Memahami KDRT

Jangan berpikir bawa KDRT hanya berupa kekerasan fisik. Lebih dari itu, KDRT mencakup banyak hal yg bertujuan menyakiti seseorang dalam lingkup rumah tangga. Berkata kasar kepada istri dan menjadikannya bahan olok-olokan pun merupakan KDRT. Melarang istri bekerja atau memiliki aktivitas di luar rumah dengan tujuan membatasi ruang gerak istri, merupakan KDRT. Jangan bicara hadis karena dalam hal ini dasar suami melarang hanyalah untuk membatasi ruang gerak dan kemandirian ekonomi sang istri. Agar apa? Agar istri tak mampu melepaskan diri apabila suami berbuat khianat.

Bentuk KDRT itu banyak sekali. Mulai dari yang ringan, sampai yang berat. Tujuannya membuat istri tidak berdaya. Mencari-cari kesalahan istri untuk dijadikan senjata ketika suami melakukan kesalahan. Menuduh istri selingkuh sampai berzina adalah hal yang lumrah. Untuk apa? Agar lebih mudah melangkah saat ingin menduakan istri. Masa sih ada suami yang seperti itu? Ada! Bukan dalam hitungan satu atau dua saja. Intinya adalah menanamkan rasa bersalah kepada pasangan. Apakah cuma suami yang melakukannya? Pada umumnya iya. Belum lagi KDRT di ranah seksual, yang tidak akan saya bahas di sini.

KDRT yang paling banyak terjadi saat ini adalah melarang istri memiliki akun media sosial, sementara sang suami bebas berselancar di dunia maya, bercengkerama dengan banyak perempuan dan mengakses situs2 porno. Masak sih ada laki2 yg demikian? Banyak! Berbagai jenis kekerasan masih terjadi secara masif pada era keterbukaan informasi ini. Atas nama kepatuhan, para istri menutup dirinya dari informasi yang menjadi haknya. Bahkan media informasi justru semakin banyak digunakan untuk mempengaruhi para perempuan agar menutup diri dari informasi yang seharusnya mereka dapatkan. Modus lain adalah memutarbalikkan logika yang muaranya tetap pada upaya membuat para perempuan menjadi tidak berdaya.

Jangan pernah meminta cerai karena alasan perselingkuhan suami, karena kesalahan akan berbalik padamu. Tidak akan setimpal perlakuan yang engkau hadapi di ruang pengadilan saat memperjuangkan hak-hakmu; karena dunia masih memandang rendah perempuan. Kalau engkau menginginkan perceraian, berilah kesempatan pada suami untuk menjatuhkan talak, katakan saja engkau selingkuh, maka dalam satu kali persidangan, palu akan diketok, dan engkau menemukan kebebasanmu. Tapi jangan harap hak asuh akan jatuh padamu, karena ibu yang selingkuh tidak pantas mengasuh anaknya. Kalau kamu menginginkan hak asuh, katakan bahwa anak itu hasil hubungan gelapmu. Ya, karena itu satu-satunya cara kamu bisa mendapatkan hak asuhmu. (Disclaimer: don’t do this at home, unless you are assisted by an expert 😜)

Jangan pernah mengambil kesimpulan atau mengadili orang lain berkenaan dengan kondisi rumah tangganya, apalagi memberi saran yang belum tentu tepat baginya. Kecuali kamu seorang ahli. Ya, ahli. Sebab, tidak ada seorangpun yang secara utuh memahami permasalahan rumah tangga orang lain, meskipun ia bercerita padamu.