PERSEPSI TERHADAP KEINTIMAN PADA DUA TAHUN PERTAMA PERNIKAHAN

ULFA REZKIKA HANDAYANI
SRI MULYANI NASUTION

Manusia sebagai makhluk sosial selalu mengadakan interaksi dengan manusia lainnya. Pernikahan merupakan salah satu bentuk interaksi antar manusia, yaitu antara seorang pria dengan seorang wanita. Dibandingkan dengan bentuk-bentuk interaksi lainnya, pernikahan merupakan interaksi antar manusia yang sifatnya paling intim (Cox, 1978).

Menurut Hurlock (1999), salah satu tugas perkembangan individu pada masa dewasa dini yang berada pada rentang usia 21 – 40 tahun adalah membangun hubungan dengan lawan jenisnya dan kemudian menikah. Pernikahan biasanya didasari oleh persamaan dalam hal psikis dan karakteristik sosial lainnya. Walaupun demikian, tidak jarang dijumpai pernikahan dimana masing-masing berlatar belakang yang berbeda. Hal ini dimungkinkan antara lain karena adanya peningkatan dalam hal pendidikan sehingga semakin banyak orang yang mengecap pendidikan yang memadai serta memasuki bidang pekerjaan (Duvall & Miller, 1985).

Mengapa dua tahun pertama? Menurut Elizabeth B. Hurlock (1999), penyesuaian dalam kehidupan pernikahan merupakan penyesuaian yang paling sulit yang harus dilakukan oleh kaum dewasa muda. Terutama pada satu atau dua tahun pertama pernikahan. Biasanya pasangan harus saling menyesuaikan diri dengan keluarga dari masing-masing pihak dan dengan teman-teman. Faktor lain yang memerlukan penyesuaian diri adalah masalah-masalah seperti aktivitas waktu luang, seksual, ekonomi, dan sebagainya.

Masa pernikahan dua tahun pertama, menurut Duvall & Miler (1985), merupakan masa-masa transisi yang kritis dari masa dewasa dini yang single menjadi sepasang suami istri. Masing-masing menghadapi tuntutan yang berbeda dari ketika mereka masih single. Sebagai suami maupun istri, mereka diharapkan untuk mengembangkan peran, sikap-sikap dan tingkah laku-tingkah laku tertentu.

Penyesuaian diri yang baik pada tahun-tahun pertama pernikahan merupakan landasan yang kuat untuk menghadapi tantangan-tantangan pada masa-masa pernikahan berikutnya. Bagaimana caranya untuk menyesuaikan diri? Rosow et, al, (dalam Schaefer & Olson, 1983) mengatakan bahwa :
“The depth of intimacy is a key correlate in a person’s ability to adapt over the life span”. (Rosow, Arth, Blau, dalam Schaefer & Olson, 1983).

Pasangan suami istri yang baru menikah akan menghadapi tugas-tugas perkembangan yang baru, baik sebagai individu maupun sebagai pasangan. Di antara tugas-tugas tersebut, tugas yang berkaitan dengan pekerjaan dan kehidupan keluarga merupakan tugas-tugas yang terbanyak, terpenting, sekaligus tersulit (Hurlock, 1999). Sementara itu, Gould et, al, (dalam Cox, 1978) mengatakan bahwa di antara tugas-tugas tersebut, tugas yang berkaitan dengan pembentukan hubungan yang intim pada dasarnya merupakan tugas yang utama dalam kehidupan pernikahan.

Tiap-tiap individu berbeda dalam mempersepsikan keintiman. Keintiman yang dirasakan oleh masing-masing pasangan tergantung dari bagaimana cara masing-masing individu tersebut mempersepsikan tindakan yang dilakukan oleh pasangannya. Kasih sayang dan perhatian akan lebih dapat mengungkapkan keintiman di antara pasangan. Misalnya saja, suami sering menggandeng tangan istri sewaktu mereka bejalan bersama, sering memberikan kecupan sebelum berangakat kerja dan sebelum tidur, dan lain sebagainya. Tindakan-tindakan sesederhana itu akan dipersepsikan oleh istri sebagai ungakapan perhatian, dan istri akan merasakan kedekatan dan keintiman dengan suaminya, begitu juga sebaliknya. Bagi pasangan yang baru menikah, perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh pasangannya, akan dipersepsikan sebagai suatu keintiman.

Persepsi merupakan proses kognitif yang dialami tiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya baik lewat penginderaan, penghayatan dan perasaan. Kunci untuk memahami persepsi terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi. Setiap orang bisa memberikan persepsi yang berbeda terhadap suatu situasi (Thoha, 1996). Menurut Sunarto (2003), persepsi sebagai suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera agar memberi makna kepada lingkungan, apa yang dipersepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan objektif.

Keintiman adalah kedekatan yang dirasakan oleh dua orang dan kekuatan dari ikatan yang menahan mereka bersama. Pasangan yang memiliki derajat keintiman yang tinggi, memperdulikan kesejahteraan dan kebahagiaan satu sama lain dan mereka saling menghargai, menyukai, bergantung dan memahami satu sama lain, (Sternberg dalam Baron & Byrne, 2004).

Dari penjelasan di atas dapat diambil suatu definisi bahwa keintiman adalah kedekatan perasaan yang dirasakan seseorang dengan orang lain, yang didalamnya terdapat kehangatan, saling menyukai, saling bergantung dan memahami satu sama lain, saling percaya, dan selalu ingin merasa dekat dengan orang tersebut.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keintiman (David & Ferguson, 2006). Faktor-faktor tersebut antara lain :
1. Rasa aman.
Rasa aman berbicara tentang ketenangan batin. Merasa aman berarti bebas dari bahaya, maupun rasa takut. Merasa aman bila tahu pasti bahwa kita dipelihara dan diperhatikan.
2. Komitmen.
Komitmen memandang ke masa depan yang tidak kelihatan dan berjanji akan berada di sana hingga akhir hayat. Komitmen menjanjikan kepastian dan menjaga cinta terhadap pasangan, saat gairah menjadi redup. Komitmen terhadap pasangan dapat dikomunikasikan melalui dukungan yang sejati dan pujian yang tulus.
3. Menerima pasangan tanpa syarat.
Meliputi cinta dan dukungan, tanpa mengharapkan balasan, tanpa penyesalan. Bila menerima pasangan tanpa syarat, individu akan mampu menerima apa adanya, tulus, dan toleransi yang besar pada pasangan.
4. Masa lalu yang bahagia.
Masa lalu yang menyenangkan bagi sebagian orang merupakan awal yang baik bagi mereka untuk menjalin hubungan dengan orang lain, termasuk hubungan dengan lawan jenis. Pernikahan orang tua yang harmonis menjadi contoh bagi anak-anaknya untuk menciptakan kehidupan pernikahan yang bahagia.

Dari hasil penelitian yang dilakukan White, et, al, (dalam Hendrick & Hendrick, 1992), disusun suatu sistem skoring untuk keintiman yang berdasarkan pada lima komponen intimacy maturity, yaitu :
1. Orientasi hubungan.
Setiap pasangan sadar akan perannya masing-masing di dalam kehidupan pernikahan. Sehingga masing-masing pasangan tersebut mengetahui apa yang menjadi tugas dan kewajiban mereka dalam menjalankan peran sebagai pasangan suami istri (Hendrick & Hendrick, 1992).
2. Komunikasi.
Menurut William, et. al, (1992), komunikasi merupakan pesan yang disampaikan baik secara verbal maupun non verbal. Saling bertukar pikiran, perasaan, keyakinan, fantasi, angan-angan, minat, tujuan dan latar belakang merupakan hal-hal yang biasa terkandung di dalam komunikasi antar pasangan. Kalau semuanya bisa terlaksana dengan baik, maka pasangan biasanya akan merasa intim.
3. Perhatian.
Perhatian merupakan suatu sikap atau perasaan yang dimiliki seseorang untuk orang lain dimana biasanya hal tersebut berasal dari kekuatan perasaan yang positif terhadap orang lain tersebut. Karakteristik perhatian pada keintiman bisa terjadi hanya ketika dua orang saling berinteraksi (William, et, al, 1992).
4. Komitmen.
Komitmen membutuhkan peran kedua pasangan untuk saling bekerja dengan sukarela dalam membangun keintiman di antara mereka baik dalam susah maupun senang dan menghargai perjanjian yang telah disepakati (William, et, al, 1992).
5. Seksualitas.
Seksualitas merupakan kualitas hubungan seks atau hubungan intim yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Seks yang berkualitas dapat meningkatkan keintiman yang telah ada. Artinya, pasangan yang awalnya sudah intim, apabila menikmati hubungan seks yang baik, maka mereka menjadi lebih intim lagi (Ishak, 2006).

Aspek-aspek tersebut kemudian dapat dijakdikan tolok ukur dalam menciptakan keintiman di usia di perkawinan. Semakin tinggi persepsi terhadap keintiman yang dimiliki oleh suami/istri, maka masing-masing aspek keintiman tersebut memiliki kemungkinan yang besar dalam menciptakan keintiman di usia pernikahan dua tahun pertama. Semakin rendah persepsi terhadap keintiman yang dimiliki oleh suami/istri, maka masing-masing aspek keintiman tersebut memiliki kemungkinan yang kecil dalam menciptakan keintiman di usia pernikahan dua tahun pertama.

Hasil penelitian suami/istri yang menjadi subjek penelitian Handayani (2006) menunjukkan bahwa:
1. Pasangan yang berada di usia pernikahan dua tahun pertama memiliki tingkat keintiman yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan usia pernikahan lainnya.
2. Kecenderungan tingkat keintiman subjek yang berusia 25 – 30 tahun lebih besar daripada subjek yang berusia 31 – 35 tahun. Sedangkan subjek wanita memiliki rata-rata keintiman yang lebih besar daripada subjek pria. keintiman pada subjek dengan jenjang pendidikan S2 lebih tinggi daripada subjek dengan jenjang pendidikan SMU, D1, D3 dan S1. Keintiman pada subjek dengan usia pernikahan 3 bulan – 1 tahun lebih tinggi daripada subjek dengan usia pernikahan 1,1 – 2 tahun. Keintiman pada subjek yang belum mempunyai anak lebih tinggi daripada subjek yang memiliki satu dan dua orang anak.

Usia pernikahan dua tahun pertama adalah periode pernikahan dimana masing-masing individu melakukan penyesuaian terhadap peran yang baru. Mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi pasangannya. Hal ini dilakukan karena mereka memiliki komitmen dalam sebuah ikatan pernikahan. Suami/istri yang menjalin keintiman akan lebih mudah untuk menyesuaikan diri sepanjang kehidupannya, termasuk menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan kritis yang terjadi. Keintiman di awal-awal pernikahan dapat menjadi landasan yang kuat untuk menjalani kehidupan pernikahan selanjutnya.

Penyesuaian diri yang baik pada tahun-tahun pertama pernikahan merupakan landasan yang kuat untuk menghadapi tantangan-tantangan pada masa-masa pernikahan berikutnya. Bagi suami/Istri yang baru menikah, melakukan aktivitas secara bersama-sama, saling memberikan perhatian, selalu berkomunikasi, jujur dan saling terbuka, menjunjung tinggi komitmen, serta menciptakan hubungan seks yang baik dan berkualitas akan memberikan pengaruh positif dalam kehidupan mereka. Karena suami/istri tersebut bisa merasakan dan menikmati kebahagiaan kehidupan mereka di awal-awal pernikahan.

DAFTAR PUSTAKA

Baron, R.A., & Byrne, D. (2005). Psikologi Sosial (edisi 10). Alih Bahasa. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Cox, F.D. (1978). Human intimacy marriage: The family and it’s meaning. Minnesota: West Publishing Co.

Duvall, E.M., & Miller, B.C. (1985). Marriage and family developmental (6th ed). New York: Harper and Row Publisher, Inc.

Hendrick, S., & Hendrick, C. (1992). Liking, loving and relating (2nd ed). Pacific Grove, California: Brooks/ Cole Publishing Company.

Hurlock, E.B. (1999). Psikologi perkembangan, Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan edisi kelima). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Ishak, N.F. (2006). Keintiman. http://www.drcinta.com/modules/articles/article.php?id.html (on-line: 03/02/2006).

Handayani, U.R. (2006). Persepsi Terhadap Keintiman Pada Suami/Istri Di Usia Pernikahan Dua Tahun Pertama. Skripsi. Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera tara. Desember, 2006.

Schaefer, M.T., & Olson. D.H. (1983). Family Studies-Review Year Book. Vol. 1 (45). Beverly Hills: Sage Publications, Inc.

Sunarto (2003). Prilaku Organisasi. Yogyakarta: AMUS.

Thoha, M. (1996). Prilaku Organisasi : Konsep dan Aplikasinya (Cetakan ke-8). Jakarta: Grafindo.

William, H.M., Johnson, V.E., Kolodny, R.C. (1992). Human Sexuality 4th ed. New York: Hapercollins Publishers, Inc.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s