidang filsafat pada dasarnya berpijak pada gaya inventif, sehingga mampu memberikan evaluasi. Untuk itu seorang peneliti filsafati harus mempunyai pendapat pribadi. Agar mampu menyusun sistematika, dibutuhkan inspirasi komunikasi – bahkan konfrontasi – dengan pemikiran filsuf lain. Pemikiran seperti ini merupakan syarat mutlak bagi pengembangan ilmu filsafat.
Berfikir secara filosofis bersifat radikal, konsisten, sistematik dan bebas. Radikal artinya berpikir secara mendasar atau mengakar. Maksud radikal atau mengakar adalah pemikiran mencoba mencari sumber pemikiran dan mencapai hakekat atau esensi sesuatu. Pemikiran yang radikal ini berkaitan dengan ciri lain yang disebut universal atau bersifat umum (komprehensif) dan bukan bersifat partikular/fragmentalis. Perbedaan antara kajian filsafat dengan ilmu pengetahuan terutama justru terletak ciri radikal dan komprehensif ini. Jika filsafat mengkaji tentang manusia (disebut obyek material) misalnya, maka kajian tentang manusia dilakukan secara menyeluruh/utuh, sedangkan ilmu pengetahuan mengkaji manusia dari aspek (obyjek formal) tertentu.
Meskipun ada perbedaan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan, akan tetapi juga ada persamaan dan keterkaitan satu sama lain. Persamaan dan keterkaitan itu terlihat pada ciri berpikir dan penjelasannya yang sistematis, rasional, dan koheren.

C. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Metode, menurut Senn, merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang memiliki langkah-langkah yang sistematis. Metodologi ilmiah merupakan pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.
Salah satu cara terbaik untuk mengenal ilmu pengetahuan adalah dengan mengenal metode yang digunakannya. Ilmu pengetahuan manusia berkembang dari yang sederhana kepada yang rumit hingga yang canggih. Suatu bidang ilmu kemudian berkembang dan terpecah kepada beberapa cabang yang berdiri sendiri sebelum kemudian terbagi lagi dalam disiplin-disiplin tertentu. Masing-masing disiplin ilmu berkembang atas, sekaligus mengembangkan metodenya sendiri. Metode tersebut banyak yang sama, tetapi biasanya beberapa ilmu mengutamakan metode tertentu.
Lubis membagi metode ilmiah ke dalam beberapa metode :
1. Metode Observasi
Metode yang paling mendasar dan umum adalah metode observasi (pengamatan). Pengamatan adalah bidang indera. Atas pengamatan indera, kita mengambil kesimpulan tentang suatu benda atau keadaan dan mengungkap hubungan antara beberapa benda dan keadaan. Pengamatan yang cermat dapat diuji kebenarannya oleh pengamat lain yang tidak memihak. Pengujian ini merupakan syarat penting pada penyelidikan ilmiah.
2. Metode Trial and Error
Metode trial and error (coba-coba) mencobakan beberapa cara dan tindakan untuk memecahkan suatu masalah. Dalam metode yang juga disebut belajar dari kesalahan ini, setiap kesalahan – termasuk dari para pencoba sebelumnya – dicatat. Demikian pula setiap kesuksesan, semua dihimpun.
3. Metode Eksperimentasi
Merupakan pengembangan dari metode trial and error. Eksperimentasi melibatkan suatu upaya sadar untuk mengadakan manipulasi dan kontrol. Walaupun metode obsevasi dan coba-coba sering dipakai, namun keduanya memiliki banayak keterbatasan. Kemajuan-kemajuan besar dalam ilmu pengetahuan baru dapat terpakai setelah teknik mengontrol diketahui. Dalam eksperimen, si ilmuwan mengontrol kondisi objek, mengganti suatu faktor pada suatu waktu untuk dapat dicatat reaksinya.
4. Metode Statistik
Metode statistik yang mulai muncul sejak dulu pada awalnya dipakai untuk membantu penguasa dan Negara mengumpulkan informasi dan memantau perkembangan hingga dapat diambil kebijakan yang tepat. Statistik membantu ilmuwan untuk meramalkan kemungkinan berbagai kejadian, untuk merumuskan hubungan sebab akibat, untuk melukiskan contoh fenomena dan untuk membuat perbandingan.

Metode-metode di atas merupakan metode-metode utama dalam ilmu pengetahuan, disamping metode-metode tambahan lainnya. Metode-metode ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena saling tekait dan saling menyempurnakan. Metode ilmiah adalah gabungan dari berbagai proses dan langkah yang dilalui dalam ilmu pengetahuan.
Pengetahuan manusia setidaknya memiliki tiga struktur yang berbeda menurut tingkat dan kualitas kemampuannya, namun pada hakikatnya merupakan kesatuan. Masing-masing struktur tersebut memiliki penekanan yang khas.
1. Pengetahuan Inderawi
Pengetahuan inderawi dimiliki manusia melalui kemampuan indera. Kemampuan ini dimiliki manusia sebagai makhluk biotik, tetapi tidak semua makhluk biotik memilikinya, misalnya bunga dan pohon tidak memiliki kemampuan ini. Bila suatu mahkluk biotik mengandung taraf psikis – misalnya hewan – maka ia memiliki indra biologis tersebut. Berkat inderanya, ia mengatasi taraf hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk ke dalam medan intensional, walaupun masih sangat sederhana. Indera menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material dalam ketunggalannya, entah real atau semu.
Pengetahuan inderawi bersifat parsial. Hal itu disebabkan oleh adanya perbedaan antara indera yang satu dengan lainnya, berhubungan dengan sifat khas fisiologis indera, dan dengan objek yang dapat ditangkap sesuai inderanya. Masing-masing indera menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objek. Pengetahuan inderawi berbeda menurut perbedaan indera dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu. Pengetahuan indera hanya menangkap permukaan dari suatu kenyataan, karena terbatas pada hal-hal inderawi secara individual dan dilihat hanya dari segi tertentu saja. Oleh sebab itu, secara objektif pengetahuan yang ditangkap oleh satu indera saja tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh.
2. Pengetahuan Naluri
Persepsi dan naluri merupakan daya khas yang dimiliki oleh semua makhluk yang memiliki psike (jiwa. Pen.) dalam rangka mempertahankan hidup dan melangsungkan kehidupannya di alam ini. Naluri merupakan bagian misteri alam kehidupan, sejauh telah memperlihatkan kesadaran yang pertama entah secara lemah atau kuat. Pada hewan, naluri merupakan kelebihan yang dimiliki dibandingkan makhluk lain. Naluri hewani sangat didukung oleh kemampuan fisik hewan tersebut dalam rangka mempertahankan hidupnya.
Manusia secara prinsipal juga memiliki pengetahuan naluriah. Manusia dilengkapi dengan pengetahuan natural-spontan, serta kehendak yang cenderung menjalankan hidup sesuai dengan pengetahuan tersebut. Pada manusia, naluri tidak sepenuhnya didukung oleh kemampuan fisik — sebagaimana halnya pada hewan — tetapi manusia memiliki kekuatan nonfisik yang secara terpadu mampu membangun alam sesuai kebutuhannya.
3. Pengetahuan Rasional
Pengetahuan ini dicirikan oleh kesadaran akan sebab musabab suatu keputusan; ia tak terbatas pada kepekaan indera tertentu dan tidak hanya tertuju pada objek tertentu. Pengetahuan rasional memiliki tiga tingkatan dan satu tingkatan pengetahuan lain yang sifatnya khusus:
a. Pengetahuan biasa
Setiap orang memiliki pengetahuan biasa, yakni pengetahuan tanpa usaha khusus. Pengetahuan ini bersifat intuitif-spontan dan tidak banyak memakai penalaran formal. Pengetahuan jenis ini diperoleh melalui pergaulan normal dengan orang lain dan dunia sekitarnya.
b. Pengetahuan ilmiah
Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang terorganisasi, yang dengan system dan metode berusaha mencari-hubungan-hubungannya tetap di antara gejala-gejala . Pengetahuan ilmiah empiris mengumpulkan gejala-gejala tersebut dan tetap tinggal dalam garis kawasan horizontal.
4. Pengetahuan intuitif dan Imajinatif
Di samping tiga tingkatan tersebut, pengetahuan intuitif dan imajinatif seolah menjadi tingkatan tersendiri meskipun sebenarnya masih bagian dari pengetahuan rasional. Kedua macam pengetahuan tersebut menurut dasar biotiknya secara global tetapi tidak ekslusif dialokasikan dalam kedua belahan otak manusia. Belahan kanan otak manusia terutama menjadi sumber bagi kemampuan berbahasa, pemahaman perasaan orang lain, kreativitas spontan, fantasi dan feeling. Sedangkan belahan kiri cenderung menjadi sumber bagi kegiatan spasial, bagi perhitungan matematis, bagi logika lurus, bagi yang lazimnya disebut kegiatan rasional. Akan tetapi pembagian tugas tersebut tidak eksklusif, sebab belahan lainnya juga selalu ikut aktif.
Pengetahuan imajinatif dan intuitif dapat dimanifestasikan dalam empat fungsi :
a. Kemampuan fantasi bebas
Pengetahuan imajinatif atau intuitif merupakan kegiatan mental yang menghasilkan kembali dan menciptakan gambaran-gambaran (images). Tanpa adanya objek real yang sesuai dengannya. Gambaran-gambaran ini dapat dipadukan tanpa arah dan dengan kombinasi tak terduga.
b. Kemampuan imajinasi estetis
Unsur-unsur yang terbentuk oleh permainan fantasi yang disengaja akan membentuk kombinasi yang harmonis, dan mengungkapkan situasi batin penciptanya dalam bentuk yang baru, dan mampu menggerakkan pengalaman yang sama pada orang lain.
c. Kemampuan fantasi dalam fungsi praktis
Fungsi fantasi dapat menjelaskan dan menyempurnakan penalaran. Pemikiran masalah-masalah konkret seringkali tidak dilaksanakan orang semata-mata dengan perhitungan lurus dan matematis, tetapi juga dengan fantasi.
d. Kemampuan imajinasi dalam penemuan ilmiah
Imajinasi ikut membentuk bangunan intelekual ilmu pengetahuan dan filsafat. Imajinasi dapat dengan tiba-tiba membuka pemahaman tanpa ada suatu metode yang terarah.

D. Berbagai Trend Penelitian Ilmiah
Ilmu pengetahuan menuntut persyaratan-persyaratan khusus dalam pengaturannya. Dalam hal ini, yang terpenting adalah sistem dan metode ilmu pengetahuan. Menurut Koentjaraningrat, sistem adalah susunan yang berfungsi dan bergerak; suatu cabang ilmu niscaya mempunyai objeknya, dan objek yang menjadi sasaran itu umumnya dibatasi. Setiap ilmu lazimnya dimulai dengan perumusan definisi perihal apa yang hendak dijadikan objek studinya. Setelah dibatasi, objek studi tersebut ditempatkan dalam suatu susunan tertentu sehingga jelas kedudukannya yang relatif di antara objek-objek studi lainnya (meskipun selalu ada hubungannya). Kedekatan yang terdapat antara objek studi dari suatu cabang ilmu tertentu dengan hal-hal lain di luar ilmu tersebut, tetapi yang ada hubungannya dengan objeknya akan terwujud dalam apa yang disebut kerjasama inter atau multidisipliner.

1. Kajian Multidisipliner
Kajian multidisipliner merupakan salah satu trend penelitian yang banyak dikembangkan saat ini. Menurut Pusat Studi Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui riset multidisiplin penyelesaian permasalahan akan menjadi lebih komprehensif, dan para peneliti bertindak lebih professional dibidang ilmunya masing-masing, serta mereka bersifat kooperatif dan saling menghargai bidang ilmu peneliti mitranya. Dengan riset multidisipliner banyak masalah besar dan kompleks dapat diselesaikan, dan tentu saja dengan dana riset yang lebih besar.
Penelitian multidisiplin tentunya perlu didukung oleh sarana lainnya, misalkan saja seperti yang dilakukan UGM, dalam rangka meningkatkan kinerja riset multidisipliner, UGM telah membentuk empat forum komunikasi, yaitu 4 (empat) Klaster Riset: Sosial-Humaniora, Agro, Sains-Teknik dan Kesehatan-Kedokteran. Empat riset unggulan UGM telah diterapkan oleh keempat Klaster Riset tersebut, yaitu riset di bidang: Social Welfare System (Klaster Sos-Hum), Food Safety and Security (Klaster Agro), Smart Materials (Klaster Sain-Tek) dan Cancer Studies (Klaster Kes-Ked) Keempat Klaster Riset tersebut secara rutin bertemu dan berdiskusi.
2. Kajian Interdisiplner
Disamping penelitian multidisiplin, saat ini, para analis menyatakan bahwa ilmu pengetahuan telah melakukan transformasi dalam melakukan penelitian, dari disiplin yang homogeneous, disciplinary, hierarchical kepada pendekatan yang heterogeneous, interdisciplinary, horizontal, and fluid. Lainnya bahkan menyarankan dilakukannya metamorfosa di universitas (perguruan tinggi. Pen.) ke arah interdisipliner (Hakala and Ylijoki ; Hicks and Katz; Slaughter and Leslie dalam Rhoten, 2008. 1). Namun demikian, sebagian justru menyangkal bahwa tidak ada bukti empiris mengenai adanya perubahan mendasar sehubungan sistem ilmiah di universitas (perguruan tinggi. Pen.).
Dalam kenyataannya, perguruan tinggi cenderung melakukan pendekatan interdisipliner sebagai trend daripada sebagai transisi yang nyata sehingga usaha interdisiplinnya hanyalah menjadi potongan-potongan dan tidak saling berhubungan; padahal seharusnya lebih komprehensif serta pembaharuan secara mendasar dan keseluruhan. Hasilnya, usaha yang telah dilakukan serta enerji yang telah disalurkan dapat mencapai tujuannya.

3. Spesialisasi
Spesialisasi tampaknya juga menjadi satu trend dalam penelitian ilmiah. Specialization (spesialisasi) dimaknai sebagai ‘pengkhususan’ dalam Kamus Inggris Indonesia karya Echols dan Shadily sementara Hornby dalam Oxford Advanced Dictionary of Current English memaknai kata ini sebagai berikut : “…; give special or particular attention to;…” Jadi dalam penelitian yang berfokus pada spesialisasi, peneliti memberikan perhatian khusus atau istimewa pada bidang tertentu saja.
Institut Pertanian Bogor pada awal berdirinya adalah satu contoh spesialisasi ilmu pengetahuan yang menyelenggarakan studi di bidang pertanian. Dalam RENSTRA IPB (Rencana Strategis Institut Pertanian Bogor) Tahun 2008-2012 disebutkan bahwa spesialisasi awal IPB di bidang pertanian memberikan keuntungan berupa banyak dan luasnya aset lahan yang diberikan negara kepada IPB. Sejalan dengan perkembangan tantangan pembangunan pertanian yang semakin kompleks, IPB memperlebar mandatnya ke dalam pengertian pertanian dalam arti luas yaitu sistem pengelolaan sumberdaya hayati dan lingkungannya secara berkelanjutan untuk kesejahteraan manusia. Pertanian dalam pengertian ini merupakan keseluruhan proses kegiatan agribisnis, tidak hanya sub-sistem on-farm, namun juga sub-sistem dari hulu hingga hilir serta sub-sistem pendukung. Dalam kaitan tersebut, tujuan pendidikan sebagai tujuan pendidikan institusional IPB diderivasi mengikuti tantangan dan ranah kompetensi tersebut.
Bila IPB berawal dari spesialisasi yang kemudian berkembang ke dalam lingkup yang lebih luas (walaupun spesialisasinya tetap di bidang pertanian), maka berbagai bidang penelitian lain justru memperkecil ruang lingkup kepada bidang yang lebih khusus dengan berorientasi pada kedalaman. Misalnya bidang kedokteran gigi yang berkembang pada bidang-bidang yang lebih khusus seperti spesialisasi Bedah Mulut, spesialisasi Ortodonti dan lainnya.

4. Studi Kawasan
Trend penelitian lainnya adalah studi Kawasan (Regional Science) Bagi ilmuwan regional science (studi kawasan), region/kawasan digambarkan sebagai area geografis yang lebih kecil dari bangsa yang ada di dalamnya. Jadi kawasan bisa saja sebuah kota, kota kecil, kumpulan kota kecil atau negara bagian. Kawasan seringkali melanggar batas pemerintahan. Ilmuwan sosial telah mempelajari kawasan selama ratusan tahun, tetapi baru pada tahun 1954, setelah dibentuk “the Regional Science Association”, maka regional science mulai dikenal secara resmi sebagai bidang ilmu yang sifatnya interdisipliner. Eksistensi RSA (sekarang dikenal dengan nama “Regional Science Association International”) dan turunannya (beberapa “regional” dan “superregional” dari asosiasi studi kawasan) mengusung metode kodifikasi yang lebih baik dan melakukan pertukaran dalam hal pembatasan ide-ide dari bidang terkait seperti geografi, sosiologi, perencanaan, statistik, dan ekonomi.
Studi Kawasan biasanya membahas aspek sosial dan ekonomi dari suatu wilayah. Pembahasan dalam Ilmu Kawasan Klasik meliputi :
a. Faktor penentu lokasi industri (terhadap bangsa dan kawasannya).
b. Dampak ekonomi regional karena masuk atau keluarnya suatu bentuk usaha. Di suatu kawasan.
c. Faktor penentu pola migrasi internal dan perubahan dalam penggunaan lahan.
d. Spesialisasi dan pertukaran regional.
e. Dampak lingkungan yang diakibatkan perubahan sosial ekonomi.
f. Assosiasi geografis atas kondisi ekonomi dan sosial.

Pendekatan holistik dalam regional science berarti bahwa model perilaku sosial ekonomi tidak hanya menyesuaikan dengan konsep berskala nasional dan menjadi model bagi konteks regional, tetapi juga harus memasukkan fitur fisikal dari pemandangan alamnya/landscape.
Beberapa kemungkinan untuk menggabungadalah sebagai berikut:
a. Analisis lokasi dengan input-output, ekonometri, dan programming.
b. Analisis akunting sosial dengan analisis keseimbangan interregional umum terapan.
c. Proses pengembangan metropolitan dengan model interaksi tipe gravity spasial dan analisis kompleksitas perkotaan.
d. Teknik analisis regional dengan resolusi konflik.
Kemajuan dalam hal teknis dalam mengawinkan model regional dengan data, dikombinasikan dengan meningkatnya pemahaman dari sistem kompleks yang mempengaruhi perubahan regional. Hal ini menunjukkan bahwa ketrampilan para ahli studi kawasan akan sangat dibutuhkan pada millenium baru ini. Masa depan studi kawasan tampaknya akan cerah.
DAFTAR PUSTAKA

Bakker, Anton dan Zubair, Achmad Harris. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Pustaka Filsafat. 1990.

Berkson, William dan Wettersen, John. Psikologi Belajar dan Filsafat Ilmu Karl Popper. Yogyakarta : Penerbit Qalam. 2003.

Beerling, Kwee, Mooij, van Peurse. Pengantar Filsafat Ilmu. (terjemahan). Yogyakarta. Tiara Wacana. 1986.

Budi Hardiman, F. Filsafat Modern. Dari Machiavelli sampai Nietsche. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2004.

Corsini, Ray. The Dictionary of Psychology. New York, NY.: Brunner-Routledge. 2002.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Pertanian Bogor. Rencana Strategis Institut Pertanian Bogor Tahun 2008-2012. Draft_Renstra_IPB_2008-2012.pdf. diakses 4 Oktober 2008.

Echols, John M. dan Shadily, Hassan. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia. 1997.

Gadamer, Hans-Georg. Kebnaran dan Metode. (Terjemahan Truth and Method, The Seabury Press, New York, 1975). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.

Hamka. Tafsir Al Azhar. Juz 13-14. Jakarta: PT. Pustaka Panjimas. 2004.

Holt, Tim. Theory of Knowledge. Theory of Knowlende Info. http://www.theoryofknowledge.info/.2005-2006. diakses 4 Oktober 2008.

Honderich. Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. Oxford – New-York: Oxford University Press. 1995.

Hornby, AS. Oxford Advanced Dictionary of Current English. Oxford : Oxford University Press. 1983.

Hospers, John.. Chronological and Thematic Charts of Philosophies and Philosophers. Michigan-USA: Zonderpram Publishing House. 1986.

Hunnex, Milton D. An Introduction to Philosophical Analisys. London: Routledge and Kegan Paul. 1967.

Loveridge, Scott. The Web Book Of Regional Science Introduction to Regional Science. West Virginia University: Regional Research Institute. August, 2000. diakses 4 Oktober 2008. 2005.

Lubis, Nur Ahmad Fadil. Pengantar Filsafat Umum. Medan : IAIN Press. 2001.

Lubis, Akhyar Yusuf. Materi kuliah Filsafat Ilmu. (tidak diterbitkan). Program Pendidikan Profesi Psikologi Jenjang Magister Universita Sumatera Utara. 2006.

Nasr, Seyyed Hossein (Ed). Philosophy, Literature and Fine Arts. Jeddah: King Abdul Aziz University. 1982.

Nasution, Andi Hakim. Pengantar ke Filsafat Sains. Bogor: Litera Antar Nusa. 1992.

van Peursen. C.A. Orientasi ke Alam Filsafat. (terjemahan). Jakarta: PT. GramediaPustaka Utama. 1991.

Rhoten, Diana. Interdisciplinary Research: Trend or Transition. Interdiciplinary_reaserch.pdf. diakses 4 Oktober 2008.

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah. Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Volume 7. Jakarta: Penerbit Lentera Hati. 2005.

Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2002.

Yayasan Penyelenggara Penerjemah al-Quran. al-Quran dan Terjemahnya (Jakarta: Departemen Agama RI). 1983.

Universitas Gadjah Mada. Riset di Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta : Pusat Studi UGM. Diakses 4 Oktober 2008.

Zakaria, Mumuh. Epistemologi. D:\IAIN\Filsafat\H_ Mumuh M_ Zakaria » Blog Archive » EPISTEMOLOGI.htm. August 8th, 2008. Diakses 4 Oktober 2008.

1 thought on “PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s