Perempuan, Karir dan Rumah Tangga: Inner Conflict yang tak Kunjung Selesai

Darin Brenda Iskarina
Sri Mulyani Nasution

Perempuan dan karir masih terus menjadi topik yang tak henti dibicarakan. Seolah karir menjadi suatu yang mahal bagi perempuan, terutama perempuan yang masih ingin mengabdikan diri pada keluarga. Bagi perempuan jenis ini, karir memang benar-benar menjadi barang mahal.

Persoalan perempuan, karir dan rumah tangga tidak akan terlepas dari reduksi terhadap perempuan yang selalu dianggap lebih lemah daripada laki-laki. Karena itulah para pahlawan perempuan baik dunia maupun Indonesia sudah sejak lama memperjuangkan hak-hak perempuan, salah satunya dari Indonesia adalah Raden Ajeng Kartini. Walau demikian, dalam kehidupannya, Kartini tidak dapat memenuhi keinginannya sebagai perempuan mandiri.

Dalam dunia Sosiologi, banyak bidang-bidang yang membahas tentang gender dan dunia feminism, antara lain Sosiologi Gender, Sosiologi Feminisme dan sabagainya.

Feminisme dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
Feminisme Liberal, adalah kaum feminis yang beranggapan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan pria. Seperti dalam bidang pendidikan, politik, karir dan sebagainya.

Feminisme Radikal, kaum feminis yang memiliki pendapat yang sangat berbeda dengan feminisme liberal yang beranggapan bahwa hak perempuan dan pria adalah sama. Mereka beranggapan bahwa peran sebagai ibu, dan istri merupakan bentuk eksploitasi terhadap perempuan, dan pernikahan adalah sesuatu yang dapat mendiskriminasi perempuan.

Banyak hal yang menyebabkan terbentuknya model feminisme.
Aktivis feminism yang berbau politik terbentuk pada abad ke 19. Gerakan ini memperjuangkan hak-hak perempuan setelah ia menikah dan memiliki keluarga sendiri.

Budaya-budaya yang tidak kita sadari sejak dulu sudah membentuk pola dan cara berfikir kita. Di mana dari kecil kita sudah identik dengan warna “merah muda” dan mainan feminin seperti “boneka” ini sudah membentuk kepribadian perempuan dimana diajarkan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah lembut. Sejak kecil anak perempuan sudah diajarkan membantu pekerjaan ibunya melakukan pekerjaan rumah dibanding anak laki-laki yang cenderung lebih dibebaskan. Sehingga, biasanya membentuk pola pikir dalam keluarga inti yang berpendapat bahwa pekerjaan perempuan hanya sebatas di rumah saja.

Masyarakat Indonesia yang kebanyakan penganut budaya patriarki akhirnya semakin mempertegas pembatasan peran yang diterima laki-laki dan perempuan. Kita dapat melihat pembagian peranan yang diterima laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki lebih cenderung mendapatkan peran publik, dan perempuan mendapatkan peran domestik. Nilai-nilai ini masih berlaku di kalangan masyarakat hingga saat ini.
Budaya patriaki yang sudah sangat melekat sejak dulu dalam masyarakat memang susah untuk dihilangkan. Namun sedikit demi sedikit dengan kesadaran yang semakin besar, diharapkan akan terjadi perubahan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sosiolog Yorkshire memberikan hasil bahwa, 44 persen pria menginginkan perempuan yang dapat mengurus rumah tangga, 39 persen mengatakan menginginkan perempuan yang pandai memasak, dan hanya 16 persen yang menginginkan perempuan mandiri secara finansial.

Pernah ada yang mengatakan kepada saya, “Untuk apa seorang perempuan, bekerja di luar rumah, karena menjadi ibu rumah tangga itu saja adalah pekerjaan yang luar biasa. Kenapa baru merasa hebat ketika mampu melakukan keduanya?”.

Menurut hemat saya, menjadi ibu rumah tangga bukan merupakan sebuah pekerjaan, melainkan sebuah kewajiban yang sangat mulia. Sama dengan kewajiban seorang suami menafkahi anak dan istrinya. Tidak ada salahnya bagi seorang perempuan jika memiliki pekerjaan di luar rumah. Karena toh dalam agama juga diperbolehkan. Semestinya, kita melihat Khadijah, istri Nabi Muhammad yang sekaligus seorang entrepreneur/wirausahawan, sebagai panutan perempuan-perempuan di zaman millennium ini.

Mengacu pada kisah hidup Khadijah, istri Nabi Muhammad Saw. Ini dianggap sebagai wiraswastawan perempuan yang luar biasa pada era itu. Khadijah binti Khuwailid lebih dari sekedar istri, ibu rumah tangga atau pengusaha. Khadijah berasal dari golongan pembesar Mekkah. Menikah dengan Muhammad Saw., ketika berusia 40 tahun. Khadijah merupakan wanita kaya, cerdas dan terkenal. Khadijah bisa hidup mewah dengan hartanya sendiri. Khadijah tidak hanya wiraswastawan, dia juga seorang istri yang hebat. Semestinya para perempuan menjadikannya sebagai role model.

Para perempuan semestinya menyadari bahwa memiliki pekerjaan di luar rumah tidak berarti menelantarkan kewajiban di rumah, kita harus pintar memilah-milih urusan kantor atau rumah, karena masing-masing tugas pasti memiliki tingkat kepentingan yang berbeda. Patut dicermati bahwa tidak berarti jika seorang ibu selalu berada di rumah, maka ia akan berhasil mengatur kehidupan rumah tangganya, karena kenyataan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah demikian banyak para ibu rumah tangga yang tidak mampu mengatur rumah tangga secara efektif dan efisien karena kurangnya pengetahuan serta wawasan. Kadangkala para ibu rumah tangga memiliki kesibukan luar biasa, bahkan jauh melebihi kesibukan para perempuan berkarir dalam beraktivitas di luar rumah, sehingga menelantarkan kebutuhan rumah tangganya.

Para perempuan masa kini; para penerus Kartini masa kini, harus semakin cermat memahami kebutuhan utama dalam rumah tangga agar tetap mampu menjalankan peran domestik sekaligus peran publiknya. Pada dasarnya, yang dibutuhkan anak dan suami di rumah adalah, kasih sayang, perhatian, bimbingan dalam hal pendidikan, agama dan moral dari orang tuanya. Tidak bergantung pada seberapa banyak orang tuanya berada di sekitar rumah secara fisik.

Khadijah, sebagai isteri Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya seorang istri dan ibu rumahtangga. Beliau juga seorang wirausahawan yang hebat. Beliau dapat dijadikan role model bagi para perempuan, sebab seorang perempuan harus memiliki tokoh panutan dari kalangan perempuan.

Selamat menjalani peran publik para Kartini masa Kini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s