Libur Lebaran di Sumatera Barat

Libur Lebaran/Idul Fitri (lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Eid_ul-Fitr) kali ini diisi keluarga besar dengan sesuatu yang berbeda. Bila di masa kecil saya libur Idul Fitri dihabiskan  di kampung halaman untuk bertemu kakek nenek, di masa-masa sesudahnya dihabiskan untuk bersilaturrahim pada kerabat dan relasi. Titik kumpul utamanya adalah di rumah orangtua saya yang kebetulan dituakan oleh para kerabat dan banyak relasi. Setelah saya dan saudara-saudara kandung berumahtangga, orang tua mengisi beberapa Idul Fitrinya dengan berumroh ke tanah suci, sehingga kami anak-anaknya harus membuat acara sendiri untuk mengisi lebarannya dengan keluarganya masing-masing. Bila orangtua tidak sedang umroh, maka seperti biasa acara silaturahim lebaran tetap berjalan seperti biasa dengan titik kumpul di rumah orangtua.

Lebaran kali ini berbeda. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke Sumatera Barat (lihat:http://en.wikipedia.org/wiki/West_Sumatra) setelah setengah hari pertama di 1 Syawal bersilaturrahim ke beberapa kerabat dekat di kampung halaman serta berziarah ke makam kakek-nenek, baik dari pihak ayah maupun ibu. Perjalanan dari Medan (tempat tinggal saya) ke Sumatera Barat memang harus melalui kampung halaman saya di wilayah Tapanuli Selatan dan Mandailing.

Inilah kali pertama kami mengisi libur lebaran dengan acara jalan-jalan sehingga menuai kesan tersendiri atas fenomena libur lebaran di daerah yang berbeda. Tentunya berbeda dengan situasi di daerah asal saya di Sumatera Utara. Tentu berbeda pula dengan situasi liburan di waktu-waktu lainnya dimana biasanya kami menghabiskan masa liburan dengan traveling (libur semesteran atau libur natal dan tahun baru).

Melintasi wilayah Sumatera Barat bukanlah sesuatu yang asing bagi saya; tapi khusus menghabiskan masa liburan memang baru kali ini. Saya pernah berlibur di Bukit Tinggi di masa kecil dan beberapa kali di masa-masa sesudahnya, tapi tidak ke kota lainnya. Saya juga pernah menyempatkan mengambil foto di danau Singkarak, ketika melintasi jalan lintas Barat Sumatera menuju Jakarta atau Sumatera Selatan.

Karena tujuan kali ini memang berlibur, maka perjalanan menjadi lebih dinikmati, kesan yang ditangkap juga menjadi lebih luas dan bervariasi. Kesan pertama tentang Sumatera Barat: “Tampaknya lebih maju dari Sumatera utara”. Begitu memasuki wilayah Sumatera Barat, kami langsung disambut bentangan jalan raya yang mulus dan rapi. Sangat berbeda dengan kondisi jalan lintas di wilayah Sumatera Utara. Sayangnya, kondisi jalan yang bagus ini tidak terus ditemukan, pada beberapa bagian jalan masih ditemukan kondisi jalan kelas III (menurut papan petunjuk setempat); walaupun secara umum masih tetap lebih baik daripada kondisi jalan di Sumatera Utara. Berjalan lebih jauh lagi memuaskan kerasa hauskita akan pemandangan hijau. Sumatera Barat benar-benar memamerkan kekayaan alam yang memukau. Subur dan hijau. Di sela kehijauan dan perbukitan indah, tersembul sungi-sungai jernih dengan bebatuan yang masih terjaga. Jadi teringat sungai jernih dari masa kecil di kampung halaman,yang saat ini tinggal kenangan.

Memasuki Bukit Tinggi (lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Bukittinggi), kota ini berhasil membuktikan banyaknya pelancong yang masuk. Hotel-hotel dan penginapan penuh tak bersisa. Untung kami sudah booking jauh-jauh hari sebelumnya.  Jalanan di seputar kota — terutama di sekitar Jam Gadang dan Panorama/Ngarai Sianok – padat merayap. Lingkungannya cukup terjaga sehingga bisa jadi lebih punya daya jual dibanding objek wisata di Sumatera Utara.

Dari Jam Gadang kami beranjak ke Danau Singkarak (lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Lake_Singkarak). Ada fenomena sosial menarik yang dapat ditangkap dari sini. Pelancong lokal bertebaran di sepanjang pinggiran danau Singkarak. Luar Biasa padatnya. Jalur lintas propinsi luar biasa padat. Saya belum pernah melihat fenomena semacam ini di Sumatera Utara ataupun di Sumatera Selatan – dimana saya pernah menghabiskan masa-masa liburan Idul Fitri. Inilah mungkin gambaran dari mobilitas masyarakat Minang yang suka merantau (baca: travelling). Danau ini sungguh mempesona. Sayangnya kurang dikembangkan menjadi objek wisata berkelas nasional, apalagi internasional, sedangkan potensinya sangat memungkinkan untuk itu.

Padatnya lalu lintas dan beberapa kali tersasar membuat perjalanan menjadi lambat. Kami baru sampai di objek wisata berikutnya (Istano Basa Pagaruyung/Istana Besar Pagaruyung) setelah menjelang malam; akibatnya keindahan istana yang sedang direnovasi ini menjadi kurang dapat dinikmati sepenuhnya. Namun demikian, tak urung semua merasa takjub akan kemegahan Istana yang telah beberapa kali direplika setelah beberapa kali kena musibah kebakaran itu (lihat: http://id.wikipedia.org/wiki/Istano_Basa).

Kembali ke Bukit Tinggi menjadi perjalanan yang sangat melelahkan. Kemacetan menuju semua penjuru kota di Sumetera Barat macet total. Betapa libur Idul Fitri menggambarkan mobilitas masyarakat Sumatera Barat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s