Kekerasan Bukan Opini

Tanggapan terhadap tulisan saya sebelumnya yang menyentuh persoalan KDRT cukup menyadarkan saya bahwa pemahaman tentang isu KDRT ini masih sangat samar di mata masyarakat, Bisa jadi hal ini disebabkan minimnya informasi tentang isu ini. Di sisi lain, bagi sebagian orang, informasi yang berkenaan dengan isu KDRT ini dianggap sebagai ancaman terhadap legitimasi kekuasaan laki-laki terhadap perempuan. Hal ini menyebabkan pemberian informasi mengenai KDRT seringkali ditolak secara otomatis tanpa berusaha memahaminya dengan kepala dingin.

Banyak faktor yang mendorong terjadinya tindak kekerasan domestik, tapi penyebab utamanya adalah interpretasi yang subjektif terhadap relasi yang tidak setara. Memang benar dalam QS An Nisa ayat 34 dikatakan bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Hanya saja, dalam pelaksanaannya, sebagian laki-laki (sekali lagi ‘sebagian’) memanfaatkan posisi yang lebih tinggi, ini sebagai legitimasi untuk melakukan kekerasan dengan alasan ”mendidik” atau ”membina” perempuan.

Aktivitas mendidik dan membina inilah yang kadangkala dilakukan dengan cara-cara kekerasan dengan tujuan membuat perempuan kehilangan keberdayaannya; kehilangan kemandiriannya. Para perempuan dijauhkan dari komunitasnya bahkan dari keluarganya. Perempuan korban kekerasan juga biasanya dijauhkan dari informasi sehingga mereka tidak memahami bahwa apa yang mereka terima adalah bentuk kekerasan. Mereka tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika mengalami tindak kekerasan.

Simak saja kesaksian seorang korban kekerasan domestik yang dikutip dari ”RUU Anti Kekerasan” terbitan tahun 2002. Korban sering mendapat pukulan-pukulan dari suaminya yang tidak bekerja dan sering berjudi. “Saya terima saja pukulan-pukulan itu karena katanya dalam agama perempuan itu harus patuh kepada suami. Tetapi, lama-lama saya enggak kuat.” (”RUU Anti Kekerasan”, 2002)

Jadi, apa yang saya sampaikan ini bukanlah opini subjektif yang seolah digeneralisir kepada semua lelaki. Dalam hal ini yang menjadi target adalah lelaki pelaku KDRT. Tulisan ini bukan hisapan jempol karena didasarkan pada pengetahuan mengenai KDRT yang mengacu pada berbagai penelitian. Saya percaya masih banyak lelaki baik di sekitar kita. Mari kita lindungi keluarga kita dari tindak KDRT.

Jakarta, 11 September 2016