ANAK ANDA MILIK SIAPA?

Anakmu bukan milikmu

Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada dirinya sendiri.

Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau.

Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,

Sebab pada mereka ada alam pikiran sendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

Yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan

Tidak pernah berjalan mundur.

Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, anak-anakmulah anak panah yang meluncur.

Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,

Hingga anak panah itu melesat jauh dengan cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemurah,

Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat.

Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

(Kahlil Gibran)

 

Betapa indah puisi Kahlil Gibran di atas. Indah, bukan karena menggambarkan perihal cinta romantis yang mampu mengaduk-aduk hati insan yang sedang dilanda cinta. Keindahan puisi ini terletak pada kemampuan Kahlil Gibran menyelami jiwa dan rasa semua makhluk yang tentu saja terlahir sebagai anak. Semua orang  pernah menjadi anak, bahkan sebagian besarnya saat ini sedang menjalani kehidupan sebagai anak; meskipun secara bersamaan sedang berperan sebagai orang tua bagi anak-anaknya.

Saat membaca artikel tentang anak, puisi di atas seringkali dikutip untuk menggambarkan bagaimana seharusnya orang tua bersikap pada anak-anaknya.  Alih-alih mempersiapkan anak menjadi seseorang yang harus sesuai dengan keinginan orang tuanya, seharusnya yang menjadi prioritas adalah mempersiapkan anak untuk mandiri agar mampu resilience – mampu bangkit kembali menjadi lebih baik – ketika menghadapi keterpurukan yang hampir pasti akan pernah ia temukan dalam perjalanan hidupnya.

Orang tua sebaiknya berempati dengan apa yang menjadi keinginan anak; sesungguhnya dalam diri mereka ada keinginan yang menggebu untuk menjadi seseorang yang sejalan dengan tuntutan zamannya; tidak tertinggal pada pemikiran masa lalu. Pemikiran orang tua umumnya memang sesuai dengan tuntutan kehidupan di zamannya, tapi belum tentu cocok dengan tuntutan kehidupan masa kini. Tugas orang tua hanyalah memberikan pembekalan nilai-nilai moral dan etika untuk menggiring langkah anak-anaknya menuju “rumah masa depan” … miliknya….

Biarkan anak memilih jalan dan kendaraannya sendiri menuju “rumah masa depan”-nya. Ia pasti lebih memahami bagaimana jalan raya dan moda transportasi berkembang begitu pesatnya, di masanya, sehingga dia jua lah yang lebih memahami jalan mana dan transportasi apa yang paling efisien dan tepat bagi darah mudanya yang masih belia . Orang tua hanya dapat memberi bimbingan sesuai pengalaman hidupnya, agar perjalanan mereka dilandasi pertimbangan yang matang dan berlangsung dengan mulus karena mendapat restu orang tua.

Anak adalah pribadi yang unik dengan kemampuan dan bakat yang berbeda-beda. Masing-masing mereka memiliki kehendak bebas untuk menjadi dirinya sendiri. Tak dapat dipungkiri, orang tua seringkali ingin mencangkokkan pada anak-anaknya apa yang menjadi keinginan ideal mereka, tanpa peduli apakah sesuai dengan pola yang terbentuk pada masing-masing anak. Orang tua berharap anak-anaknya dapat mewujudkan cita-cita mereka. Entah karena ketidakmampuan untuk mencapainya di masa lalu, entah karena balas dendam pada situasi yang kurang berpihak, atau sekedar mengejar idealisme bentukan lingkungan yang bisa jadi tidak sesuai dengan kondisi dan idealisme anak dengan pemikiran masa kininya.

Suatu pagi saya membaca sebuat tweet dari seorang siswi SMA:”… kenapa terkadang sebuah keinginan/cita-cita selalu terhalang restu?”. Beberapa kali pula saya mendengar statement:” Kamu tidak akan berhasil dan bahagia bila tidak mendapat restu orang tua.” Kalimat ini lah yang sering menjadi sumber penghambat kemajuan seorang anak. Sebab restu biasanya diterjemahkan sebagai konsekuensi atas kepatuhan  terhadap perintah orang tua. Bila mengikuti perintah, baru mendapatkan restu. Sedangkan perintah adalah pemaksaan ‘alam pikiran’ orang tua terhadap anak.

Anak-anak terbelenggu dengan pencapaian yang diharuskan menyusuri jalur yang  sudah ditetapkan tanpa boleh berimprovisasi sesuai kemampuan dan kemauannya, padahal mereka memiliki kemampuan tak terbatas yang dapat menggiringnya pada kesuksesan, kepuasan dan kebahagiaan. Sedangkan untuk mencapai tujuan akhir, mereka sangat membutuhkan dukungan dan restu orang tua. Orang tua sejatinya ikhlas memutuskan bahwa perjalanan hidup anak adalah murni untuk kebahagiaan si anak, dan melihat anak bahagia adalah kebahagiaan orang tua jua.

Prinsip jaringan kehidupan (principle of linked lives) dari Schoon (2006) menegaskan bahwa ketidakberuntungan dan kesuksesan dari sebuah keluarga saling ditularkan masing-masing anggota keluarga. Kehidupan dijalani secara mandiri dan pengalaman individual berhubungan dengan orang-orang yang paling berpengaruh dalam kehidupannya. Jadi, bagaimana anggota keluarga mendapatkan keberuntungan atau ketidakberuntungan sangat ditentukan oleh bagaimana orangtua memperlakukan mereka, meskipun mereka menjalani kehidupan secara mandiri.

Lantas, apa sebenarnya peran orang tua bagi anak? Apakah orang tua harus lepas tangan dan tidak boleh mencampuri masa depan anak? Tentu tidak demikian. Orang tua memiliki peran sentral dalam menentukan nilai-nilai moral dan etika seorang anak. Beberapa waktu lalu, para orang tua ramai mendiskusikan perihal pentingnya mengajari anak persoalan etika tinimbang matematika. Topik ini berkembang karena pernyataan guru di Australia, “ Kami tidak khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.” Saya sendiri secara pribadi sudah berulangkali menyampaikan, baik dalam diskusi-diskusi formal maupun dalam ajang obrolan nonformal, bahwa bekal nilai-nilai moral dan etika adalah hal pertama yang harus diberikan kepada anak, bukan nilai akademis. Saya sangat prihatin dengan kebiasaan orang dewasa bertanya kepada anak-anak, “Ranking berapa?”. “Berapa nilai matematika?”. Seolah-olah dua hal tersebut lah yang akan menjadi penentu utama “rumah masa depan”-nya kelak. Sungguh sangat memprihatinkan.

Bila masyarakat masih tetap terjebak dengan prioritas pembekalan yang salah bagi generasi penerusnya, maka tidak heran akan terus terjadi seperti yang digambarkan Prof Sujarwadi (2013), dalam bukunya, “… zaman semakin maju, banyak orang berpendidikan duduk di pemerintahan, di antaranya menjadi polisi atau tentara. Namun kenapa keadaan kehidupan makin banyak penipuan dan kejahatan?”.

Jadi, orang tua perlu membekali anak untuk berperilaku baik. Ini adalah keharusan. Mengenai bekal pengetahuan, seorang anak memiliki kesempatan yang sangat besar untuk memperolehnya melalui jalur dan media yang dipilihnya sendiri dengan ‘bimbingan dan restu orang tua’. Menyitir puisi Kahlil Gibran, “Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu”; “Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya”; “Sebab Jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian”.

Bila suatu saat kelak orang tua meninggalkan mereka, tidak akan pernah ada penyesalan atas jalan hidup yang dipaksakan. Wallahu a’lam.

 

Jakarta, 26 Agustus 2013. Rampung pukul 09.13. Hasil perenungan dari lantai 20.

 

Referensi:

Schoon, I. 2006. Risk and Resilience. Adaptation in Changing Times. New York, USA: Cambridge University Press.

Sujarwadi. 2013. Pemimpin-pemimpin yang tersesat. Yogyakarta: Penerbit Beta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s