Lelaki Indonesia

Seorang kerabat datang pada saya dan meminta saran tentang apa yang harus ia lakukan bila dalam rumah tangganya yang tidak dikaruniai anak dihadapkan pula pada hubungan yang tidak harmonis dengan pasangan hidupnya. Suami mau menang sendiri, keras dalam memaksakan kehendak, tidak adil terhadap mertua; belum lagi kecenderungan adanya unsur-unsur menginginkan materi dari pihak keluarga istri.

Lainnya mengeluhkan suami yang selalu seperti raja dan tak pernah mau berbagi dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah, yang membiarkan istrinya menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, mulai dari mengurus anak-anak, mengganti bohlam yang putus, sampai urusan pasang gorden dalam keadaan hamil tua! Tidak ada fasilitas yang disediakan baginya untuk menghibur diri ketika merasa jenuh dengan rutinitas. Tidak ada gadget sebagai pelengkap perempuan modern. Ia seperti terpasung dalam satu lorong gelap, sementara di luar ada lingkungan gemerlap yang menjanjikan banyak kesenangan. Dan penghasilan suami jelas memungkinkan untuk meraih semua kesenangan itu.

Apa yang disampaikan di atas hanyalah sebagian dari isi curhat para perempuan dan hanya sebagian kecil dari segudang kekecewaan perempuan terhadap lelaki. Curhat tersebut mewakili beberapa pembicaraan tentang lelaki Indonesia, beberapa waktu belakangan. Saya akhir-akhir ini memang sering dihadapkan pada perbincangan tentang lelaki Indonesia. Isu lelaki Indonesia ini agaknya perlu menjadi bahan perenungan. Bukan hanya bagi para lelaki, tetapi para perempuan sebagai pendidik anak lelaki Indonesia dan mempersiapkan mereka menjadi Lelaki seutuhnya yang mampu menjadi sosok laki-laki seutuhnya dan didambakan para perempuan.

Budaya patriarkan telah menyebabkan para lelaki dididik menjadi laki-laki manja yang hanya mampu berperan sebagai raja. Saya jadi teringat masa-masa remaja saya, dimana saya sering kesal karena nenek selalu meminta cucu-cucu perempuan melayani segenap kebutuhan cucu-cucu laki-lakinya, meskipun kami para perempuan sedang memiliki kesibukan yang lain, sementara para cucu lelaki ini tidak sedang melakukan aktivitas apapun. Para lelaki selalu diperlakukan istimewa sehingga mereka menjadi manja dan tidak peka terhadap perempuan rumah.

Sekedar bahan perenungan bagi sebagian lelaki Indonesia. Para perempuan seringkali merasa kecewa dan tidak bias menerima beberapa perilaku & sikap mereka.  Ada beberapa sikap, perilaku, habit atau karakter yang menjadi sumber komplain para perempuan. Saking kecewanya pada lelaki Indonesia, isu mencari pasangan pria asing pun jadi mengemuka.

Kalau selama ini seolah harus dimafhumi bahwa lelaki itu egois, maka belakangan para perempuan sudah bosan memahami itu. Keegoisan lelaki harus diubah, bukan justru harus memaksa perempuan untuk memahaminya. Salah satu contoh egoisme lelaki adalah dalam persoalan pembebasan perempuan dalam menjalani kehidupannya. Tak bisa dipungkiri bahwa banyak para lelaki yang kagum dan menyukai perempuan berpendidikan tinggi, tapi mereka justru tidak bersedia memilih perempuan berpendidikan tinggi sebagai pasangan hidupnya.

Sebagai pasangan, umumnya lelaki Indonesia menginginkan perempuan sempurna; terutama dalam penampilan fisik. Sedangkan penampilan fisik jelas membutuhkan modal yang tidak sedikit. Apakah para lelaki lantas dengan murah hati memfasilitasi pasangannya untuk kebutuhan itu? Ternyata tidak selalu. Hasil perbincangan dengan para perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar lelaki Indonesia tidak bersedia memfasilitasi kesempurnaan yang mereka dambakan itu.

Keegoisan lelaki juga tercermin dari perilaku poligami yang mereka praktekkan. Apakah para lelaki dalam berpoligami benar-benar mengikuti sunnah Rasul? Bila itulah alasannya, pasti akan banyak para janda yang tertolong karena dinikahi para lelaki atas dasar sunnah rasul. Kenyataan yang ada adalah, dalam berpoligami, para lelaki  mencari pasangan yangg menguntungkan baginya, tidak untuk tujuan membantu atau melindungi seperti yg diteladankan oleh Rasul SAW.

Para lelaki sangat tergantung pada keluarganya. Banyak sekali lelaki yang keras dan kasar pada pasangan, tidak mau menerima kritik dan tidak berusaha memahami pasangan. Apabila pada akhirnya si lelaki berhasil diberi pemahaman oleh pasangan atas kelakuannya yang tidak tepat; percayalah, hanya tinggal menunggu waktu saja ia akan kembali ke kebiasaan awalnya setelah berbincang-bincang dengan keluarganya.

Para lelaki Indonesia tampaknya belum matang secara emosi.  Walau banyak lelaki keras dan kasar pada pasangan, tetapi jangan sekali-kali pasangan mereka menunjukkan perilaku yang sama. Lelaki Indonesia tidak akan mau menerima bila pasangannya yg ia kenal santun  mengekspressikan emosinya secara terbuka.  Untuk menguatkan posisi superiornya, para lelaki merasa perlu menguji calon pasangan. Bila lulus ujian, baru akan beranjak ke tahap yang lebih intim. Sayangnya mereka — para Lelaki Indonesia — seringkali menguji perempuan dengan cara-cara yang tidak cerdas. Bila tidak berhasil menjalankan misinya, mereka menjadi emosional. Lagi-lagi, untuk menguatkan posisi superiornya Lelaki Indonesia sangat suka memuji-muji diri sendiri. Bila dikritik oleh para perempuan — bahkan dengan candaan sekalipun — mereka menjadi emosional.

Para suami seringkali diistilahkan para istri sebagai tambahan anak yang berada dalam pengasuhannya. Istilah si bungsu, paling susah di atur dan paling manja menjadi predikat para suami. Mengapa demikian? Karena para lelaki memang tidak dididik untuk menjadi dewasa. Para ibu seringkali memperlakukan anak lelaki mereka sebagai anak emas dalam keluarga yang harus diladeni dan dihormati. Akibatnya mereka tidak pernah terlatih menjadi dewasa. Bahkan ketika mereka dianugerahi gelar lelaki mapan berkedudukan tinggi dalam usia yang sudah matang, ternyata sering tidak diikuti dengan tingkat kematangan dalam bersikap dan berperilaku, terutama dalam keluarga dan dalam menghadapi pasangan.

Dalam hal wawasan dan pemikiran, para perempuan sudah melaju dengan cepat. Para lelaki mandeg pada pola pemikiran generasi terdahulu, sementara para perempuan terus terpacu untuk berpikir lebih maju. Hal ini diperkuat oleh hasil survey salah satu konsultan di Jakarta (lihat http://adfamilia-indonesia.com/?page_id=477 ) dimana disebutkan bahwa ketidakcocokan visi-misi dan tujuan  serta ketidakcocokan dalam pemikiran dengan pasangan menjadi alasan timbulnya perselingkuhan di antara pasangan. Kesenjangan ini membuat banyak pasangan menjadi tidak seimbang. Salah satunya (biasanya perempuan) menjadi banyak berkorban dan akhirnya merasa dirugikan.

Mencari pasangan hidup memang tidak mudah. Terutama memilih Lelaki yang mampu mendampingi dengan kesetiaan, kesabaran dan ketulusan. Saking susahnya salah satu sahabat mengistilahkannya seperti mencari jarum dalam jerami. Para lelaki Indonesia umumnya memang tidak dipersiapkan menjadi suami yang baik, sementara para perempuan sejak kecil sudah dilatih agar kelak menjadi istri idaman.

7 thoughts on “Lelaki Indonesia”

  1. Yah mbak, itulah mereka dengan berbagai macam perilaku yang menyebalkan bahkan kadang sangat mengecewakan…

    Tapi saya rasa, tidak akan habis jika terus dibahas… Malah sebaiknya dibicarakan secara baik, dan peran kita sebagai seorang wanita yang terus membuka mata mereka mengenai hal tersebut…

    Andaikan bila saat ini mereka tidak hidup dengan seorang wanita, apakah semua hal yang seharusnya dilakukan wanita setidaknya sedikt saja dapat mereka lakukan.

    • Hehe… emosi ya mbak…
      Ya, kita sebagai perempuan punya peran yang cukup signifikan dalam membuka mata lelaki, termasuk juga memberikan didikan terbaik buat anak lelaki. Tapi keputusan akhir tetap pada lelaki. Apakah akan tetap menjadi lelaki seperti yang digambarkan di atas, atau mau bermetamorfosa menjadi lelaki idaman perempuan Indonesia😉

  2. aidilarfand said:

    asslamu’alaikum,..
    maaf, menganggu ya bu. sedikit menambahkan tentang artikel ibu.kalau semua nya dibarengi dengan iman maka semuanya akan menjadi lebih indah yang dapat terlihat di dalam surat al – baqarah : 103. “Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui” disini lah dapat kita lihat bersama bahwasannya kalau hidup kita ini di kuati dengan iman, maka semua masalah dapat diselesaikan dengan baik dan damai. itu saja bu yang dapat di tambahkan sarannya, semua bisa menjadi renungan bagi kita bersama. asslamu’alaikum.🙂

    • Wa’alaikumsalam ww.

      Aidil, mohon maaf setelah sekian lama saya baru menyadari kalau reply untuk commentnya gagal posting. Terimakasih. Comment yang bagus sekali. Semoga menjadi bahan renungan bagi kita semua. Amiin.

  3. asskum,,ibu sri saya mau tanya apa buku resiliensi yang ada diatas itu karangan ibu kah ?? kebetulan bu saya sekarang sedang meniliti ttg resiliensi dan sedang membutuhkan banyak referensi tentang resiliensi🙂 mana tau ibu bisa memberikan informasi mengenai referensi tersebut,, terimah kasih ibu sri, salam kenal dari icha di pekanbaru

  4. tulisan Jamillazzaini seolah menjawab tulisan ini. Yuk dibaca. http://www.jamilazzaini.com/lelaki-terbaik/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s