YODI DAN TERAPI ‘R’

by Sri Mulyani Nasution on Monday, November 2, 2009 at 2:15pm ·

Yodi tahun ini genap sepuluh tahun. Yodi, anak keduaku ini sangat pengoceh (chatterbox) hingga kerap bikin pusing orang-orang di sekelilingnya. Semua dipaksa mendengar celotehannya terus menerus; sampai-sampai sering dikomplain agar berhenti bicara.

Walau suka berbicara, tapi Yodi gak bisa mengucap bunyi ‘r’; dan ini menjadi bahan ejekan terutama dari kakak, adik dan sepupu-sepupunya.

Sepanjang pengamatan saya sebagai ibu, di antara ketiga anak saya, hanya Yodi-lah yang mengalami ‘slightly’ gangguan bicara, walau saya anggap tidak cukup serius. Ketika kakaknya sudah mulai membaca di usia 3 tahun, Yodi malah baru mulai berbicara di usia itu. Sampai usia TK Yodi masih saja cadel. Di samping cadel, Yodi juga mengalami gagap. Yang saya bangga, walaupun Yodi kerap menjadi bahan ejekan dari teman dan keluarga namun ia tetap pede dan hanya membalas ejekan-ejekan itu dengan tersenyum.

Untungnya, dengan makin bertambahnya usia, lambat laun keterbatasan-keterbatasan itu hilang dengan sendirinya; dan ini sangat melegakan saya. Namun, di antara gangguan bicara yang Yodi miliki, ada satu keterbatasan Yodi yang menurut saya cukup memprihatinkan dan tak kunjung terselesaikan, yaitu ketidakmampuannya mengucap ‘r’. Memasuki usia sepuluh tahun, Yodi tak juga mampu mengucap bunyi itu dengan sempurna!

Saya terus berusaha melatih Yodi, namun tak juga menunjukkan hasil. Sampai-sampai saya membawanya kepada terapis bicara untuk membantunya menemukan bunyi itu! Menurut si terapis, modalitas yang dimiliki Yodi untuk mengucap bunyi ‘r’ pada dasarnya cukup memadai, Cuma kemungkinan modalitas itu kurang mendapat rangsangan yang cukup. Yodi disarankan untuk banyak berlatih mengucap bunyi ‘r’, disamping juga dilatih mengeluarkan suara-suara tertentu dan disarankan untuk banyak makan makanan pedas (cabe). Kayak burung beo saja! Padahal Yodi sama sekali gak mau makanan pedas, sampai saat ini. Namun, untuk saran lainnya saya tetap usahakan untuk dijalani.

Saya juga tak henti mencari informasi dari teman-teman yang mungkin memiliki pengalaman sama. Mahasiswa saya memberi saran untuk tidak menyerah karena adiknya juga baru bisa mengucapkan ‘r’ setelah kelas 5 SD, setelah latihan yang tak kenal lelah yang terus diberikan ayahnya. Wuih, berarti saya juga harus melakukan hal yang sama!

Ada yang menyarankan agar setiap sikat gigi, lidah Yodi harus secara rutin disikat perlahan secara berulang-ulang. Ada juga yang coba menenangkan saya dengan mengatakan bahwa itu justru suatu keuntungan. Karena, bila berbicara dalam bahasa Inggris, maka seseorang yang tak mampu mengucapkan ‘r akan terasa lebih fasih. Ada-ada saja…..

Pada awalnya semua anjuran dari berbagai sumber itu saya coba jalankan, tapi lama-kelamaan semakin mengendur dan berhenti sama sekali. Dan Yodi masih juga belum menunjukkan kemajuan, sampai suatu saat setelah beberapa bulan melewati masa ultahnya yang kesepuluh, tiba-tiba bunyi ‘r’ yang dinanti-nanti keluar dengan sendirinya dari mulut Yodi. Hhhhh…. betapa leganya! Yodi sudah bisa bilang ‘r’ dan seperti anak-anak kebanyakan di kala baru mampu mengucapankan bunyi ‘r’ maka segala kata yang memiliki huruf ‘r’ akan diucapkan secara berlebihan pada bunyi yang sangat didambakan itu. Saking excited-nya, Yodi yang tadinya mengucapkan ‘girl’ dengan pronunciation yang baik, tiba-tiba mengucapkannya begini :”Gerrr”. Dan geeeerrrrr lah kami yang sedang ada di dekatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s