MENGANGKAT KAUM YANG TERPINGGIRKAN

Oleh: Darin Brenda Iskarina & Dra. Sri. Mulyani Nasution, M.Psi.

Ketika ada sekelompok kaum atau komunitas yang terpinggirkan di masyarakat dan melalui perjuangan yang gigih mereka berusaha untuk keluar dari posisi tersebut, maka akan timbullah reaksi dari mereka yang berkuasa, bisa positif bisa negatif. Di antara reaksi positif adalah adanya penerimaan yang diikuti pemberian penghargaan dengan berbagai cara. Salah satu contohnya  pemberian penghargaan kepada kaum perempuan yang telah lama berjuang menuju perbaikan nasib kaum perempuan dalam bentuk penetapan Hari Ibu.

Penentuan hari ibu di Indonesia berbeda dengan perayaan Mothers Day di negara lain. Peringatan Hari Ibu di Indonesia diawali dari berkumpulnya para pejuang perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera pada Kongres Perempuan Indonesia I yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928. Salah satu hasil dari kongres tersebut adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).  Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu tidak serta merta diputuskan pada kesempatan tersebut, tetapi baru ditetapkan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Presiden Soekarno bahkan menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959[1].

Tujuan para pejuang perempuan berkumpul pada saat itu adalah dalam rangka menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Para perempuan ini menggarap berbagai isu tentang persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan. Tak hanya itu, masalah perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan masih banyak lagi, juga dibahas dalam kongres itu. Penetapan Hari Ibu ini diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Selain itu, Hari Ibu juga merupakan saat dimana kita mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu [2]. Terjadinya perubahan dalam cara memaknai dan memperingati Hari Ibu ini karena mengikuti perayaan Mother’s Day yang biasa di lakukan di negara lain.

Bertepatan dengan ‘Hari Ibu’ tanggal 22 Desember 2013 lalu, berbagai cara ditunjukkan masyarakat dalam memaknai perayaan ini. Ungkapan-ungkapan tentang hebatnya sosok ibu terus berkumandang melalui semua saluran televisi Indonesia, pun melalui media sosial yang banyak menemani hari-hari masyarakat kita belakangan ini. Ada yang mengungkapkan dengan serius atau lewat canda, dan ada pula yang mengungkapkan dengan cara yang sungguh dramatis. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah penggambaran tentang ironisnya nasib beberapa ibu yang ditetapkan menjadi terpidana korupsi dan saat ini terpaksa harus meringkuk di tahanan KPK, bahkan ada yang sudah di Lembaga Pemasyarakatan karena vonisnya sudah jatuh. Sebut saja sosok Angelina Sondakh, Miranda Gultom dan terakhir kali yang sungguh menggegerkan, meski sebenarnya sudah banyak diprediksi, yakni sosok Ratu Atut Chosiyah yang sudah dua periode menjabat Gubernur Banten. Bisa jadi menurut ukuran umum para ibu ini belum berhasil memberikan sosok terbaik untuk panutan anak-anaknya, namun mungkin secara naluriah, mereka tentunya tetap menjadi sosok yang dicintai anak-anaknya bahkan mungkin untuk beberapa hal tetap menjadi panutan bagi anak-anaknya.

Bukan hanya dramatisasi penggambaran ibu yang kita temukan dalam ungkapan selamat di hari itu, hal yang juga menjadi perhatian saya adalah gegap gempitanya para ibu mengarahkan ucapan selamat kepada dirinya sendiri dan kepada para ibu sebaya. Ada pula yang mengungkapkan dengan sindirian yang ditujukan kepada ibu-ibu yang dianggap belum mencerminkan sosok ibu seutuhnya (karena yang bersangkutan menganggap bahwa sosok seperti dia sendirilah yang pantas dinamakan sebagai sosok ibu ideal). Para ibu terjebak dengan kejumawaan karena menganggap begitu besar jasa yang telah mereka berikan sebagai seorang ibu sehingga pantaslah untuk diberikan ucapan selamat dan ungkapan kasih-sayang.

Biasanya di ‘Hari Ibu’ kita juga akan menemukan komentar dari para bapak, terutama yang bernada kecemburuan karena tidak ada perayaan ‘Hari Bapak’ di Indonesia. Banyak bapak yang komplain karena ketiadaan ‘Hari Bapak’ tersebut padahal mereka menganggap bahwa mereka sama berjasanya dengan para ibu dalam hal membesarkan anak-anaknya.

Apa yang dikeluhkan para bapak tersebut tampaknya cukup masuk akal, terutama bila yang dijadikan target apresiasi pada Hari Ibu adalah ibu-ibu muda maupun paruh baya yang seolah menggiring anak-anaknya dan orang lain untuk memberikan apresiasi atas jasa-jasa mereka karena telah menjalankan tugas mengasuh, mendidik, mendampingi dan membesarkan anak-anaknya, sedangkan para bapak juga merasa memiliki dan menjalankan tugas yang sama.

Bila seorang laki-laki diminta mengapresiasi jasa-jasa ibu yang telah membesarkannya, masihkah ia protes dan menolak karena menganggap ayahnya juga memiliki jasa yang sama? Tampaknya tidak demikian. Seorang laki-laki dewasa apalagi telah memiliki keluarga sendiri pasti akan sangat mengakui jasa-jasa ibu dalam kehidupannya. Mengapresiasi jasa-jasa ibu pada Hari Ibu tentu akan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Di sisi lain, bila diminta untuk mengapresiasi jasa istrinya yang telah menjalankan tugas sebagai seorang ibu, akan menjadi berbeda situasinya. Apresiasi sepihak terhadap para ibu akan menimbulkan kecemburuan bagi para bapak.

Adanya pergesaran dalam memaknai Hari Ibu inilah yang tampaknya menjadi sumber pemicu kecemburuan dari para bapak, sehingga mereka  menuntut bahwa Hari Bapak juga perlu ditetapkan untuk memberikan apresiasi kepada para Bapak. Tahun 2006 paguyuban SATU HATI lintas agama & budaya di Solo yang dinamai Putra Ibu Pertiwi memprakarsai acara Deklarasi Hari Ayah untuk Indonesia. Mereka menetapkan Hari Ayah pada tanggal 12 November, digabungkan dengan hari kesehatan. Deklarasi ini dilakukan setelah melalui diskusi dan kajian panjang. Deklarasi dilakukan di dua tempat pada jam dan hari yang sama yakni di Solo dan Maumere Flores NTT[3].

Sayangnya, penetapan Hari Bapak di Indonesia belum cukup populer karena memang belum ada penetapan yang resmi secara nasional. Hal ini menyebabkan perayaan hari ibu masih terus menjadi pemicu kecemburuan bagi para bapak. Mungkin saja hal ini terjadi karena belum dipahaminya makna yang tersembunyi dari suatu penghargaan yang diberikan sebagai upaya merangkul kaum yang terpinggirkan.

Melihat penetapan hari ibu di Indonesia, sangat beralasan ketika Hari Bapak tidak diagendakan seperti halnya Hari Ibu, karena alasan penetapan tersebut pada awalnya dilakukan untuk memberikan penghargaan kepada kaum perempuan yang berjuang untuk bangsa dan kaumnya; karena sesungguhnya kehidupan dikuasai oleh sosok para lelaki sehingga kaum perempuan menjadi terpinggirkan.

Ketika satu kelompok manusia sengaja ditonjolkan identitasnya untuk diberikan penghargaan, maka sesungguhnya hal itu terjadi karena sebelumnya mereka menjadi komunitas yang terpinggirkan. Bahwa pada dasarnya dunia yang mereka masuki bukanlah dunia dimana mereka dapat menjadi diri sendiri dan diperlakukan sama dengan lainnya. Bila kemudian mereka diberi penghargaan, maka hal itu merupakan usaha untuk mengangkat mereka dari keterpinggiran. Itulah sebabnya ada istilah Hari Buruh, Hari Anak, Hari Bumi, Hari Aids dan lain-lain. Ketika ada istilah, Sepak Bola Wanita, Tenaga Kerja Wanita, maka arti yang tersirat adalah bahwa area atau aktivitas tersebut sesungguhnya bukan milik mereka. Bukan tempat dimana selayaknya mereka berada. Apakah Anda pernah mendengar istilah Sepak Bola Laki-Laki atau Petinju Laki-laki?

_________________________________________________________

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s