MIGRANT SMUGGLING: ANCAMAN TERHADAP PEREMPUAN

Meski masa terus berjalan, modernisasi terus merambah, namun upaya mengangkat harkat perempuan masih harus terus diperjuangkan; meski tertatih. Harapan terus ditanam untuk menuai hasil yang semakin baik dan memberi manfaat bagi peningkatan harkat kaum perempuan. Perlu disadari, persoalan perempuan bukan hanya sebatas menjadi korban KDRT atau korban trafficking. Belakangan, isu smuggling juga tidak terbebas dari persoalan ‘perempuan’, yang ditengarai, kerap jadi objeknya.

Apa itu smuggling? Istilah smuggling belakangan ini relatif mulai sering didengar. Dalam “The American Heritage Dictionary of the English Language”, smuggling diartikan sebagai tindakan memasukkan barang terlarang atau barang-barang yang semestinya kena pajak. Merupakan aktivitas komersial dari membeli dan membawa barang-barang dari luar negeri.[1]

Smuggling berasal dari kata dasar ‘smug·gle’ yang berarti:

  1. To import or export without paying lawful customs charges or duties (mengimpor atau mengekspor tanpa membayar pajak yang ditetapkan secara resmi).
  2. To bring in or take out illicitly or by stealth (membawa masuk atau membawa keluar dengan cara mencuri).[2]

Human trafficking berbeda dengan people smuggling. Human trafficking merupakan perdagangan manusia yang umumnya dimanfaatkan untuk tujuan perbudakan seksual, perbudakan manusia, atau untuk jual beli organ manusia.[3] [4]  Sedangkan pada people smuggling, seseorang secara sukarela meminta atau membayar seseorang — yang dikenal dengan istilah smuggler, untuk secara diam-diam mengirim mereka (smuggled) dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Umumnya melibatkan transportasi dari satu negara ke negara lain, dimana pada proses masuk yang resmi/legal pasti akan ditolak di perbatasan internasional. Bisa jadi, tidak ada pengecualian yang dimasukkan dalam persetujuan illegal. Setelah masuk ke satu negara dan sampai pada lokasi tujuan utama, orang yang bersangkutan akan memiliki kebebasan untuk menentukan langkahnya.

Menurut “The International Centre for Migration Policy Development (ICPMD)”, human smuggling merupakan “kejahatan terhadap Negara” –dalam hal ini tidak ada korban penyimpangan hak asasi kaum ‘smuggled migrants’.” Sedangkan human trafficking, di sisi lain, merupakan “kejahatan terhadap manusia/korban”;  pelanggaran terhadap hak-hak korban trafficking (hak asasi, korban korban pemaksaan dan ekspolitasi, memperlakukan manusia sebagai korban kejahatan dan pelanggaran hak azasi manusia.”[5] Smuggling mensyaratkan adanya perjalanan antar negara, sedangkan pada trafficking tidak harus selalu ada perjalanan antar negara. Tidak seperti kebanyakan kasus human smuggling, korban human trafficking tidak diperbolehkan meninggalkan tempat setelah mereka sampai di tujuan.

Konsep Migrant Smuggling secara potensial dapat dipakai pada:

  1. Mereka yang memfasilitasi para smuggled untuk masuk ke satu Negara, demi mendapatkan keuntungan finansial.
  2. Mereka yang memfasilitasi seseorang untuk menetap atau tinggal di satu negara, demi mendapatkan keuntungan finansial.

Namun demikian secara umum literature menggunakannya untuk poin pertama.[6]

Lantas, bila people smuggling tidak melanggar hak azasi para smuggled, apakah migrants smuggling tidak membahayakan para perempuan? Tentu tidak demikian. Beberapa hasil penelitian dan literature memberikan gambaran yang suran mengenai nasib para smuggled, terutama para perempuan. Para perempuan yang terjebak di antara para smugglers dapat saja mengalami tindak kekerasan yang dilakukan terhadap mereka. Mungkin para pekerja yang sering mengeksploitasi mereka atau negara yang memperlakukan mereka layaknya sebagai pelaku tindak kriminal (dan secara potensial diperlakukan sebagai teroris). Dengan demikian, smuggled people sangat beresiko terhadap kekerasan.[7]

Dalam proses smuggling, ada satu pemberhentian yang dinamakan ’safe-houses’.  Menurut Leman dan janssens[8], safe-houses adalah tempat dimana berbagai aktivitas dapat dilakukan. Mulai dari transaksi finansial. Persiapan foto untuk paspor, transfer para korban antara dua penghubung jaringan, atau bisa saja sebagai tempat menyembunyikan orang-orang selama transit perjalanan. Safe-houses juga dapat menjadi tempat dimana mereka bisa melakukan kontak dengan keluarga di negara asal, atau sebagai tempat memroses pekerja illegal, dalam rangka membayar bagian dari upah smuggling. Apabila melibatkan prostitusi, maka safe-houses dapat digunakan sebagai tempat menyupervisi para perempuan, sebelum mereka ditejunkan ke tempat-tempat prostitusi.[9]

Jadi, istilah safe-houses sebenarnya tidak sesuai dengan situasinya. Dalam kenyataannya, safe-houses tidak aman bagi siapapun, kecuali bagi para smugglers. Yang sering terjadi adalah tempat tersebut berfungsi sebagai tempat persembunyian dari lingkungan sosial yang pada gilirannya akan menjadikan para smugglers leluasa untuk melakukan kekkerasan fisik.


[1] The American Heritage Dictionary of the English Language, Fourth Edition copyright. 2000. Houghton Mifflin Company. Updated in 2009.

[2] WordNet 3.0, Farlex clipart collection.  2003-2012. Princeton University, Farlex Inc.

[4] Human trafficking for organs/tissue removal. Fightslaverynow.org. Retrieved 2012-12-30.

[5] Difference between Smuggling and Trafficking. Anti-trafficking.net. Retrieved 2012-12-30.

[6] United Nations Office on Drugs and Crime. August 2012. Migrant Smuggling in Asia. A publication of the Coordination and Analysis Unit of the Regional Centre for East Asia and the Pacific.

[7] International Council on Human Rights Policy. 2010. Migration: human rights protection of smuggled persons. http://www.ichrp.org/en/projects/122

[8] United Nations Office on Drugs and Crime. August 2012.

[9] Leman dan Janssens dalam United Nations Office on Drugs and Crime. August 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s