Ibu: Pembentuk Sosok Lelaki Indonesia

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul  ‘Lelaki Indonesia’. Kali ini saya coba kaitkan dengan sosok Ibu yang tentu saja memiliki peran besar dalam pembentukan kepribadian seorang lelaki. Seorang lelaki lahir dari rahim seorang ibu dan pada umumnya dididik oleh ibu yang telah melahirkannya.

Let’s talk about it then. Saya akan membuka dengan ilustrasi tentang curhat seorang ibu dalam beberapa sesi pertemuan dengan saya. Ibu tersebut mengeluhkan tentang hubungan yang sangat buruk antara suaminya dengan anak-anaknya. Menurutnya, suaminya gagal membangun komunikasi dengan ketiga putra mereka, terutama dalam membangun  keakraban dan berbincang dari hati ke hati.

Bagaimana bentuk komunikasi antara orang tua dengan anak tentu saja akan berpengaruh bagi perkembangan psikologis anak tersebut. Kembali pada ibu yang saya ceritakan sebelumnya; menurut ibu tersebut, dampak buruk dari hubungan ayah dan anak-anaknya sudah terlihat pada putra sulungnya yang berperilaku buruk dan sulit diarahkan. Alih-alih membahas tentang persoalan komunikasi antara ayah dan anak, yang kemudian menjadi pertanyaan si ibu adalah seperti apa bentuk didikan yang telah diterima sang suami dari ibunya di masa lalu.

Pada tulisan saya tentang ‘Lelaki Indonesia’, saya juga memaparkan tentang kerabat yang mencurahkan isi hati tentang suami yang menurutnya tidak pernah dewasa. kerabat tersebut meminta saran tentang apa yang harus ia lakukan bila dalam rumah tangganya yang tidak dikaruniai anak harus dihadapkan pula pada hubungan yang tidak harmonis dengan pasangan hidupnya. Segudang keluhan pun mengalir dari bibir kerabat saya itu.

Semuanya hanyalah sebagian dari isi curhat segelintir orang dan hanya mewakili sebagian kecil dari segudang kekecewaan yang dirasakan atas sikap dan perilaku para lelaki, sebagai hasil didikan para ibu. Dari perbincangan tersebut saya menyimpulkan bahwa isu mengenai lelaki Indonesia ini hendaknya menjadi sebuah renungan. Bukan hanya bagi para lelaki, tetapi juga bagi para perempuan yang kelak akan menjadi ibu dan pendidik anak lelaki Indonesia. Para ibulah yang akan mempersiapkan mereka menjadi lelaki seutuhnya yang didambakan para perempuan sebagai istri dan sebagai ayah bagi putra-putrinya. Saya ingin menitikberatkan pada peran ibu sebagai ujung tombak pendidik cikal-bakal para Lelaki yang kelak akan menjadi panutan dan pemimpin dalam rumah tangganya.

Yang terjadi pada umumnya adalah bahwa para lelaki justru dididik menjadi anak kesayangan ibu yang sangat bergantung pada ibunya. Ada beberapa contoh buruk perilaku laki-laki yang saya paparkan pada tulisan sebelumnya. Misalnya saja tentang keegoisan lelaki. Meski seolah dimahfumi bahwa lelaki dikenal sebagai makhluk egois, namun sebagai manusia dewasa lelaki juga dituntut untuk mampu berempati dan berbagi serta menjauhkan sifat egocentris. Mengenai tingkat kedewasaan dan kematangan emosi, fakta yang ditemukan adalah adanya kecenderungan pada para lelaki yang kurang mampu mengontrol emosinya. Laki-laki Indonesia seringkali memperkuat posisi superiornya dengan cara yang tidak elegan, yaitu dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Meski tulisan ini hanya didasarkan pada pengamatan dan curhatan para perempuan, namun penelitian-penelitian tentang agresifitas juga membuktikan asumsi ini.

Mengapa bisa terbentuk berbagai sikap dan perilaku buruk tersebut? Karena lelaki memang tidak dididik oleh kebanyakan ibu untuk menjadi dewasa. Para ibu seringkali memperlakukan anak lelaki mereka sebagai anak emas dalam keluarga. Anak istimewa yang harus selalu diladeni dan dihormati. Akibatnya mereka tidak pernah terlatih untuk mandiri dan menjadi dewasa. Bahkan jika mereka sudah menjadi sukses, mapan dan bekedudukan, dalam usia yang sudah matang, tetap saja tidak diikuti dengan kematangan dalam bersikap terutama terhadap pasangannya.

Para lelaki Indonesia umumnya memang tidak dipersiapkan menjadi suami yang baik oleh para ibu Indonesia. Sementara dalam mempersiapkan anak-anak perempuannya para ibu cenderung sangat konsisten. Konsisten mempersiapkan anak-anak perempuan sejak dini untuk menjadi istri yang baik, untuk menjadi istri dambaan bagi para suami, kelak di kemudian hari.

Para ibu harus merumuskan ulang pemahaman akan sosok utuh seorang lelaki, agar mereka mampu mendidik anak lelaki mereka menjadi sosok yang mengagumkan. Kita akan selalu meyakini bahwa karena kekuatan cinta, seorang ibu akan mampu melakukan hal luar biasa. Mampu membentuk anak-anaknya untuk menjadi orang-orang yang luar biasa, tidak hanya terhadap anak perempuannya, tetapi juga terhadap anak-anak lelakinya. Anak lelaki tidak hanya perlu dididik untuk sukses secara finansial, tetapi yang paling penting adalah untuk sukses menjadi manusia seutuhnya. Menjadi bapak ideal bagi anak-anaknya, suami ideal bagi pasangannya, yang memiliki empati, kontrol emosi yang baik dan kematangan pribadi yang mengagumkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s