RESILIENSI DAN KORBAN KEKERASAN DOMESTIK

Isu kekerasan terhadap perempuan masih saja terus terdengar. Seperti yang dikatakan Meutia Hatta Swasono (ketika itu menjabat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan) saat membuka dialog ”Pemuda Membangun Peradaban Berkeadilan Gender” pada tanggal 23 April 2008 di Jakarta, :

” … setiap dua jam sekali ada perempuan dan anak yang jadi korban kekerasan dan kesewenang-wenangan. Korbannya beragam mulai istri, anak, pasangan pacaran, hingga pekerja rumah tangga.” (”Tiap Dua Jam”, 2008)

Menurut Meutia (dalam ”Tiap Dua Jam”, 2008), tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia lebih disebabkan adanya pola hubungan horisontal antar jenis kelamin yang masih memperlihatkan jarak sosial gender. Di sisi lain, di beberapa daerah yang masih kental nuansa budaya patriarki, suara perempuan dan anak-anak hanya didengar jika memang dikehendaki. Lebih lanjut Meutia Hatta Swasono (dalam Sihite, 2007) mengatakan bahwa kekerasan berakar dari berbagai bentuk penyimpangan dalam prinsip kesetaraan dan keadilan, seperti diskriminasi, marjinalisasi, stereotipe, dan juga nilai-nilai usang seperti feodalisme, patriarki dan hegemoni kaum laki-laki terhadap perempuan.
Senada dengan pernyataan di atas, Sri Wiyati Eddyono (dalam ”Keluar dari”, 2008), komisioner pada Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyatakan bahwa banyak faktor yang mendorong terjadinya tindak kekerasan domestik, tapi penyebab utamanya adalah relasi kuasa yang tidak setara. Suami dipandang sebagai pihak utama dalam keluarga. Suami atau laki-laki dianggap memiliki kekuasaan lebih besar ketimbang perempuan, sehingga posisinya lebih tinggi. Karena posisi sosial yang lebih tinggi, laki-laki seolah-olah mendapat legitimasi untuk melakukan kekerasan dengan alasan ”mendidik” atau ”membina” perempuan.
Menurut Constanzo (2006) kekerasan yang dilakukan dalam lembaga perkawinan ini merupakan masalah klasik yang telah terjadi berabad-abad lamanya, umumnya yang menjadi korban kekerasan adalah para istri yang seharusnya dilindungi dan menjadi tumpuan kasih sayang suami. Menurut Irianto dan Nurtjahyo (2006), karena jenis kekerasan ini masih dianggap sebagai urusan internal keluarga, maka seringkali pihak keluarga besar tidak tahu bahkan walaupun mengetahui tidak melakukan apa-apa.
Kekerasan yang dilakukan dalam ranah domestik ini biasa diistilahkan dengan kekerasan domestik atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kekerasan domestik yang dilakukan terhadap istri — disebut juga sebagai kekerasan terhadap perempuan — meliputi tindakan yang dimaksudkan untuk melukai perempuan sebagai istri, baik secara fisik, psikologis maupun seksual (Matlin, 2004). Lebih jelas disebutkan dalam Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan Pasal 1 (dalam Sihite, 2007) bahwa kekerasan terhadap perempuan :
”adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkinberakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi.” (Sihite, 2007; h.227)

Sama seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004, Harkristuti Harkrisnowo (dalam Martha, 2003) mengkategorikan Kekerasan terhadap perempuan (KDRT) ke dalam empat kategori yaitu: kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikologis/emosional dan kekerasan ekonomi.
Selama budaya patriarki masih diterjemahkan secara keliru, tentunya para perempuan masih akan terus menjadi korban dari kaum laki-laki pelaku kekerasan. Coba simak kesaksian Wati (bukan nama sebenarnya) yang menjadi korban kekerasan domestik (dalam ”RUU Anti Kekerasan”, 2002). Wati sering mendapat pukulan-pukulan dari suami keduanya yang tidak bekerja dan sering berjudi.
“Saya terima saja pukulan-pukulan itu karena katanya dalam agama perempuan itu harus patuh kepada suami. Tetapi, lama-lama saya enggak kuat.” (”RUU Anti Kekerasan”, 2002)

Wati, yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga akhirnya berani meninggalkan suaminya dan mengajukan cerai.
Faktor lingkungan budaya tidak hanya diyakini menjadi sumber penyebab terjadinya kekerasan domestik; upaya para perempuan untuk melepaskan diri dari kungkungan kekerasan domestik juga diyakini sangat ditentukan oleh faktor lingkungan budaya. Yahia dan Avidan (2001) menamakannya sebagai faktor ekologis. Dalam penelitiannya, Yahia dan Avidan (2001) menemukan bahwa pengambilan keputusan untuk bercerai pada perempuan yang mengalami kekerasan domestik sangat tergantung kepada konteks pengalaman mereka dan upaya untuk mewujudkan keputusan tersebut sangat bergantung pada kerangka faktor ekologis yang relevan. Secara spesifik, para perempuan tersebut menekankan pada faktor intrapersonal, interpersonal, struktur organisasional, dan faktor sosiokultural yang berhubungan dengan proses perceraian.
Pernyataan Mima (bukan nama sebenarnya) berikut ini menunjukkan betapa faktor sosiokultural sangat berperan dalam pengambilan keputusan untuk bercerai:
”Bingung juga Mima bu…. Ibu Enti (seorang ibu yang sangat dihormati Mima karena membantunya dalam mengupayakan modal usaha salon yang saat ini dijalankannya. Pen.) bilang, jangan cerai kau Mim, jangan… kasian anak-anak. Jangan sekali-sekali berpikir untuk bercerai. Pikirkan statusmu dan status anak-anak. Mendingan kondisinya kayak sekarang. Mima masih punya suami, dan anak-anak masih punya bapak,. Kalau udah cerai udah sendiri-sendiri. Anak-anak terpisah dari bapaknya… ”. (Komunikasi personal, 10 Januari 2008)

Kutipan di atas menunjukkan adanya dinamika yang umum terjadi pada pola pikir para perempuan yang terjebak dalam kekerasan domestik, dimana mereka perlu dibantu untuk menyadari bahwa isi-isi pikiran mereka tidak sepenuhnya benar; dan bahwa mereka perlu disadarkan akan kondisi yang sebenarnya terjadi. Menurut Walker (dalam Constanzo, 2006), perempuan yang terjebak dalam kekerasan domestik mengalami ”learned Helplessness” (belajar menerima ketidakberdayaannya) dan menjadi submisif (penurut). Artinya, dari waktu ke waktu, wanita yang mampu bertahan menghadapi penganiayaan jangka panjang menyerah pada penderitaannya dan tidak mampu menolak atau meninggalkan penganiayanya.
Lebih lanjut menurut Walker (dalam Krahe, 2001; Constanzo, 2006) pola interaksi pasangan yang berkelanjutan yang membentuk suatu siklus tiga fase berulang ini dinamakan dengan ”siklus kekerasan”. Fase pertama dalam siklus ini dinamakan ’Tahap Membangun Ketegangan’ (Tension Building Phase). Fase 2 dinamakan fase ‘Insiden Penyiksaan Akut’ (Acting-Out Phase/battering). Fase 3 merupakan ‘Tahap Tenang’ (Honeymoon Phase/contrition). Siklus ini menyebabkan korban kekerasan mengalami apa yang diistilahkan dengan Battered Woman Syndrome (BWS) dimana korban terperangkap dalam kondisi kekerasan. Penderita BWS akan bertahan menghadapi penganiayaan jangka panjang dan menyerah pada penderitaannya serta tidak mampu menolak atau meninggalkan penganiayanya (Wrightsman dan Fulero, 2005; Walker dalam Bartol & Bartol, 1994).
Kisah berikut menggambarkan fase honeymoon dalam suatu siklus kekerasan:
”Dua hari aku diam. Dia berusaha merayuku, memelukku atau apalah. Aku sangat marah. Aku tak mau kata maafku sekadar jadi barang murahan seperti biasanya. Sore ini tak kusangka istri dosenku, Rosa, datang ke rumah dengan sahabat-sahabatku. Ibam ternyata meminta tolong padanya untuk meminta maaf dan menyampaikan penyesalannya padaku. Aku trenyuh. Hatiku luluh begitu saja. Karena ini usahanya yang paling luar biasa. Malamnya tanpa kata dia memelukku. Dia tak pernah menjelaskan tentang Rosa dan akupun tak menanyakan demi menjaga harga dirinya.” (Siswanti, 2007. h. 186)

Sebagian besar perempuan menjadi korban kekerasan secara berkesinambungan. Pola pengulangan kekerasan paling sering dijumpai, walaupun sebenarnya tidak berlaku universal (Anderson & Schlossberg; L.E.A. Walker; Wallace dalam Matlin 2004).

Model Resiliensi sebagai Solusi
Karena keprihatin pada masalah yang berkenaan dengan kekerasan domestik, banyak ahli tertarik untuk melakukan studi tentang hal ini. Pada masa-masa sebelumnya penelaahan lebih difokuskan pada masalah dan upaya menelaah sisi gangguan dari para penderitanya (model patologis). Saat ini para ahli lebih memusatkan perhatian pada kemampuan untuk upaya membangun kekuatan (model resiliensi). Model patologis lebih memfokuskan perhatian pada kelemahan individual sementara model resiliensi lebih berfokus pada upaya membangun kekuatan individu sehingga penderitaan dapat dihadapi dan diatasi (Grothberg, 1999).
Model resiliensi menawarkan dua pesan utama yaitu, adversity tidak secara otomatis mengarahkan pada disfungsi namun dapat memberikan berbagai hasil positif bagi pengalaman individu (Henderson dan Milstein, 2003). Manusia perlu memperjuangkan tingkat pertumbuhan yang lebih maju agar dapat merealisasikan atau mengaktualisasikan semua potensinya (Schultz, 1991). Kemampuan untuk bereaksi secara positif sangat dibutuhkan oleh para perempuan korban untuk dapat terlepas dari kungkungan kekerasan domestik.
Menurut Reivich dan Shatté, 2002, kemampuan untuk bangkit dari penderitaan (adversity) dinamakan kemampuan resiliensi. Kemampuan ini dapat dipelajari. Reivich dan Shatté (2002) mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan individu untuk melakukan respon dengan cara yang sehat dan produktif ketika berhadapan dengan adversity atau trauma, dimana hal tersebut sangat penting untuk mengendalikan tekanan hidup sehari-hari. Dengan demikian, resiliensi sangat dibutuhkan oleh para perempuan untuk dapat terlepas dari kungkungan kekerasan domestik.
Victor Frankl (2003) dalam ”Men Search for Meaning”, menuliskan bahwa manusia memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan kesulitan hidup. Kemampuan untuk menanggungnya, meneruskan pencarian makna hidup, dan mungkin juga untuk tetap berkembang dengan baik, dalam kondisi trauma maupun penderitaan yang luar biasa. Bila manusia tetap mampu berkembang dengan baik dalam kondisi adversity, hal ini menunjukkan kemampuannya dalam melakukan penyesuaian secara positif dalam kehidupannya. Penyesuaian positif (positive adjustment) didefinisikan bukan hanya dalam kerangka rendahnya sisi patologis, pencapaian tertentu dalam sejarah perkembangan psikososial, hasil rata-rata menurut statistik, impian akan tercapainya aktualisasi diri; akan tetapi juga mencakup kemampuan untuk bernegosiasi dengan krisis perkembangan hidup (Ogbu; Masten; Ungar; Walsh dalam Schoon, 2006).
Berikut sebuah kutipan wawancara dengan Iv (bukan nama sebenarnya), seorang korban yang mengambil keputusan bercerai sebagai usahanya untuk keluar dari kekerasan domestik,
”Saya masih sabar waktu dia terus menyiksa saya, tapi waktu dia bilang saya perempuan gak tau diuntung dan mengancam mau mindahin kerjaan saya ke Nias, saya jadi sangat terpukul. Dia gak pantas bilang gitu. Dia benar-benar gak menghargai saya padahal di lingkungan saya bahkan orang-orang penting di tempat kerja saya masih menghargai saya. Kata-katanya mendorong saya untuk memutuskan bercerai. Saya harus berani ngambil jalan sendiri demi masa depan saya dan anak saya”. (Komunikasi personal, 14 Februari 2008)

Pada dasarnya, untuk dapat lepas dari kungkungan kekerasan domestik tidak harus mengambil keputusan bercerai. Resiliensi pada dasarnya bertujuan untuk menghentikan tindak kekerasan yang bersumber dari kontrol patriarkal (De Guzman, 1996). Mereka yang mampu keluar dari adversity dikatakan telah memiliki resiliensi. Hasil penelitian Maria Elena De Guzman (1996) terhadap perempuan korban kekerasan domestik dengan menggunakan pendekatan konseling menunjukkan adanya pola resiliensi yang kuat di antara para korban. Secara umum temuannya adalah sebagai berikut :
1. Korban berjuang keras untuk mendapatkan perdamaian. Tidak harus meninggalkan suami, namun membuat suami bersedia mendengar dan membicarakan perubahan yang harus dilakukan oleh suami.
2. Korban berhasil keluar dari rasa takutnya dan menemukan gairah untuk berjuang.
3. Korban bekerja keras mempertahankan pekerjaannya sambil tetap melakukan tugas-tugas rumahtangga.
4. Korban terus berusaha merubah keyakinan tentang budaya patriarkal yang ditanamkan suami pada anak-anak.
5. Korban berhasil menurunkan kebiasaan ¬mengkonsumsi alkohol.
6. Korban berhasil meningkatkan rasa percaya dirinya sehingga berani melakukan konfrontasi dengan suami.

Para korban akhirnya menyadari bahwa mereka memiliki kekuasaan yang setara dengan suami, berbeda dengan apa yang dipesankan oleh teman-teman, keluarga dan masyarakat pada umumnya (De Guzman, 1996).
Munculnya minat para ahli untuk meneliti resiliensi adalah karena ditemukannya bukti-bukti penelitian secara akumulatif yang menunjukkan adanya pencapaian yang positif dalam perkembangan manusia meskipun mengalami adversity dalam konteks yang bervariasi (Anthony; Garmezy; Rutter; Werner et al. Dalam Schoon, 2006).
Proses pencapaian positif ini tentunya melibatkan beragam faktor yang melekat pada diri manusia. Zimmerman dan Arunkumar (dalam Mash dan Wolfe, 1999) mengatakan bahwa anak yang mampu selamat dari lingkungan penuh resiko adalah mereka yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, ketrampilan coping, serta mampu menghindari situasi beresiko, mampu bertarung dan bangkit dari ketidakberuntungannya.
Disamping itu, untuk mencapai resiliensi dibutuhkan orang-orang yang signifikan untuk membantu pencapaiannya, salah satunya adalah keluarga. Seseorang tidak akan mampu mencapai resiliensi seorang diri. Dibutuhkan orang-orang lain yang signifikan untuk bisa membantu individu memiliki resiliensi. Salah satunya adalah keluarga, keluarga merupakan sistem pendukung bagi setiap anggota keluarganya dan merupakan “kendaraan” menuju individual resilience (Vanbreda, 2001). Schoon (2006) mengatakan bahwa resiliensi didasarkan pada hubungan timbal-balik dan dua arah antara individu dan lingkungannya. Konteks lingkungan ini menurut Bronfenbrenner mencakup keluarga, neighbourhoods, institusi, dan konteks sosio-historis.
Pentingnya dukungan sosial dalam resiliensi digambarkan Rosalind B. Penfold – seorang perempuan yang terjebak dalam siklus kekerasan domestik – yang menyatakan sebagai berikut :
”Aku takkan berhasil tanpa cinta dan dukungan keluargaku dan orang-orang yang membuat komposit ”Sage” dalam buku ini – mereka tahu siapa mereka. Yang terpenting, ini untuk anak-anak yang membuat aku berjanji akan memutuskan siklus ini.” (Penfold, 2006. h. 257)

Penfold berhasil keluar dari siklus kekerasan domestik dan menerbitkan sebuah graphic memoir (buku harian dalam bentuk gambar) yang ia buat dalam perjalanan hidupnya sebagai korban kekerasan domestik.
Namun demikian, Judith Herman (1997) mengatakan bahwa prinsip recovery yang utama adalah pengerahan sumber daya survivor. Survivor sendirilah yang harus menciptakan dan mengontrol kesembuhannya. Orang lain dapat saja menawarkan saran, dukungan, pendampingan, kasih sayang dan perhatian, namun mereka tidak dapat memberikan kesembuhan .
Orang yang memiliki resiliensi mampu memonitor dan meregulasi emosinya serta memonitor kondisi emosi orang lain. Faktor lingkungan pada masa kanak-kanak, seperti kemelaratan, perceraian, orangtua yang mengalami gangguan mental, atau kondisi buruk lainnya hanyalah merupakan sejarah. Faktor-faktor tersebut tidak dapat diubah, namun keyakinan dapat diubah dan kemampuan dapat ditingkatkan (Reivich dan Shatté, 2002).

DAFTAR PUSTAKA

Henderson, N. dan Milstein, M.M. 2003. Resiliency in Schools. Making it Happen for Students and Educators. California, USA : Corwin Press, Inc.

Irianto, S. dan Nurtjahyo, L.I. 2006. Perempuan di Persidangan. Pemantauan Peradilan Berperspektif Perempuan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

“Keluar dari Jerat Kekerasan”. April 2008. Pesona No. 4 hal. 50 – 51.

Krahe, B. (2001). Perilaku Agresif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Martha, A.E. 2003. Perempuan Kekerasan dan Hukum. Yogyakarta: UII-Press.

Matlin, M. W. 2004. The Psychology of Woman. USA : Wadsworth. Thomson Learning.

Penfold, R.B. 2006. Love Me Better. Kisah Nyata Seorang Wanita yang Terperangkap Kekerasan dalam Rumahtangga. Sebuah Graphic Memoir. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Reivich, K. dan Shatté, A. 2002. The Resilience Factor. 7 Essential Skills for Overcoming Life’s Inevitable Obstacle. New York, USA : Broadway Books.

“RUU Anti Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Upaya Menghapus Kekerasan di Lingkup Domestik”. 2002. Kompas Cybermedia. Jakarta : PT. Kompas Cybermedia. Updated 26 Mei 2003. http://64.203.71.11/Kompas-cetak/0305/26/Swara/330360.htm

Schoon, I. 2006. Risk and Resilience. Adaptation in Changing Times. New York, USA : Cambridge University Press.

Schultz, D. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Model-model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Sihite, R. 2007. Perempuan, Kesetaraan, Keadilan. Suatu Tinjauan Berwawasan Gender. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Siswanti, E.D. 2007. Diari, Suara Hati Perempuan. Hasan, N.L., Indra R., D., Novieta H., D., Vini S., T. (Eds). Perempuan di Rantai Kekerasan. Jakarta : Esensi. Erlangga Group.

“Tiap Dua Jam, Anak dan Perempuan Alami Kekerasan”. 2008, 24 April. Waspada.

Vanbreda, A.D. 2001. Resilience Theory: A Literature Review. http://www.vanbreda.org/adrian/resilience.htm

Wrightsman dan Fulero. 2005. Forensic Psychology. Belmont, CA-USA : ThomsonWadsworth.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s